Tak ada orang yang terlahir malas

Written by Sachdar Gunawan | Friday, February 23, 2007 | | 4 Comment »

Tak ada orang yang terlahir dengan sifat malas. Sifat manusia selalu ingin melakukan sesuatu kecuali jika sakit. Pertanda kita pasti mulai pulih dari suatu penyakit adalah keinginan untuk bangun, jalan-jalan, kembali bekerja, melakukan sesuatu, atau apa saja yang menjadi harapan kita.

Ketidakaktifan menyebabkan rasa bosan, dan bosan menyebabkan kemalasan. Begitu juga sebaliknya, aktivitas menimbulkan minat, dan minat membangkitkan semangat juga ambisi. Maka jangan biarkan diri kita diam, gerakkanlah fisik kita, pancinglah otak kita untuk berpikir, lakukan aktivitas yang bisa menggerakkan diri kita, buat inovasi baru, niscaya kita akan jauh dari kebosanan.

Diri kita juga akan menjadi malas, bila kita belum menemukan apa yang paling kita sukai, mungkin kita telah melakukan suatu aktivitas, tapi lambat laun kita akan menjadi malas, karena apa yang kita lakukan bukanlah hal yang kita sukai. Cari aktivitas yang kita sukai, lakukan dengan konsekuen dan hati senang, sekali lagi, lakukanlah!

Tidak ada orang yang terlahir malas, kecuali karena sakit atau belum menemukan sesuatu yang disukai. Coba periksa hal terbaik yang bisa kita lakukan dan apa yang ingin kita lakukan. Lalu kembangkan hasrat yang membara untuk menjadi yang terbaik. Dan segera bertindak.

Jangan Jatuhkan Diri Kita

Written by Sachdar Gunawan | Thursday, February 22, 2007 | | 0 Comment »

Di bawah langit cerah dan sinar terang bulan purnama,

mestinya banyak yang bisa terbang bebas di bawah cakrawala

Laron-laron terbang dan melemparkan diri mereka sendiri kedalam nyala api

Di musim semi yang cerah dan rerumputan hijau,

banyak sekali yang bisa dipatok dan dimakan

Burung hantu lebih suka daging tikus busuk?

Di dunia ini ada berapa banyak yang tidak seperti laron dan burung hantu?

Hidup itu seperti langit dan laut luas tanpa batas yang membuat orang-orang bisa bergerak bebas, kecuali orang-orang yang mengikat diri mereka sendiri. Dalam mengejar status dan kekayaan, mereka mengundang kejatuhan sendiri, sama seperti laron yang tertarik pada sinar terang, sesuatu yang terang belum tentu kebahagiaan, bisa jadi itu merupakan jebakan, harta yang berlimpah, jabatan yang menjanjikan, serta wanita cantik, bisa menjadi sumber yang terang, tapi kita harus waspada terhadap itu, jangan terlena dengan keindahannya, jangan berani menyentuhnya jika kita belum tau yang sebenarnya.

Ketika kita memutuskan untuk memiliki harta yang tidak ternilai jumlahnya, akan mengubah pertanyaan kita yang dulu ”hari ini harus mencari uang kemana?” akan menjadi “hari ini kemana harus menghabiskan uang?” dan hal-hal yang sebelumnya terkekang, keinginan-keinginan terselubung akan bangkit, tatkala modal utama untuk pelampiasan telah ada [uang], uang memang bukan segalanya, tapi tetap segalanya butuh uang. Bila uang mendominasi kita, siap-siaplah akan kejatuhan kita. Sama seperti saat kita menaiki gunung tertinggi, tentunya butuh perjuangan yang berat, dan daya tahan yang handal, tetapi bila sesampainya di puncak dan terlena akan kebanggan diri, lengah dan akhirnya kita bisa jatuh dari puncak tertinggi itu.

Taman Angkara

Written by Sachdar Gunawan | Wednesday, February 21, 2007 | , | 0 Comment »

Sekuntum anggrek taman, semerbak wanginya mengharumi petak tanah yang hanya seluas tiga kubur masa, dari banyak tangkai yang tumbuh, hanya satu yang menyumbulkan bunganya. Di sampingnya, teratai senja menguncup kecil, menyumpil diantara dedaunan, warnanya yang kusam, menampakkan ketidakberaniannya menyaingi anggrek merah itu. Di sekitar taman itu, ada juga ilalang dan rumput liar menjalari pagar setaman, diantaranya parasit hitam, dengan ganas mencaploki tanaman lemah yang merintangi raungannya menuju anggrek itu. Mawar indah nan berduripun tidak sanggup menahan serangan parasit busuk itu.

Pergulatan wisata jiwa para makhluk penjalar, merupakan persaingan antara kedukaan dan keserakahan serta kebebasan, setonggak bambu patah, menjadi saksi sejarah pergumulan di taman itu, perang sutra telah dimulai sejak awal dasawarsa lalu, hari ini adalah puncak dari ketragisan semasa, mata jiwa tiap pendewa menyuarakan ketidakadilan perusak taman, setiap jiwa mewakili ketidakpuasan tanduk para penyabot yang mengaku dirinya sebagai penguasa.

Hingga petang itu, belum ada satupun penjalar yang mengangkasakan dirinya ke puncak kemenangan, mereka tidak menyadari kemenangan yang teraih nanti adalah awal dari kepunahan peradaban mereka. Kambing hitam yang mengemudikan situasi tertawa kegirangan tatkala para penjalar berebut ramai sampai mengotori taman senja itu. Sedari tadi, kambing-kambing itu mengeluarkan doktrin bejat yang membuat suasana taman itu menjadi hiruk, hanya saja para penzina jiwa terlena dengan kebejatan abstrak itu, sehingga, mereka menjadi semakin gila dengan keangkuhannya yang hanya semata kaki.

Perahan air mata menghiasai pertumpahan harga diri para pelaku angkara, diantaranya ada yang menjerit keras menahan pedih yang memerih, pekikan semangat untuk memburu mangsa mendominasi keheningan di taman itu. Apakah itu sebuah penindasan, ataukah hanya perampokan moral, hmm.... sepertinya bukan, situasi itu tidak lebih dari pemuasan nafsu belaka, nafsu yang menjelma menjadi monster besar berlambang kemunafikan. Monster itu telah menguasai tiap jiwa para pelaku angkara.

Sukses dan Kekurangan diri

Written by Sachdar Gunawan | Tuesday, February 20, 2007 | | 0 Comment »

Satu hal yang menjadi pertanyaan dalam hidup adalah mengenai sukses. Mengapa ada orang sukses, dan tidak sukses? Pertanyaan ini terdengar mudah, tapi sebenarnya memang tidak sulit, dengan catatan kita memahami filosofinya. Kuncinya adalah interospeksi diri, dan pada dasarnya ada tiga model manusia.

1. Ada orang yang tidak tau kekurangan yang ada pada dirinya, sehingga tidak tau cara menutupi kekurangannya, ini yang kita sebut orang bodoh
2. Ada orang yang tau kekurangan yang ada pada dirinya,. Tapi tidak tau cara menutupi kekurangannya, kita menyebutnya kurang pintar
3. Ada juga orang yang tau kekurangan yang ada pada dirinya, dan tau cara menutupi kekurangannya, inilah yang kita sebut orang bijak

Dan dari ketiga hal di atas mana orang yang bisa mencapai suksesnya? tentunya kita akan memilih no tiga, dan alasan itu cukup logis, serta bisa diterima. Sebagai contoh, misalkan kita sangat menginginkan untuk bisa mengoperasikan komputer, tapi kita merasa tidak dapat mengoperasikan komputer dan kita menganggap hal itu sebagai salah satu kekurangan yang ada pada diri kita, maka kalau kita cerdas, Kita akan berusaha menutupi kekurangan kita, dengan cara belajar mengoperasikan komputer, membeli buku-buku tentang komputer, bertanya kepada teman yang lebih mengerti komputer, hingga hingga akhirnya kita bisa, bahkan ahli mengoperasikan komputer.

Kesimpulannya, kita harus sering melakukan interospeksi diri, dimanapun, sampai kapanpun. Selain itu kita juga harus meningkatkan motivasi pada diri kita untuk mencari solusi yang tepat guna pengembangan potensi diri, Sehingga nantinya menjadi orang yang kaya akan ilmu pengetahuan dan pengalaman.

Perawan Senja

Written by Sachdar Gunawan | Monday, February 19, 2007 | , , | 0 Comment »

Ketika alam menyambut senja, terlihat seorang hawa sedang menengadahkan wajahnya, terbesit makna yang dalam sekali kala ia mengartikan pesona langit. Dirinya memuncak kagum mensyukuri garis-garis kehidupan, lamunannya yang sesaat mensyiratkan betapa kecil dirinya dihadapan Tuhan-nya. Saat itu ia memang sedang lelah, ia sedang mengistirahatkan buah pikirnya, saat itu ia memang sendiri, tapi sendirinya bukan berarti sepi.

Kesendirian yang menghampirinya tidak membuatnya gelisah, justru hal itu semakin menguatkan batinnya, sebenarnya ia tidak sepenuhnya sendiri, karena ia habiskan waktunya untuk beraktivitas, aktivitaslah yang menemaninya. ia selalu berbuat sesuatu yang bisa membuat hatinya bebas, bebas dari rasa kesepian, bebas dari kungkungan yang membingkai dirinya. Ia selalu berusaha melakukan sesuatu yang bisa berarti untuknya dan orang sekitarnya.

Ia adalah seorang yang egois, bahkan sangat egois, tapi egois dalam mempertahankan prinsipnya, prinsip untuk menjaga dirinya dari segala keangkaramungkaran dan kenistaan dunia, ia memayungi dirinya dengan iman, ia melindungi dirinya dari cinta picisan, yang hanya mempecundangi dirinya.

Sesuatu yang berharga yang terdapat pada dirinya masih utuh dan terjaga dengan baik, terbungkus dengan rapi, bak mawar yang terlindungi oleh durinya. Ia mempertahankan itu semua dengan menutup semua inderanya. Ia menutup matanya dari visual yang mengundang syahwat, ia menutup telinganya dari kebejatan nafsu manusia, ia menutup hatinya dari segala sesuatu yang mengundang birahi. Itu merupakan nilai lebih yang ada pada dirinya, dialah mutiara di dasar laut yang menjadi dambaan para pencari perhiasan dunia,

Sungguh tidak layak jika dirinya dibandingkan dengan wanita pasaran, yang mengobral diri mereka dengan gelimang harta atau tahta, sungguh dirinya tidak sebanding dengan para pengobral mahkota jiwa. Ia adalah sosok seorang kasih yang hanya memberikan cinta sejatinya kepada pasangan sejati. Ia hanya akan melepaskan mahkotanya kepada seorang adam yang sudah sah sebagai pasangan hidupnya di hadapan Tuhan.

Berapa banyak hawa yang sepertinya, berapa banyak hawa yang memiliki pesona sepertinya, mereka ada tapi tak nampak, mereka hanya terlihat jika kita menggunakan kacamata iman, dan tidak semua adam bisa memanfaatkan kacamata itu.

Benarkah dirinya menjadi minoritas di alam dunia ini? Bila seperti itu, alangkah sulitnya mencari insan sejati seperti dirinya. Tapi, tidak usah khawatir, wahai kaum adam! Kita harus yakin, jika kita berusaha menjadi yang terbaik, Tuhan akan memberikan kita yang terbaik juga.

Pengemis Tua

Written by Sachdar Gunawan | Friday, February 16, 2007 | , | 0 Comment »

Sudah tiga tahun sejak pertama kali ia menginjakkan kakinya di kota besar ini, ia merasa usaha maksimal yang bisa dilakukan hanyalah dengan cara ini, tidak peduli berapa kali makian dan hinaan yang ia terima dari orang-orang yang melihatnya, atau dari orang-orang yang ia pintai. Hanya dengan cara ini ia bisa menghidupi anak dan istrinya di kampung, hanya dengan cara ini ia bisa bertahan hidup.

Suaranya yang lirih menjadi karakter khasnya dalam bekerja, mukanya yang pucat pasi, memelas peluh, menjadi modalnya dalam beraksi, penampilannya yang compang-camping, merupakan pakaian kebesarannya dalam mengais rezeki.

Terkadang ia harus melakukan aktivitasnya di terik panas matahari yang membuat tubuhnya bermandi keringat, kadang juga ia harus berbasah-basahan karena hujan, “ya itung-itung menghemat uang, biar ga usah mandi di toilet umum” pikirnya. Asap knalpot yang mengepul tebal, dan mengenai muka kotornya menjadi santapannya sehari-hari, debu-debu jalanan menjadi teman akrabnya, ia menjadi terbiasa dengan itu semua, ia menganggap semua itu adalah resiko yang harus di ambil.

Ia sama sekali tidak menyalahi orangtua yang melahirkannya, ia juga tidak menyalahi Tuhan yang telah menciptakannya, tapi entah, Tuhan mana yang ia yakini, ia hanya meniatkan dirinya untuk bekerja, berhidup, lalu bekerja lagi. Ia hanya meyakini bahwa hidup itu harus dijalani, bukan ditangisi, karena jika memutuskan untuk hidup, kita harus hidup, dan untuk hidup kita harus bergerak, tapi saat itu ia tidak tahu, apakah usaha yang selama ini dilakukan merupakan hal yang terbaik, tapi ia tidak memusingkan hal itu, “bisa makan aja udah bersyukur” katanya.

Hanya dua kali dalam sehari ia mengisi perutnya dengan nasi, ia selalu memaksimalkan porsi nasinya supaya mendapatkan tenaga yang ekstra, saat malam tiba, ketika ia sudah kelelahan, ia mencari tempat untuk sekedar melonjorkan kakinya. emperan toko, kolong jembatan, atau kadang di pinggiran masjid, menjadi tempat istirahatnya. Udara dingin yang menusuk badan sudah bukan masalah lagi buatnya, itu hanyalah seperti hembusan kecil yang mengenai tubuhnya.

Biasanya setahun sekali ia pulang ke kampung, untuk melepaskan kerinduannya kepada keluarga tercinta, entah, apakah keluarganya tahu profesinya seperti itu! Tapi selang seminggu kemudian ia kembali ke kota ini, melanjutkan pekerjaannya mengais rezeki di persimpangan lampu merah.

Pernah suatu ketika ia merasakan dirinya menggigil hebat, perutnya terasa kembung sekali, dan kepalanya terasa berat dan pusing, sepertinya itu adalah puncak dari ketahanan tubuhnya, ia sakit. “mungkin hanya masuk angin biasa” pikirnya. Tidak ada satupun kata-kata mengeluh yang ia keluarkan dari mulutnya yang bau, ia hanya menikmati sakit yang ia derita, ketika sakit itu sedikit mereda, ia paksakan dirinya untuk membeli roti murah, obat warung dan segelas aqua kecil. Lalu ia kembali ke tempat istirahatnya, memakan roti, meminum obat yang ia beli, selanjutnya melanjutkan istirahatnya dengan harapan, esok hari, kondisinya akan pulih.

Komedi Pasca Banjir

Written by Sachdar Gunawan | Wednesday, February 14, 2007 | , | 0 Comment »

Danar, temanku yang bertempat tinggal di daerah condet, saat hujan besar beberapa hari lalu, rumahnya terkena banjir, akibat luapan air dari kali ciliwung yang jaraknya hanya beberapa puluh meter saja dari rumahnya. Saat itu ia mengungsi di rumah saudaranya yang lokasinya agak tinggi. Pada suatu kesempatan ia bertemu denganku dan bercerita mengenai suasana banjir saat itu.

Ia bercerita tentang satu regu tim SAR yang mencoba mengevakuasi korban banjir yang terjebak air, sehingga masih berada di atap rumah mereka. saat itu terlihat satu regu tim SAR dengan gagahnya berlari kecil, sambil membawa perahu karet, menuju lokasi banjir. “satu…dua….satu….dua” begitu kata mereka dengan serempak. Setelah sampai di lokasi banjir, mereka langsung melempar perahu karet, kemudian satu persatu menaikinya, tapi, kekonyolan terjadi, baru satu meter perahu karet bergerak, tiba-tiba saja kempes, karena bawahnya tertusuk ujung pagar salah satu rumah warga. Sudah pasti perahu karet mereka menjadi tenggelam karena bocor, dan akhirnya mereka pun ikut tenggelam di air. Untungnya mereka bisa renang, sehingga bisa menyelamatkan diri ke tepian. Hehe… masa tim SAR gak bisa berenang sih! Lantas, warga yang melihat peristiwa itu, tertawa geli, dan sebagian diantara mereka menyoraki tim SAR tersebut sambil menahan tawa. Hahahahah….

Di hari kedua pasca banjir, semakin banyak tim SAR yang datang, karena masih ada sebagian warga yang belum dievakuasi. Di suatu malam, ada satu regu tim SAR dengan perahu karetnya sedang patroli ke lokasi banjir, sepertinya mereka tidak mengenal daerah tersebut, sehingga setiap ada jalan yang bercabang, mereka berdiskusi dulu, jalan mana yang akan mereka ambil. Pada 4 sampai 5 jalan yang bercabang mereka bisa melewatinya dengan lancar, tapi belum terlihat juga warga yang perlu dievakuasi. Saat itu mereka hanya bermodalkan senter saja, karena memang listrik dari PLN dimatikan. Mereka terus menyusuri pemukiman yang terkena banjir itu, hingga bertemu kembali dengan jalan bercabang. Setelah berdiskusi sebentar, akhirnya mereka memutuskan untuk mengambil jalan sebelah kiri, lalu merekapun menyusuri jalan tersebut, hingga ujung jalan. Tapi apa yang terjadi! Setelah mereka keluar dari jalan tersebut, mereka langsung terbawa arus ke arah kanan,.... hahaha.... mereka salah jalan, ternyata jalan yang mereka ambil itu langsung menuju kali besar. Bagaimana mau menolong warga, sedangkan mereka sendiri butuh pertolongan karena terbawa arus yang deras. Hahahah.....

Sejarah Valentine

Written by Sachdar Gunawan | Tuesday, February 13, 2007 | | 0 Comment »

Sungguh merupakan hal yang menyedihkan/tidak sepatutnya terjadi apabila telinga kita mendengar bahkan kita sendiri 'terjun' dalam perayaan Valentine tersebut tanpa mengetahui sejarah Valentine itu sendiri. Pada satu situs blog menjelaskan mengenai sejarah Valentine.

The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” termaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.

Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan. Orang-orang yang mendambakan doa St.Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.

Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan dari pada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (lihat: The World Book Encyclopedia, 1998).

Hari Valentine kemudian dihubungkan dengan pesta jamuan kasih sayangbangsa Romawi kuno yang disebut Supercalis yang jatuh pada tanggal 15 Februari. Setelah orang-orang Romawi itu masuk agama Nasrani (Kristian), pesta 'supercalis' kemudian dikaitkan dengan upacara kematian St. Valentine.

Penerimaan upacara kematian St. Valentine sebagai 'hari kasih sayang' juga dikaitkan dengan kepercayaan orang Eropa, bahwa waktu 'kasih sayang' itu mulai bersemi 'bagai burung jantan dan betina' pada tanggal 14 Februari. Dalam bahasa Perancis Normandia, pada abad pertengahan terdapat kata Galentine yang bererti 'galant atau cinta'. Persamaan bunyi antara galentine dan valentine menyebabkan orang berfikir bahwa sebaiknya para pemuda dalam mencari pasangan hidupnya pada tanggal 14 Februari.

Dengan berkembangnya zaman, seorang 'martyr' bernama St. Valentino mungkin akan terus bergeser jauh pengertiannyan (jauh dari arti yang sebenarnya). Manusia pada zaman sekarang tidak lagi mengetahui dengan jelas asal usul hari Valentine. Di mana pada zaman sekarang ini orang mengenal Valentine melalui 'greeting card', pesta persaudaraan, bertukar hadiah dan sebagainya, tanpa ingin mengetahui latar belakang sejarahnya lebih dari 1700 tahun yang lalu. Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa hal/saat/waktu ini hanyalah tidak lebih bercorak kepercayaan atau animisme belaka yang berusaha merusak 'akidah' muslim dan muslimah sekaligus memperkenalkan gaya hidup barat dengan bertopengkan percintaan, perjodohan dan kasih sayang.

Sebagai seorang muslim, tanyakanlah pada diri kita sendiri, apakah kita akan mencontohi begitu saja sesuatu yang jelas bukan bersumber dari Islam ? Mari kita renungkan firman Allah :

”Dan janganlah kamu megikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabnya.” (Surah Al- Isra : 36)

Dalam Islam kata tahu berarti mampu mengetahui dengan seluruh panca indera yang dikuasai oleh hati. Pengetahuan yang sampai pada taraf mengangkat isi dan hakikat sebenarnya. Bukan hanya sekedar dapat melihat atau mendengar. Bukan pula sekadar tahu sejarah, tujuannya, apa, siapa, bila, bagaimana, dan di mana, akan tetapi lebih dari itu. Oleh karena itu, Islam amat melarang kepercayaan yang membonceng (mendorong/mengikut)) kepada suatu kepercayaan lain atau dalam Islam disebut TAQLID. Hadits Rasulullah SAW :

”Barang siapa yang meniru atau mengikuti suatu kaum (agama) maka diatermasuk kaum (agama) itu.”

Firman Allah SWT dalam Surah Al-Imran(keluarga Imran) ayat 85 :

”Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-sekali tidaklah diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”

wallahu’alam bishawab

[dikutip dari berbagai sumber di Internet]

Syukurilah Apa Yang Ada Pada Diri Kita Saat Ini

Written by Sachdar Gunawan | Monday, February 12, 2007 | , | 0 Comment »

Apa yang kita rasakan jika ada teman kita yang sukses, apa yang kita rasakan jika saudara kita mendapat rezeki yang nilainya lebih dari apa yang kita dapat, apa yang kita rasakan jika tetangga kita membeli mobil baru, membangun rumah dan lain sebagainya. tentunya sebagai seseorang yang mengenal mereka, atau jika tidak mengenal sekalipun, sudah seharusnya ikut merasa senang. Tapi yang terjadi akan sebaliknya jika kita memiliki penyakit hati, seperti iri, ataupun dengki, kita akan menganggap keberhasilan orang lain adalah suatu hal yang tidak baik bagi kita, kita merasa tersaingi, sampai-sampai kita memaksakan diri kita untuk mencapai sesuatu seperti mereka, atau bahkan melebihi mereka, walaupun harus mengorbankan banyak hal yang sebenarnya tidak perlu dikorbankan. atau terkadang kita merasa minder karena posisi kita jauh dibawah mereka, sehingga selalu menyalahkan orangtua kita, atau suami kita. Kenapa sih bapak ga punya mobil seperti tetangga kita itu? Gara-gara papi ga bangun rumah tingkat, jadinya kebanjiran deh!

Sikap yang baik, ialah dengan menganggap bahwa apa yang didapat mereka sebagai cermin diri, apakah kita sudah berusaha bekerja keras dalam menjalani hidup, kalau memang sudah, barangkali usaha kita belum optimal, kalaupun sudah optimal, mungkin cara kita yang kurang tepat. Jadi evaluasi adalah jalan terbaik untuk menyikapi hal tersebut. Dan satu hal lagi, jika kita ingin menjadi orang yang selalu berkembang, jadikan keberhasilan oranglain sebagai motivasi bagi kita untuk melakukan yang terbaik.

Pernahkah kita merasa tidak puas dengan apa yang ada pada diri kita saat ini? Saya yakin kita semua pernah. Saat kondisi kita setingkat, dua tingkat atau bahkan berpuluh-puluh kali lipat dari kondisi saat ini, kita selalu merasa tidak puas. Memang pada dasarnya sifat manusia adalah minus, tidak pernah puas, dan selalu merasa kekurangan. Tapi tidak bagi kita yang selalu bersyukur kepadaNya, uang seratus rupiah pun akan terasa cukup jika kita bersyukur. Jika ingin hidup kita tenang, serta sejahtera, syukurilah terhadap apa yang ada pada diri kita saat ini. Bersyukurlah kepada-Nya, karena itu merupakan kewajiban bagi kita.

Aku sedih, kenapa ia harus pergi!

Written by Sachdar Gunawan | Saturday, February 10, 2007 | , | 0 Comment »

Ketika peluh dan kesah membebani dirinya, ia rebahkan tubuhnya yang lelah ke atas sofa yang ada di depan teras rumahnya, ia luruskan kakinya, menenangkan pikirannya sambil memejamkan mata menuju tempat kedamaian, menurut buku psikologi yang pernah dibaca, tempat kedamaian yang dimaksud ialah tempat indah yang pernah atau ingin kita kunjungi. Dengan begitu, fantasi positif akan menstimulir otak kita menjadi fresh, dan meregangkan urat-urat otak yang tegang, dan secara tidak langsung pikiran-pikiran negatif akan tersingkir.

Ketika konsentrasinya sedang fokus pada tempat kedamaian, tiba-tiba ponsel dari dalam tasnya berbunyi, “totolilet….totolilet……” tanda ada panggilan masuk,., ia pun segera membuka tasnya dan mengambil ponselnya. Lalu terjadi percakapan singkat;

“assalamu’alaikum” ucapan salam darinya.
“wa’alaikumussalam” jawab orang di seberang sana.
“endah, apa kabar?”
“alhamdulillah, baik. Ini siska kan?” Tanya nya.
“iya! Eh loe udah tau belum, klo Anida masuk rumah sakit?” Tanya kawannya, yang ternyata bernama Siska.
“anida masuk rumah sakit?”jawabnya keheranan. “kapan? Dimana? Sakit apa?” tanyanya lagi.
“3 hari yang lalu, di rumah sakit pertamina, dia kena demam berdarah, gimana sih! Bukannya anida temen deket loe?” ujar siska.
“ii..iya sih!” jawabnya sambil terbata-bata.” Trus loe udah jenguk?” Tanyanya
“belum tuh! Bareng yuk,. Besok!” ujar siska
“hmm… iya bareng aja!, tapi setelah gw pulang magang ya! Sekitar jam 1, gmn?” ujarnya
“ok, nanti kita ketemu di atrium aja ya!” ujar siska
“sip, sampe ketemu besok! Eh,. Makasih ya infonya!” ujarnya
“sama-sama, udah dulu ya! Wassalamu’alaikum” ujar siska, sambil menutup pembicaraan
“wa’alaikumussalam” jawabnya sambil mengakhiri pembicaraan, lalu menaruh kembali ponselnya ke dalam tas.

kemudian ia membersihkan dirinya, setelah lelah beraktivitas. Endah adalah mahasiswi di poltek kesehatan II Jakarta selatan, ia mengambil spesialisasi radiology, dan 1 bulan ini, ia sedang magang di RS. Gatot Subroto Jakarta Pusat.

Menjelang tidur ia teringat kembali dengan teman dekatnya,anida, yang sedang dirawat di rumah sakit, terkahir ia bertemu dengan anida, 2 bulan lalu, itupun diakhiri dengan pertengkaran kecil, hanya karena masalah yang sebenarnya ringan. Ia tidak setuju dengan keputusan anida untuk menjalin hubungan dengan seorang cowo, yang ia tahu cowo itu adalah cowo berengsek. Cowo itu adalah seorang playboy yang suka mempermainkan perasaan cewe. Sedangkan anida bersikeras dengan keputusannya, mungkin karena memang, sudah sangat menyukai cowo itu. Akhirnya pertengkaran kecilpun terjadi. Sejak itu mereka tidak pernah bertegur sapa lagi, padahal mereka adalah 2 orang sahabat yang sangat kompak. Bila ada endah, pasti ada siska, dan sebaliknya.

Esok ia ingin menjenguk anida, sekaligus meminta maaf atas sikapnya yang lalu, ia berharap dapat memperbaiki hubungan yang sudah renggang dan menjadi sahabatan lagi.

“ya, semoga anida mau memaafkanku! Sehingga bisa memperingan sakit yang dideritanya” ujarnya.

Keesokan harinya, ia bangun seperti biasa, sehabis shalat subuh, ia membersihkan diri, dan menyiapkan perlengkapan untuk magang. Tapi memang sejak semalam, hujan tidak reda juga, malahan intensitasnya semakin tinggi, sehingga ia jadi ragu-ragu untuk berangkat magang. Dan semakin siang, hujan semakin deras, bahkan air hujan mulai masuk ke dalam rumahnya. Hal itu membuat panik ia dan keluarga, mereka berusaha menghambat masuknya air, tapi karena derasnya hujan, air hujan yang masuk tidak terbendung, akhirnya mereka hanya mengamankan peralatan elektronik, seperti televise, radio, dan vcd dan speaker aktif. Serta beberapa peralatan lain yang bisa mereka selamatkan.

Dalam kondisi panik itu, ponselnya yang diletakkan di atas tempat tidurnya berbunyi “totolite,..totolite,…” tanda panggilan masuk. Lalu ia segera ke kamar untuk mengambil ponsel, dan menerima panggilan ponsel. Lalu terjadi percakapan;

“ndah, ini siska! Ada berita duka” ujar siska
“berita duka? Maksudnya apa sis?” Tanya nya
“hhh… anida,….hk,.hk….anida…hk.hk..hk” jawab siska, sambil terbata-bata, sambil menahan tangis.
“anida kenapa sis? “ Tanya nya penasaran.
“anida udah meninggal…. hk..hk..hk..”jawab siska, sambil melepaskan tangisnya
“jangan becanda sis, serius loe?” Tanya nya.
“hk..hk…serius ndah! Tadi pagi, gw di telepon sama ayahnya, katanya jam 8 tadi anida meninggal” jawab siska.
“innalillahi wa’ina ilaihi raji’un” endah terdiam sejenak, dan masih tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
“ndah? Endah? Loe masih disitu?” Tanya siska, karena hampir 3 menit endah terdiam.
“hk,.hk,.. “ kali ini, gantian endah yang menangis.
“kenapa anida harus pergi duluan? Gw kan belum minta maaf sama dia!hk..hk..” ujarnya
“ohya! Kata ayahnya juga, klo ujan udah reda, jam 2 nanti anida mau di makamin di TPU belakang rumahnya” ujar siska.
“hkhk,….makasih ya sis, atas infonya! Gw mau ngeliat anida untuk yang terakhir kalinya.” Ujar endah.

Percakapanpun berakhir, ditengah banjir yang melanda rumahnya, endahpun terhanyut dalam banjir air matanya, ia masih duduk terpojok di sudut kamarnya, sambil menahan tangisnya, padahal air sudah masuk ke dalam kamar, setinggi mata kakinya. Tidak lama kemudian, ibunya memanggil dari luar kamar.

“ndah, lagi ngapain sih? Ko’ lama banget? Bantuin ibu angkat mesin cuci nih!” ujar sang ibu.
“oh,… iya bu! endah kesitu!” jawab endah, sambil mengelap air mata dengan bajunya.

Kemudian endah dan keluarganya masih terus sibuk, mengamankan perlengkapan rumahnya, tidak berapa lama kemudian, listrik mati, dan itu menambah panik mereka!

Untungnya, sekitar pukul 11 siang, hujan berhenti, dan endah mulai membereskan apapun yang bisa dibereskan. Setelah itu ia lihat keadaan di sekitar rumahnya, air sudah setinggi lutut orang dewasa. tapi dari kejauhan ia melihat angkot merah, yang sedang membawa penumpang. Memang jalanan untuk angkot itu, posisinya agak tinggi, sehingga aman dari banjir. Setelah itu endah meniatkan dirinya untuk keluar rumah menuju kediaman anida di daerah Jakarta selatan, setelah pamit kepada keluarganya ia bergegas keluar rumah.

Walaupun dengan bersusah payah, akhirnya ia bisa melewati air yang belum surut juga. Lalu iapun menaiki angkot merah yang kebetulan saat itu lewat. Dalam perjalanan keluar perumahan, angkot yang ia tumpangi bisa jalan dengan aman, walaupun harus melewati beberapa jalan yang tergenang air.

Setelah keluar dari perumahan harapan indah, bekasi itu, angkot melaju menuju pulo gadung, tapi nampaknya jalan agak terhambat, karena terlihat antrian jalan yang sangat panjang. Endah setengah putus asa, ia khawatir tidak bisa sampai Jakarta selatan sebelum jam 2, padahal saat itu, waktu sudah menunjukkan jam 12. dengan bersabar, ia tetap duduk di angkot dan berharap agar jalan bisa lancar lagi.

Tidak lama kemudian, akhirnya ia mulai mendekati pulogadung, tapi, saat itu terlihat banyak sekali polisi, dan banyak juga mobil yang memutar balik, setelah mulai mendekat, ternyata jalan sudah diblokir, karena air setinggi perut orang dewasa sudah menggenangi jalan menuju pulo gadung. Hal itu membuat endah semakin panik , apalagi waktu sudah menunjukkan jam 2 siang, berarti anida sudah mulai dikuburkan. Dengan perasaan putus asa, ia bertanya-tanya kepada polisi yang sedang berjaga-jaga. Ia menanyakan apakah ada jalan lain untuk sampai ke pulo gadung. Memang ada jalan memutar, tapi cukup jauh, tidak hanya itu, jalan besar menuju Jakarta selatan juga saat itu banyak yang tidak bisa dilewati, karena tergenang air.

Endah, semakin panik dan putus asa, dalam situasi itu ia hanya bisa duduk diam, sambil memaki kesal dirinya! Ia hanya ingin melihat anida untuk yang terahir kalinya, ia akan merasa menyesal sekali jika belum melihatnya. Di tengah kemelut hatinya, tiba-tiba ponselnya berbunyi, setelah dilihat ternyata itu panggilan dari bapaknya.

“assalamu’alaikum” ucap salam sang bapak
wa’alaikumussalam” jawab endah
“kmu udah sampai mana ndah?” Tanya bapaknya
“udah deket ke pulo gadung! Tapi sekarang balik arah lagi nih, soalnya jalan ga bisa dilewatin” jawab endah
“ya udah, kamu pulang aja ya! Ibumu kena musibah” ujar sang bapak
“musibah apa pak?” Tanya endah penasaran
“tadi, sewaktu mau naik ke lantai atas, ibumu terpeleset dan jatuh, kepalanya terbentur dinding” jelas sang bapak.
“masya allah, hari ini ko’ musibah tidak habis-habisnya ya! Ya udah endah langsung pulang aja” ujarnya
“ati-ati yang ndah, assalamu’alaikum” ujar sang bapak
“iya! wa’alaikumussalam” jawab endah, sambil mengakhiri pembicaraan.

Dalam perjalanan ke rumahnya, ia hanya bisa diam termenung, sambil menyesali dirinya, ia menyesal tidak bisa bertemu dengan anida, ia menyesal belum sempat mengucapkan maaf kepada anida, ia menyesal kenapa saat itu harus bertengkar dengan anida. Di sisi lain, ia juga bersedih karena ibunya mendapat kecelakaan kecil. Betapa hatinya sangat luluh saat itu, ia sama sekali shock dengan kejadian-kejadian itu.

Hampir 2 hari ia berdiam diri, termenung dalam penyesalan yang sangat, ia hidup, tapi jiwanya mati. Sampai suatu ketika saat 3 hari kepergian anida, ia dan teman-temannya yang lain, datang mengunjungi rumah anida, karena memang saat itu sedang ada acara pengajian. Sejak itu ia sadar, bahwa teman akrabnya itu sudah tiada, tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali mendo’akan untuk kebaikannya. Ia berharap, anida mendengar niat baiknya untuk meminta maaf.

Akhirnya, sejak itu ia mulai bisa tersenyum, memulai hari-harinya dengan nuansa semangat dan riang seperti dulu. Pengalaman berharga itu tidak akan ia lupakan selamanya, ia menyadari pentingnya sebuah persahabatan, ia mulai mengerti, mementingkan ego tidak akan menyelesaikan permasalahan.






Pengamen Kecil!

Written by Sachdar Gunawan | Thursday, February 08, 2007 | , | 1 Comment »

Malam kemarin, aku putuskan untuk pulang ke rumah orangtua, karena memang sebelumnya ibuku menghubungiku lewat ponselku dan memintaku untuk segera pulang. Sekitar pukul 7 malam, ba’da maghrib, dalam keadaan gerimis, aku paksakan diriku untuk meninggalkan kantor. Biasanya, keluar dari kantor, aku bisa langsung menyeberang jalan, untuk menunggu angkot, tapi karena proyek busway, terpaksa aku harus jalan lagi sekitar ½ km melewati jembatan, karena jalan yang biasa aku lewati sudah dipagar.

Dari matraman ke arah kp. Melayu aku naik angkot M.01, cuaca masih kurang baik, kata temanku gerimis ngrindu, karena biasanya bila gerimis, ia selalu ingat dengan istrinya yang ada di rumah,. Hehehe… sesampainya di kp. Melayu, aku beralih angkot, dan untuk menuju kramatjati, aku naik angkot M.06. Cuaca semakin tidak bersahabat, tiba-tiba saja hujan menjadi lebat, untung saja aku duduk agak ke tengah, kalau tidak, bisa basah pakaianku. Saat itu angkot penuh sekali, 4 orang duduk rapat di depanku, dan 5 orang yang duduk bersamaku, lalu 2 orang yang duduk dekat pintu, dan 2 orang lagi duduk di depan bersama supir. Awalnya kasihan juga melihat 2 orang yang duduk persis di depan pintu, karena mereka kehujanan, tapi karena mereka pria dewasa, aku jadi agak cuek.

Di persimpangan otista, angkot berhenti karna terkena lampu merah. Lalu dari arah sisi jalan, ada 2 orang anak perempuan yang mendekat. Mereka berjalan tertatih-tatih sambil menyilangkan tangan mereka ke dada, tanda kedinginan. Selanjutnya mereka naik, dan berdiri di pintu. Angkot mulai bergerak bersamaan dengan berpindahnya lampu lalu lintas menjadi warna hijau. 2 anak itu menyanyi pelan, dengan nada agak menggigil. Ketika supir tahu bahwa ada 2 orang anak kecil menaiki angkotnya, ia menyuruh turun mereka, karena khawatir jatuh. Tapi anak-anak itu tidak menggubrisnya, dan terus melanjutkan nyanyiannya yang tidak jelas. Akhirnya supir agak mengurangi kecepatan, dan anak itu trus bernyanyi. Salah satu berkata, ”dingin banget ya kak!”, lalu yang satunya menjawab ”tahan aja, nanti juga terbiasa”, sepertinya mereka berdua bersaudara. Kalau aku perhatikan usia mereka sekitar 6-8 tahun, usia yang belum pantas untuk mencari uang. Di sela-sela nyanyian mereka, mereka tertawa bersama, entah apa yang lucu, mungkin hanya cara mereka menghilangkan rasa dingin, atau hanya sekedar untuk menghibur diri mereka.

Terkadang aku berpikir, bagaimana orangtuanya! Jam-jam segitu seharusnya 2 anak itu diam di rumah dan belajar. Tapi aku juga tidak tahu, apakah mereka sekolah! Hmm... dalam lamunan, aku berpikir semakin jauh, kalaupun tidak sekolah, mungkin karena memang orangtuanya tidak mampu membiayai mereka sekolah,. Uhh... aku jadi keki sendiri, ngapain sih mereka melahirkan anak, tapi justru untuk ditelantarkan!kan kasihan anak-anak itu! Mereka sih enak bikinnya! Ups... sepintas aku berpikir apa sih yang diperjuangkan anak-anak itu? Hingga rela berhujan-hujanan untuk mengamen! Apa hanya untuk sekedar makan? Atau mereka harus menyetor kepada orangtua mereka! Dan mereka akan dimarahi jika tidak menyetor! Walah,. Kalau seperti itu, namanya penindasan. Hmm.... lalu buat apa juga aku berpikir sejauh itu, eit... aku Cuma berpikir, andai saja kita di posisi mereka, apakah kita akan melakukan hal yang sama! Hmm... mungkin saja! Karena keadaanlah yang memaksa mereka melakukan hal itu.

Sesampainya di persimpangan cawang, mereka akhiri nyanyian mereka, lalu mengeluarkan plastik permen, yang agak besar, kemudian menyodorkannya ke arah penumpang, dengan harapan akan ada yang memberinya recehan sebagai imbalan jasa menyanyinya. Aku rogoh kantung celanaku, lalu kutemukan beberapa koin, entah berapa nilainya, langsung aku ambil dan kuberikan kepada 2 anak itu. Memang, tidak banyak yang memberinya recehan, tapi tidak tampak kesedihan, atau guratan kecewa dari wajah mereka, mereka tampak puas dengan apa yang mereka dapatkan. Akhirnya di saat lampu merah, mereka turun dari angkot, dan berpindah ke angkot yang lainnya.

Terus terang aku sangat salut kepada mereka, perjuangan mereka patut ditiru! [perjuangannya loh! Bukan ngamennya]. Mungkin mereka memperjuangkan kepentingan orang lain, tanpa mempedulikan kondisi mereka, bisa jadi karena kehujanan, esoknya mereka sakit. Dalam kondisi hujan lebat, mereka memaksakan diri mereka untuk bekerja, mengamen, menyanyi, demi recehan yang nilainya mungkin tidak seberapa. Tapi mereka menganggap bahwa mereka sudah berusaha, mereka menunjukkan bahwa mereka sanggup mencari uang sendiri tanpa harus meminta-minta di pinggir jalan, atau di persimpangan jalan.

Kadang kita mengeluh ketika hujan datang, dan menggugurkan niat kita untuk bekerja. Kadang kita mengeluh cape! Karena seharian bekerja. Kadang kita tidak ingat, bahwa anak perempuan yang masih kecil itu tidak pernah mengeluh cape, atau kedinginan. Ketika kita masuk dalam kondisi yang serba tidak bersemangat, ingatlah 2 anak perempuan itu!

Tersenyumlah! Sahabatku

Written by Sachdar Gunawan | Wednesday, February 07, 2007 | , | 0 Comment »

Ketika perekonomian terpuruk, datang musibah melanda, pesawat hilang, kapal laut tenggelam, rel kereta anjlok, dan sekarang banjir. Sungguh hal itu menjadi rentetan peristiwa yang menjadi sejarah di awal tahun 2007 ini. Dengan musibah yang hanya terjadi dalam waktu satu bulan lebih itu, sebagian masyarakat Indonesia sudah mengalami penderitaan yang sangat, terutama yang menjadi korban musibah tersebut. Jadi sudah sewajarnyalah bila mereka menampakkan kesedihan.

Mungkin dalam kondisi seperti itu, masyarakat sudah tidak mempedulikan lagi harta yang mereka miliki, karena harta masih bisa dicari, tapi kalau sudah menyangkut nyawa, semua sudah ketentuan Ilahi. Bagi kita yang tidak menjadi objek musibah wajar saja bila bisa tersenyum, tapi bagi mereka yang menjadi korban, suatu hal yang luar biasa bila bisa tersenyum. Karena senyum menyirat makna yang sangat dalam, dalam penderitaan yang mereka alami, tersenyum menjadi kebahagiaan tersendiri, karena bisa mengobati hati yang sedang luka, menampakkan kebesaran jiwa, dan menunjukkan keikhlasan seorang hamba kepada Penciptanya.Minimal dengan tersenyum, beban penderitaan yang kita alami bisa lebih ringan, dan bisa mendinginkan otak kita yang sedang memanas, sehingga bisa berpikir lebih fresh.

Terkadang pupusnya harapan atau keputusasaan bisa meranjah diri kita yang sedang kesulitan, seolah-olah apa yang terjadi pada diri kita saat ini adalah akhir dari segala-galanya, tidak sahabat! Musibah ini bukanlah akhir dari perjalanan hidup kita, anggap saja kita sedang turun ke lembah paling dalam, dan kita tetap harus melanjutkan perjalanan kita. Matahari masih bersinar di atas lembah sana, sebagai tanda, bahwa harapan masih ada, sudah saatnya mempersiapkan diri menaiki lembah ini menuju kehidupan yang lebih baik.

Bocah Pengojek Payung

Written by Sachdar Gunawan | Tuesday, February 06, 2007 | , | 3 Comment »

Siang itu, selepas mengikuti ujian susulan di kampus, aku terjebak hujan. Padahal aku Cuma izin satu jam kepada atasanku, bagaimanapun caranya aku harus sampai ke kantor. Aku coba langkahkan kakiku ke loby depan sambil berpikir bagaimana caranya supaya sampai di kantor. Sesampainya di halaman depan, aku melihat bocah kecil berpayung besar sedang berlari kecil ke arah utara, kutaksir usianya sekitar 6 tahunan, mengingatkanku saat pertama kali masuk sekolah dasar tingkat satu. langsung saja aku panggil dia ”de, ojek payung!”, ”iya om!” jawabnya. ”tapi aga jauh nih, sekitar 1 km!” ujarku, lalu ia menjawab ”ga masalah om!”. lalu ia menyerahkan payung besar itu kepadaku, selanjutnya aku pegang gagang payung itu sambil mengajaknya berjalan bersamaku di bawah payungnya, dalam hatiku berkata ”kasihan bocah ini kehujanan, fisiknya belum tentu bisa menahan dinginnya air hujan”.

Lalu kami berdua berjalan menyusuri jalan-jalan kecil di belakang gedung pekantoran daerah matraman, sesekali kami harus berhenti jalan ketika berpapasan dengan pejalan kaki lain, karena sempitnya jalan. Aku sengaja mengambil jalur ini, ketimbang jalan besar, karena selain lebih pendek, juga bisa terhindar dari cipratan air dari kendaraan yang melewati jalan besar. Dalam perjalanan aku coba bercakap-cakap dengan bocah kecil itu

”kmu, pulang sekolah ya!”
”saya ga sekolah om!” jawabnya
”ohya! Kenapa memangnya?” tanyaku penasaran
dengan cueknya ia menjawab ”ga ada biayanya om!”
”oh gitu! Memang orangtuamu kerja apa”
”Bapak lagi nganggur, baru aja abis kontrak kerjanya”
”hmm.... ibumu?”
dengan aga pelan ia menjawab ”ibu saya sudah meninggal!”
”ooh,.. maaf ya!”
”gpp, om! Santai aja” sambil nyengir gaya bocah kecil. Hehe...
”trus, kmu tinggal di mana?”
”itu rumah saya om!” sambil menunjukkan jari telunjuk ke arah rumahnya.
Ternyata ia dan bapaknya mengontrak rumah kecil persis di belakang gedung BCA, bapaknya udah kawin 4 kali, dan bocah itu adalah hasil pernikahan dari istrinya yang ke empat, tapi sayangnya setelah melahirkan, istrinya meninggal.

”emang om, tinggalnya dmn?” tanya balik bocah itu
”saya tinggal deket lapangan badminton RT.09, ga jauh dari sini!”
”ohh itu! Lapangan itu kan tempat saya main bola sama temen-temen”
”oh gitu ya! Ngomong-ngomong, klo udah ngojek, uangnya ditabung ya!”
”dikasihin ke bapak, kasihan dia, lagi sakit di rumah”
”hmm... kmu baik juga ya! Rajin lagi”

Tidak terasa kami sudah sampai di kantorku, setelah memberikan imbalan, aku ucapkan terimakasih kepada bocah itu, dan ia hanya nyengir kuda, sambil menjawab ”sama-sama om!” lalu ia melangkahkan kakinya menuju jalan besar sambil berharap ada oranglain yang membutuhkan jasanya.

Akhirnya sampai juga aku di kantor, tapi perjalanan singkat bersama bocah pengojek payung itu, memberikan bekas yang sangat dalam kepada diri ini, aku salut sekali dengan bocah itu, dari cara bicaranya yang sopan layaknya bocah yang sudah mengenyam pendidikan di sekolah, padahal ia sama sekali belum sekolah. Aku menebak bapaknya sangat bijak mendidik bocah itu. Lalu ketegarannya dalam menjalani kehidupannya membuatku malu, tidak terlihat sedikitpun muka memelas, atau sikap mengeluh, ia optimis menjalani hidup, padahal usianya masih belia. Tapi terkadang diri ini, baru saja mendapat ujian kecil, sudah mengeluh, dan menjadi pesimis. Sungguh sikapnya itu merupakan tamparan kecil buatku. Andaikan posisiku seperti dirinya, mungkin aku tidak akan tahan dengan kehidupan seperti itu. Dalam kondisi yang serba kekurangan ia masih bisa peduli terhadap ayahnya yang sedang sakit, rasa tanggungjawabnya yang besar melebihi diriku kepada orangtuaku. Apa yang kulakukan untuk orangtuaku, tidak ada apa-apanya dengan bocah kecil itu.

Pelajaran dari bocah itu sangat berarti buatku. Tidak banyak bocah kecil yang memiliki sikap seperti itu, bocah itu seperti malaikat buatku, mungkin memang kiriman Allah SWT untuk menegurku.


Terhuyung dalam Hujan

Written by Sachdar Gunawan | Thursday, February 01, 2007 | , | 0 Comment »

Pagi ini, aku telah siapkan perlengkapan kerjaku, tapi hujan yang turun belum juga mereda, memang tidak begitu besar, tapi cukup untuk membuat pakaian dalamku basah. dengan berselimutkan jaket hitam, aku paksakan diriku untuk keluar dari tempat kosku itu, karena payung yang pernah kusimpan dulu, tertinggal di rumah orangtuaku. Walah! Ditengah perjalanan hujan sepertinya tidak bersahabat! Intensitas airnya semakin meningkat, untung saja aku mengenakan jaket, tapi celana panjangku sudah mulai memberat, karena menyerap air hujan yang cukup banyak! Sempat terpikir untuk meneduh sebentar, tapi hujan ini tidak main-main, dia tidak akan semudah itu menyerah untuk menurunkan airnya ke bumi, mungkin kali ini adalah pelampiasannya setelah sekian lama tidak memuntahkan air.

Kupercepat langkahku agar cepat sampai di kantor, sengaja ku rogoh kantung celana yang berisi saputangan cokelat, kusibakkan di atas kepalaku, dan sambil berjalan ku selipkan ujung saputangan itu ke atas telingaku, supaya tidak terbang terhempas angin dingin. Kulihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul sembilan kurang lima belas menit, aku harus tiba sebelum jam sembilan, karena di kantor sudah menungguku untuk rapat proyek yang sedang ditangani. Tapi….aduh,… kakiku terpeleset,.. untung saja tidak sampai terjatuh, aku terus lanjutkan langkahku, kutelusuri gang-gang kecil itu, terkadang aku harus menghentikan langkah dan aga memojokkan diriku ke sisi jalan, karena harus bergantian dengan pengguna jalan yang lain.

Akhirnya sampai juga di kantorku, sekitar dua puluh menitan perjalanan kutempuh. Aku teringat lagi dengan kilasan jalan-jalan yang telah kulalui, saat ada tukang roti yang berpapasan denganku, terpaksa aku harus mundur mengalah sampai persimpangan, lalu melanjutkan langkahku, belum ada dua puluh langkah, sepeda motor sudah membunyikan klaksonnya tepat dua meter di depanku, jadilah aku mengulangi tindakanku yang tadi. Memang hati terasa jengkel juga, tapi aku tidak biasa meneguhkan egoku, mungkin saja pengendara motor itu memang sedang dikejar waktu juga, mungkin saja kepentingannya lebih berarti daripada aku. Tapi sudahlah, aku cukup senang bisa mengalah, andai aku bisa berbuat lebih untuk membantu sekitarku yang sedang kesulitan, pasti akan kulakukan.

Aku lepaskan jaket hitam yang membungkus kemeja biruku, dan kondisinya sudah aga lepek, karena telah melindungiku dari guyuran air hujan. Aku coba atur nafasku, lalu ku ambil kopi susu kesukaanku dari laci mejaku. Lalu aku seduh dengan air panas, dan,.. kuseruput pelan.....syyruuupp...syruuppp,.. betapa nikmatnya! Aku hidupkan komputer untuk mengecek ulang point-point yang perlu di bahas dalam rapat nanti. Sambil sesekali menyeruput ulang kopi susuku petanda bahwa Aku siap beraktivitas hari ini!