Perubahan Diri

Written by Sachdar Gunawan | Friday, April 27, 2007 | , | 0 Comment »

Seekor Ular Muda bertanya kepada ular tua,

Anda sudah menjalani hidup yang panjang.

Bisa ceritakan makna hidup itu apa?

Di masa kanak-kanak, jadilah gembira,

di masa muda, temukan apa yang ada di hati.

Selama usia setengah baya, berjuang mencapai tujuan.

Selama tahun-tahun terakhir hidup, jalani hidup yang damai dan nikmati hidup

Apakah itu berarti jalani hidup masa kanak-kanak dengan gaya kanak-kanak,

jalani hidup masa muda dengan gaya orang muda.

Dan jalani hidup di usia lanjut dengan gaya usia lanjut.

Benar ….

Akan sangat menyedihkan jika seumur hidup seseorang terus terikat pada sosok yang sama.

Ular yang tak mau melungsung kulit tuanya akan mati.

Hidup terus berubah.

Tak ada perubahan berarti mati.

Seseorang harus berkembang dengan proses pertumbuhan.

Kalbu bisa terlahir kembali sebagai kupu-kupu baru.

Orang Suci

Written by Sachdar Gunawan | Wednesday, April 25, 2007 | | 0 Comment »

Suatu kali di suatu masa, di seluruh negeri tersebar berita tentang seorang suci yang tinggal di sebuah rumah kecil di puncak bukit. Suatu hari, seorang pemuda dari desa memutuskan menempuh perjalanan sulit dan jauh untuk bertemu dengan orang suci itu.

Ketika sampai di depan rumah kecil itu, seorang pelayan tua keluar dari rumah dan menyapanya di depan pintu.

”Saya ingin bertemu orang suci,” kata pemuda itu.

Pelayan tua tersenyum dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Sambil berjalan, si pemuda melihat ke sekeliling rumah dengan penuh rasa ingin tahu. Tanpa disadarinya, mereka sudah sampai di pintu belakang rumah dan berjalan ke luar.

Pemuda itu berhenti dan berkata mengingatkan pelayan tua itu.

”Saya ingin bertemu dengan orang suci.”

”Anda sudah bertemu dengannya,” kata pelayan tua itu.

”Semua orang yang kita temui dalam hidup ini, kendati pun tampak sederhana dan tidak berarti, pandang mereka sebagai orang suci yang bijaksana. Jika kita berbuat seperti itu, maka apa pun masalah yang anda bawa kesini hari ini, akan bisa diselesaikan,” tambahnya.

MORAL CERITA

Kisah ini mengandung banyak makna. Antara lain:

· Jangan menilai orang dari luarnya.

· Setiap langkah yang kita ambil dalam hidup ini bermakna. Tak ada perjuangan yang sia-sia. Dalam setiap peristiwa atau kejadian, selalu terkandung pelajaran hidup di dalamnya.

· Setiap orang yang kita temui dalam hidup ini tahu sesuatu tentang hidup yang tidak kita ketahui.

· Kita akan menerima kedamaian batin jika kita respek dan berbelas kasih kepada semua orang yang kita temui



Menebar Kebahagiaan

Written by Sachdar Gunawan | Monday, April 23, 2007 | | 0 Comment »

Kebahagiaan berasal dari kekayaan spiritual,

bukan dari kekayaan materi.

Kebahagiaan berasal dari memberi,

bukan mendapatkan.

Jika kita berusaha mendatangkan kebahagiaan bagi orang lain,

kebahagiaan juga akan mendatangi kita dan tak ada yang bisa mengentikannya.

Untuk mendapatkan kebahagiaan, kita harus memberikannya

Untuk mempertahankan kebahagiaan, kita harus menebarkannya

Stagnasi

Written by Sachdar Gunawan | Friday, April 20, 2007 | , | 0 Comment »

A. Pendahuluan
Dunia adalah tempat kita terlahir, tempat kita belajar hidup, tempat kita meningkatkan potensi diri, dan tempat kita menguji kemampuan. Prosesnya tidak semudah menumpahkan air dari gelas kecil atau tidak seringan menjatuhkan kapas putih, tapi butuh perjuangan keras, butuh pengorbanan, butuh cinta, butuh ketulusan, butuh luapan air mata dan butuh keyakinan. Perjalanan hidup tidak seperti jalan lurus dan rata tanpa rintangan, tidak seperti alur sungai tanpa bebatuan besar dan air terjun, terkadang kita terjatuh dalam lubang yang sangat dalam, terkadang kita harus naik ke gunung penghidupan, tapi terkadang juga karena suatu hal kita terhenti di pertengahan. Keadaan ketika kita terhenti itu dinamakan stagnasi

B. Pengertian Stagnasi
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, stagnasi diartikan sebagai keadaan mandek, berhenti, tidak bergerak, atau diam. Kondisi ini seperti halnya kereta yang terhenti di pertengahan, sehingga tidak dapat melanjutkan lagi perjalanan atau lebih ekstrimnya lagi seperti payung parasit yang tidak berkembang saat di udara, sehingga bisa membahayakan si penerjun. Kereta itu seharusnya berjalan terus sampai tujuan, seperti diri kita yang harus terus berusaha untuk mencapai tujuan kita. Parasit itu seharusnya mengembang, sama halnya dengan diri kita yang harus selalu berkembang. Untuk bertahan hidup kita tidak boleh menjadi manusia yang statis, tapi dinamis.

Pada dasarnya stagnasi adalah kemacetan jiwa, saat-saat seperti ini jiwa kita menjadi rentan, ibarat pohon yang akarnya rapuh, ia mudah sekali terombang-ambing badai kehidupan, dan tidak akan tahan menghadapi derasnya hujan serta teriknya panas matahari. Pada kondisi ini juga kita seperti pohon mandul yang tidak berbuah, pohon gundul yang tidak berdaun dan tidak memberikan manfaat untuk sekitar, tapi justru akan banyak tanaman parasit yang menumpangi, merusak, dan menghancurkan kita dari dalam.

Ada manusia yang mengalami kondisi ini hanya sesaat, tapi ada juga yang berlarut-larut, rawannya ialah saat kita mengira bahwa keadaan itu hanya sementara, dan menganggap bahwa nantinya akan ada perubahan dengan sendirinya. Tapi mereka tidak mengira bahwasanya diam itu tidak akan menyelesaikan masalah. diam berarti tidak bergerak, bila tidak bergerak tidak ada yang akan dihasilkan. Ketika kita memutuskan untuk hidup, kita harus menjadi hidup, dan untuk bertahan hidup kita harus bergerak, pilihannya hanya dua, bergerak ke depan atau ke belakang, dengan bergerak kita membuktikan bahwa kita masih hidup, tidak seperti orang yang terlihat mati karena hanya berdiam diri

Dalam konteks ini saya mengartikan stagnasi sebagai tindakan yang bergerak tetapi diam, maksudnya seperti ini, mungkin kita bergerak dan melakukan sesuatu, tapi tidak ada nilainya, apa yang kita jalani seperti hampa, sehingga tidak berarti apa-apa. Dari sisi lain saya juga mengartikan stagnasi sebagai kemunduran, apa yang kita lakukan hanya membawa kita kepada keterbelakangan yang cenderung menjatuhkan kita. Jadi stagnasi adalah kondisi dimana kita tidak mengalami kemajuan.

C. Dampak Stagnasi
Dampak buruk akan terjadi jika kita membiarkan kondisi tersebut. Tubuh dewasa namun jiwa masih kanak-kanak, menjadi pecundang seumur hidup, kebodohan, apatis dan individualis. Bahkan pada tahap yang ekstrim, kita bisa menjadi sociopath atau kriminal. Sama sekali tidak peduli dengan hak dan kepentingan orang lain.

Kita harus bangkit, dan melakukan perubahan dari keadaan itu, kita harus menjadi agent of change, agen perubahan terhadap diri kita sendiri sehingga berimbas kepada sekitar kita. Kita harus melewati pergumulan wisata jiwa ini, kita harus sadar bahwa statis sama seperti mundur ke belakang, sehingga hanya satu jalan untuk keluar dari kondisi ini yaitu ”bergerak maju ke depan” dan melakukan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.

Hidup untuk Hidup

Written by Sachdar Gunawan | Wednesday, April 18, 2007 | | 0 Comment »

Di zaman yang penuh dengan krisis multidimensional ini, ada virus terbaru yang sedang mewabah. AIDS, flu burung bisa jadi kalah mematikan dengan virus ini. Virus tersebut adalah virus ”PASRAHISME” , pasrah dengan kehidupan yang keras ini, yang penting kita bisa hidup, yang penting kita harus menerima. Tidak memberi kesempatan kepada diri untuk protes, menerima segala sesuatu apa adanya.

Pasrah berbeda dengan tawakal, tawakal mengandung unsur doa, usaha, baru tawakal, tapi pasrah langsung menuju tawakal. Bagaimana kita bisa tau kemampuan kita yang sebenarnya jika kita tidak meniatkan diri kita dengan berdo’a kepada Tuhan, lalu berusaha dengan keras mewujudkan apa yang ingin kita capai. Jika kita terkena wabah ini, diri kita bisa menjadi diam, tak melakukan tindakan untuk melakukan perubahan. Bisa kita bayangkan dalam satu negara yang bernama Indonesia ini, sebagian penduduknya terinfeksi wabah ini, Indonesia menjadi negara yang tertinggal, karena tidak ada keinginan untuk melakukan perubahan.

Informasi yang saya dapatkan bahwa saat ini, Indonesia yang berpenduduk sekitar 200-an juta jiwa, telah menjadi negara berpenduduk terbanyak ke 3setelah China dan Amerika, no 3 terbesar negara terkorup di dunia. Dan info terakhir Indonesia menjadi negara terbesar ke 2 setelah Thailand yang menjalankan bisnis perdagangan wanita di bawah umur. Itulah rekor negara kita, rekor terbesar yang bisa dicapai saat ini, tapi apakah itu akan terus berkembang, akankah rekor itu bisa menjadi lebih buruk lagi. Hanya satu solusinya, kita harus melakukan perubahan, tentunya perubahan kepada keadaan yang lebih baik.

Mengutip perkataan seorang bijak, jika ingin berubah harus mulai saat ini, dari yang terkecil dan lakukan terus. Jika saja tiap manusia Indonesia melakukan ini, kita bisa merasakan kemajuan yang pesat dalam kurun waktu yang tidak akan lama, kita akan bisa mengejar ketertinggalan kita dalam segala bidang kehidupan, kita bisa menjadi negara berpengaruh di Asia bahkan Dunia.

Andai saja kita mau memaknai hidup lebih dalam lagi, dalam kamus besar Bahasa Indonesia, hidup berarti masih terus ada, bergerak sebagaimana mestinya, saya memaknainya bergerak kepada ke arah yang lebih baik. Jika kita diam atau bergerak kepada keterpurukan, sama saja tidak seperti orang yang hidup, kita hidup tapi seperti orang mati.

Sudah sepantasnya kita hidup untuk membuat diri kita lebih hidup, menjadi lebih baik, karena pada hakikatnya hidup adalah seperti perjalanan, hidup bukanlah tujuan akhir, hidup adalah proses yang harus kita jalani, dan nilai dari cara kita menjalani hidup menjadi hal terpenting dalam menikmatinya. Bisa jadi kita hidup sukses dengan menjadi pengusaha terkenal, tapi jika semua itu kita hasilkan dengan mengorbankan banyak kebahagian orang, mengambil hak orang, apa gunanya. Hidup akan terasa lebih hidup, jika hidup kita berkualitas, dalam arti kita benar-benar menikmati hidup dengan segala kepositifan yang kita miliki.

Kita Akan Menang Jika Bersedia Melakukan Perjalanan

Written by Sachdar Gunawan | Monday, April 16, 2007 | | 0 Comment »

Ketabahan adalah sifat cemerlang dari kesabaran yang berani, ketahanan dan kekuatan moral dalam menghadapi kemalangan dan kesusahan. Ketabahan adalah sikap mental yang tak pernah berkata menyerah. Menurut para ahli, perempuan lebih tabah dalam menghadapi kemalangan. Petaka yang menghancurkan semangat pria, yang membuat mereka menjadi tak berdaya, justru membangkitkan energi pada kaum yang dianggap lemah itu. Meningkatkan keberanian dan meninggikan karakter sampai saatnya mencapai keagungan.

Ketabahan, kesabaran, keuletan, kegigihan, kebulatan tekad adalah sifat-sifat yang membedakan seorang pria dewasa dengan bocah kecil, pemenang dengan orang yang berhenti berusaha, orang yang sukses dengan orang yang gagal. Kekuatan untuk bertahan, untuk terus berusaha di saat yang lain mulai berhenti, untuk terus bergantung di saat orang lain jatuh, untuk maju terus di sekitar atau melewati hambatan, tidak selalu ditentukan oleh otak. Kemenangan adalah tujuan. Untuk mencapainya, kita harus melakukan/menempuh perjalanan.

Jangan menunggu ada orang yang akan mengantar kita ke tempat tujuan kita, kita akan menemui banyak pelajaran di saat kita bersedia melakukan perjalanan, orang-orang yang kalah adalah orang-orang yang tidak mau melakukan perjalanan, orang-orang yang tidak mau susah, orang-orang yang tidak mau berkorban. Ketika kita melakukan perjalanan, kita telah berusaha untuk meraih kemenangan dengan cara yang sesungguhnya, bukan jalan pintas seperti yang dilakukan para pecundang.

PROSES PENGEMBANGAN DIRI V

Written by Sachdar Gunawan | Friday, April 13, 2007 | | 2 Comment »

V. TREATMEN PENGEMBANGAN DIRI

Treatmen dilaksanakan dengan bersandar pada prinsip-prinsip pengembangan diri pada bab sebelumnya. Treatment lebih merupkan sebuah siklus (berkesinambungan) yang tidak berhenti. Siklus tersebut adalah :

1. Perenungan
Perenungan merupakan sebuah tahap untuk melihat diri pribadi kita dalam kesadaran yang hakiki, kesadaran spiritual, kesadaran emosional, kesadaran intelektual dan kesadaran fisik

2. Insight
Hasil Perenungan dengan kesadaran hakiki itulah yang akan menimbulkan sebuah pemahaman baru ( Insight ) yang lebih positif dan lebih baik arahnya

3. Motivasi
Dengan pemahaman baru, maka akan muncul sebuah nuansa motivasi untuk berubah dan berbuat

4. Latihan dan Tindakan
Motivasi merupakan sebuah kecenderungan tindakan yang nantinya akan menjadi sebuah tindakan yang nyata, tindakan-tindakan tersebut harus dilatih sehingga menjadi sebuah kebiasaan dan menjadi karakter

5. Insight dan Evaluasi
Latihan-latihan serta tindakan yang dilakukan akan kembali menimbulkan pemahaman baru dan segera dievaluasi untuk kita teruskan menjadi kebiasaan dan karakter kita

Penutup
Aktivitas Pengembangan Diri merupakan sebuah kerja ibadah, ketika ia diniatkan untuk mencari ridho Allah dan tidak melanggar aturan-Nya sehingga proses pengembangan diri kita adalah sebuah upaya untuk menuju menjadi manusia yang sempurna ( Insan Kamil ) yang diridhoi Allah SWT.

Wallahu ‘alam


Referensi
1. 60 cara pengembangan diri, Martha Mary McGaw, CSJ
2. Aku Mengembangkan Diriku, Robert E. Vailet
3. Model-model Kepribadian Sehat, Duane Schlutz
4. Madzhab Ketiga, Frangk. G Goble
5. Perbaharui Hidupmu, Muhammad Al Ghazali
6. Kita Mengembangkan Diri, Mike Pedler dkk.
7. Al Qur’an

PROSES PENGEMBANGAN DIRI IV

Written by Sachdar Gunawan | Thursday, April 12, 2007 | | 2 Comment »

IV.PRINSIP-PRINSIP PENGEMBANGAN DIRI

1. Prinsip Keterarahan
Setiap aktifitas pengembangan diri, harus memiliki arah yang jelas yang teridentifikasikan dengan tujuan akhir dari pengembangan diri tersebut. Parameter hasil yang konkrit. Karena sebuah usaha pengembangan diri, tetapi tanpa target, atau tujuan yang jelas maka usaha pengembangan diri tidaklah efektif dan maksimal

2. Prinsip Perencanaan
Aktivitas pengembangan diri merupakan suatu ektivitas yang terencana, bukan sambilan atau incidental. Ia merupakan bagian dari agenda kehidupan kita. Perencanaan pengembangan diri meliputi, taget-target waktu, jadwal aktivitas dan evaluasi

3. Prinsip Kesinambungan
Aktivitas pengembangan diri merupakan aktivitas yang terus-menerus dan tidak berhenti sampai akhir kehidupan kita. Aktivitas pengembangan diri seseungguhnya kehidupan itu sendiri, “ Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, Hari esok harus lebih baik dari hari ini”

4. Prinsip Keteraturan
Aktivitas pengembangan diri harus teratur, punya alur yang jelas aspek mana yang akan dikembangkan lebih dahulu kemudian aspek lainnya menyusul, atau bisa juga secara simultan namun tetap harus merujuk pada prinsip keteraturan. Hal ini untuk mencegah terjadinya aktivitas yang berlebihan

5. Prinsip Kebertahapan
Aktivitas pengembangan diri merupakan sebuah aktivitas yang bertahap dan berproses sesuai dengan karakter fitrah manusia itu sendiri yang berproses baik secara fisik ataupun psikologis. Terdapat hubungan keterkaitan antara satu tahap dengan tahap yang lainnya

6. Prinsip Latihan dan Tindakan
Aktivitas pengembangan diri merupakan aktivitas “Learning By Doing” atau “Experience Learning”. Artinya tujuan dari pengembangan diri tidak akan tercapai apabila kita tidak melakukan latihan-latihan dan tindakan-tindakan yang dibutuhkan dalam proses pengembangan diri.

7. Prinsip Optimisme Religius
Aktivitas pengembangan diri merupakan aktivitas ikhtiar manusia untuk berubah menjadi lebih baik ( Al Qur’an 13:11 ) sedangkan keberhasilan ikhtiar manusia bukan hanya ditentukan oleh ikhtiar itu sendiri, tetapi factor “Kehendak Ilhiyah” ( Kehendak Allah SWT ) memegang peranan penting dalam keberhasilan tujuan pengembangan diri. Oleh sebab itu factor Do’a ( Pengharapan kepada Allah SWT ) merupakan prinsip yang sangat penting namun sering dilupakan orang.

‘Faidza ‘azzamta fatawaqqallah” (Bertekadlah Engkau kemudian Bertawakal).

PROSES PENGEMBANGAN DIRI III

Written by Sachdar Gunawan | Tuesday, April 10, 2007 | | 0 Comment »

III. SASARAN PENGEMBANGAN DIRI

Proses pengembangan diri adalah sebuah proses yang terus-menerus dan integral, untuh serta bertahap. Proses pengembangan diri meliputi empat unsur dalam aspek kepribadian manusia; Aspek Spiritual, Moral ( Truee ) , Aspek Emosional ( Responsible ), Aspek Intelektual ( Unique ) dan Aspek Fisik ( Sacriface )

1. Aspek Spiritual
Meliputi Iman, Taqwa, Ibadah, Niat, Sopan, Ramah, Siap, Berkurban, Totalitas, Tepat Waktu, Menghormat/menghargai orang lain, bersih dan berwibawa, kejujuran, Tegas, Keaslian, Kesetiaan, Ketaatan, Kebenaran, dll

2. Aspek Emosional
Meliputi: Tanggung Jawab, Membantu orang lain, Ingin maju, Rasa ikut memiliki, Mawas diri, Proaktif, Mandiri, Berpikir Positif, Inisiatif, Sumbangan kepada semangat kelompok, Hubungan Masyarakat, Kepercayaan pada diri sendiri, Kerjasama, Fleksibilitas, Pengambilan Resiko, Kemampuan Memotivasi bawahan, Keuletan, Kerja Keras, Integritas, Empati, Ketegasan, Perhatian terhadap orang lain, dll

3. Aspek Intelektual
Meliputi : Terampil, Trengginas, Merencanakan, Mengorganisasi, Mengkoordinasi, Mensupervisi, Kepemimpinan, Dinamika, Kepandaian mencari akal, Kreatifitas dan Daya Akal, Pengembangan para bawahan, Kemampuan Analitis ( nalar, logika ), Pendelegasian, Pengambilan Keputusan, menyelesaikan masalah, Manajemen Konflik, Kemampuan Komunikasi ( Lisan, Tulisan ), Pengaturan data, Dapat belajar dengan cepat, Dapat mengakses informasi dengan cepat, Mudah mempelajari Ilmu Baru, dll

4. Aspek Fisik
Meliputi : Dapat melakukan Hajat hidup dengan fisik, sehat, tidak cacat karena kecelakaan, tidak sakit akut atau kronis, olah raga, pola makan yang baik, tinggi badan dan berat badan yang seimbang, memiliki tenaga yang kuat, tidak melakukan kebiasaan merusak fisik, merasakan nafas lega, dll

PROSES PENGEMBANGAN DIRI II

Written by Sachdar Gunawan | Thursday, April 05, 2007 | | 0 Comment »

II. DARIMANA HARUS MEMULAI ?

Kita harus memulainya dengan terlebih dahulu mengindentifikasi siapa kita pada saat ini? Sebenarnya kehidupan kita pada saat ini dipengaruhi oleh tiga hal : kehidupan masa lalu kita, kita apa adanya sekarang, dan mimpi/imajinasi kita tentang kita di masa depan ( sampai akhirat )

1. Masa Lalu Kita
Kita pada hari ini tideak lepas dari proses pembelajaran kita dimasa lalu. Bimbingan orangtua, proses pembelajaran kita dalam hidup, pengalaman kehidupan yang sudah lalu, semua itulah yang menjadikan kita hari ini, Baik-buruk, suka-duka, senang-susah, sedih-gembira dimasa lalu kita ( bahkan sejak masa kanak-kanak ) memberikan sumbangan kita sampai hari ini. Mungkin kita dapar sedikit memetik hikmah dari untaian kata-kata dari Dorothy Law Nolte :

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, ia belajar keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak deibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan arti hidup dalam kehidupan

Dengan cara manakah kita dibesarkan dan hidup?
Tapi apakah akhirnya kehidupan kita saat ini dibentuk oleh kehidupan masa lalu kita ?
Jawabannya adalah TIDAK

Kita tidak dapat tergantung/dibentuk oleh masa lalu kita. Kita haus mempersepsikan masa lalu kita secara positif dan proporsional. Interopeksi ( Muhasabah ), perenungan positif adalah sebuah metode bagi kita untuk merubah pengalaman masa lalu kita menjadi energi positif. Umar Bin Khatab memiliki masa lalu yang sangat suram, tetapi ia dapat menjadikan masa lalunya sebagai unsur perubah, sehingga ia menjadi energi positif untuk mencapai mardhotillah. Begitu jua dengan Khalid Bin Walid serta Bilal bin Rabah. Bagaimana dengan kita ?

Meskipun kita dapat dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman kanak-kanak yang malang, namun kita bukanlah korban-korban tetap dari pengalaman-pengalaman ini, kita dapat berubah, bertumbuh dan mencapai tingkat-tingkat kesehatan psikologis yang tinggi ( Abraham Maslow )

2. Masa Kini

Masa kini, kondisi kita saat ini, kita hari ini apa adanya adalah merupakan akumulasi pencapaian aktualisasi diri dari potensi-potensi kita, tapi in fact kebanyakan orang hanya menggunakan sebagian kecil dari kemampuannya ( William James, Filsuf dan Psikolog asal USA ), artinya kita saat ini hanyalah baru sebagian kecil dari seharusnya kita menjadi. Masih banyak potensi-potensi dalam diri kita yang belum terbina, terbangun dan teraktualisasi dan yang belum, baik dari segi fisik, emosi, sikap, intelektual dan lainnya lagi. Inventarisasi semua hal itu dengan metode perenungan, instropeksi individual, kemudian mintalah pendapat orang lain, sahabat, orang tua, teman kerja atau lainnya untuk membantu kita dalam mengenali potensi apa saja yang sudah dan belum teraktualisasi

Identifikasi dan inventarisasi itu merupakan database kita untuk mulai merencanakan pengembangan diri. Database tersebut dapat memberikan informasi kepada kita potensi-potensi apa yang harus kita rencanakan untuk mengaktualisasikannya, dan juga bagaimana potensi-potensi yang sudah teraktualisasi dapat dipertahankan dan ditingkatkan kualitasnya

3. Masa Depan

Masa depan adalah sebauh mimpi/imajinasi kita untuk menjadi apa. Apa yang ada dalam benak dan fikiran kita tentang masa depan kita? Menjadi orang sukseskah? Menjadi orang bahagiakah? Prinsip dan imajinasi anda yang menentukan! Kehidupan kita ditentukan oleh pikiran kita ( Muhammad Al Ghazali ). Namun dalam imajinasi kita tentang masa depan kita ada perbedaan orang yang religius dan yang tidak. Orang yang religius memandang bahwa masa depannya bukan hanya pada tahap hidup di dunia, tetapi ada hal yang lebih penting lagi adalah masa depan akhirat. Sehingga cobalah latih imajinasi kita untuk memikirkan bagaimanakah keadaan akhir kita kelak di akhirat bahagiakah atau tersiksa?

Bingkai dengan Emosi Positif

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi ( pula ) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui” ( Al Qur’an ).

Apa yang kita rasakan ketika membaca ayat ini? Mungkin kita akan merasakan nuansa optimisme dalam diri kita, karena ayat ini mengajarkan kita untuk selalu mengembangkan emosi positif kita tentang segala hal yang terjadi dalam kehidupan kita.

Bingkailah kehidupan masa lalu, mas kini, dan masa depan kita dengan emosi positif. Pandanglah setiap kejadian-kejadian masa lalu sebagai hal terbaik untuk meraih hal yang lebih baik. Jadikanlah kondisi kehidupan kita saat ini menurut kita atau menurut orang lain sebagai sebuah cermin bagi kita untuk melangkah menjadi lebih baik. Dan raihlah masa depan kita yang telah kita cita-citakan dalam imajinasi kita


Bingkai dengan Nilai

Setelah kita tahu tentang siapa kita? Apakah itu sudah cukup? Belum! Karena persepsi kita tentang kita ditentukan oleh kita sendiri dan oleh teman-teman kita sesama manusia. Kita tidak obyektif, karena manusia tidak ada yang obyektif, hanya Allah SWT yang obyektif. Karena kita adalah makhluk yang diciptakan Allah SWT, maka kita sebaiknya menanyakan pada sang pencipta gambaranNya tentang kita. Sebab ia menciptkan kita masing-masing secara unik, artinya dengan bakat, kemampuan, tenaga dan ideal-ideal tersendiri. Dengan menemukan gambaran Allah tentang kita. Kita temukan ideal kita, makna hidup kita, tujuan seluruh keberadaan kita didunia ini. Kita akan terarah, inilah nilai yang dapat dengan jernih mempersepsikan secara positif. Kehidupan masa lalu, masa kini dan masa depan kita. Nilai inilah yang menentukan akan menjadi apa kita kelak dan bagaimana akhirnya.

PROSES PENGEMBANGAN DIRI I

Written by Sachdar Gunawan | Wednesday, April 04, 2007 | | 0 Comment »

I. PENDAHULUAN

Tentunya kita semua ingin menjadi diri yang khas. Setiap orang mendambakannya. Itu biasa dan sangat normal. Tetapi ternyata kita telah menjadi khas, atau khusus! kita adalah manusia yang unik . dari sekian banyak manusia, kita adalah istimewa. Tak seorangpun di dunia akan persis dan sama seperti kita. Kita tidak ada duanya

Tetapi kita belum sempurna. Kita sedang dan masih harus berkembang. Kita masih berada di dalam proses menjadi semakin khas, khusus, dan istimewa. Setiap kita memiliki potensi yang luar biasa, tetapi jarang diantara kita yang dapat mengembangkan dan sampai mengaktualisasikan dalam kehidupan.

”Kebanyakan orang hanya menggunakan sebagian kecil dari kemampuannya”

begitulah kesimpulan William James melalui penelitian-penelitiannya. Padahal Allah SWT telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sangat sempurna ( AL Qur’an ) kita akan semakin menjadi diri kita, orang yang khas itu, kalau kita mengembangkan dan membina segala yang baik yang ada pada kita dan mengalahkan yang kurang/tidak baik. Ini berlaku untuk kemampuan jasmani, intelektual, keterampilan dan spiritual Modal ( Potensi ) yang terpendam dalam diri kita ini, perlu kita sadari dan aktifkan. Inilah suatu proses yang tak pernah akan selesai. Sampai hari kita meninggalkan dunia ini, kita masih dapat berkembang menjadi lebih sesuai dengan ideal kita.

Sebagai anak, kita mulai mengaktualisasikan potensi-potensi kita dibawah bimbingan orang dewasa. Kita belajar banyak hal, melangkah , berbicara, menghitung, berdoa…semakin dewasa, semakin banyak segi kepribadian kita yang temukan. Kita mencari, memperoleh, berlatih dan belajar. Kita berubah terus menjadi lebih sempurna atau lebih buruk. Berhenti, tidak mungkin kalau tindakan-tindakan kita mengarahkan kita kepada yang baik ( kejujuran, tanggungjawab, kasih saying, dll ) kita berkembang maju sebagai manusia. Hidup kita lebih berarti, lebih memuaskan, lebih tenang karena mendapat pegangan.

Sebenarnya, kita berdaya untuk meningkatkan taraf perkembangan kepribadian kita masing-masing. Hal-hal yang membantu pengembangan itu ada disekitar kita dan ada pada diri kita sendiri. Manfaatkanlah! Kita dapat menjadikan diri kita manusia yang paling baik dan yang unik. Kita bukan orang lain. Kita bukan tiruan manusia lain, tetapi kita adalah kita.

Oleh karena itu biarkanlah kita berkembang sekarang ini juga. Sebab, waktu kini adalah kesempatan yang tak akan terulang kembali, kita hanya memiliki satu kehidupan. Waktunya terlalu pendek. Hari kemarin sudah berlalu. Hidup adalah hari ini, dan mengarah ke hari esok.

Jadilah diri yang khusus dengan membiarkan diri kita berkembang
Mulailah sekarang ini juga

Kado Terakhir untuk Dinda

Written by Sachdar Gunawan | Tuesday, April 03, 2007 | | 0 Comment »

Sore itu, langit mulai menampakkan gradasinya, terlihat beberapa goresan awan putih, bercampur dengan warna kuning yang kemerah-merahan, mungkin itu pantulan dari matahari senja dan kedatangan bulan. Sungguh indah pemandangan itu, seperti halnya lukisan abstrak yang tergores di kanvas yang mengangkasa.

Tampak beberapa burung gereja menghinggapi celah-celah dinding rumah sakit. Sepertinya di situ ada kehidupan, karena beberapa sarang yang tersusun dari anyaman ranting pohon ada di sana. Di dalam rumah sakit itu, terdapat kehidupan juga, hanya saja kehidupan yang kurang sempurna. Tempat itu, dipenuhi dengan banyak harapan, dan keputusasaan. Bahkan ada sebagian manusia yang hanya tinggal menunggu detik-detik terakhir kehidupannya di dunia. Aroma kimia, sangat mendominasi sirkulasi udara di tempat itu, dan bisa membuat muntah bagi mereka yang alergi terhadap obat.

Di suatu kamar, aku dan putriku, sedang asyik bercengkerama. Tangan kiriku memegang mangkok kecil nasi dengan beberapa lauk, dan tangan yang lain memegang sendok yang siap menyiduk isi dari mangkok itu. Hembusan angin dari kipas yang terpasang di atap kamar itu, menambah kesejukan suasana sore. Sesekali terdengar rintihan pilu dari ruang sebelah, yang membuat miris, hati para penghuni rumah sakit itu.

“yah… yah….. belikan ade boneka ya! Kan minggu depan ade ulang tahun.” Ucap putriku pelan. Saat itu dinda sedang terbaring di rumah sakit karena terkena Demam Berdarah.
”boneka apa de?,” tanyaku.
”boneka itu loo.... pooh,” ucapnya, sambil menahan sakit dikepalanya.
”insya allah, minggu depan ayah belikan.... tapi ade harus janji dulu sama ayah. Ade harus janji, kalau ade harus sembuh!... gimana?”
”hmm.... iya, ade janji deh...”
”nah gitu dunk! Itu baru namanya putri ayah,... kalau mau cepat sembuh ade harus makan, trus minum obat,”ucapku.
”oh gitu ya, yah!”
”iyaa, makanya, sekarang ade makan ya! ayoo....” bujukku, sambil menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.

Akhirnya dinda membuka mulutnya dan mengunyah nasi yang baru saja aku suapkan. ”siip...... putri ayah memang pintar,.....”

Aku senang sekali melihat putriku mau makan, karena sejak lima hari dirawat di rumah sakit, ia sulit sekali untuk makan.

Saat itu aku memang tersenyum, tapi hatiku menangis. Aku kasihan sekali dengan dinda, setelah tiga bulan yang lalu divonis types oleh dokter, sekarang ia harus dirawat kembali karena Demam Berdarah.

Memang, sejak istriku meninggal, ia hanya mendapatkan kasih sayang dan perhatian dariku. Sedangkan waktuku untuk dinda sangat sedikit, aku terlalu disibukkan dengan pekerjaanku.

Aku meminta adik perempuanku yang masih kuliah, untuk tinggal bersamaku, sehingga ada yang menemani dinda ketika aku di kantor.

Ketika peluh menghampiriku, aku rebahkan tubuhku di sofa rumah. Pikiranku mengembara ke setiap sisi kehidupanku. Terbayang wajah istriku yang sudah meninggalkanku setahun lalu, aku rindu sekali dengannya. Ia adalah sosok seorang istri yang baik, figur ibu yang bijaksana, sekaligus sahabat terbaikku.

Dalam pengembaraan itu, terlintas wajah dinda yang sedih. Andai sakit yang dideritanya bisa dipindahkan kediriku, aku akan ikhlas menggantikannya. ”kasihan sekali kamu, nak,” batinku. Tidak terasa aku meneteskan air mata.

Tiba-tiba, ponselku berdering.

”gung, sebelumnya saya minta maaf nih. Terpaksa, besok saya harus menugaskan kamu ke Kalimantan untuk melakukan Site Acceptance Test, proyeknya Indosat,”
”hmm, memang tidak ada yang lain pak? Terus terang saya agak keberatan, bapak tau sendiri, anak saya masih di rumah sakit,” sambil mengusap air mata, aku menolak permintaan atasanku.
”tidak ada orang lain lagi yang bisa, hanya kamu orang terbaik di perusahaan yang bisa melakukan pekerjaan ini. Ayolah, kali ini saya memohon kekamu, hanya empat hari aja kok!”

Aku terdiam sejenak, untuk memikirkan keputusan apa yang harus kuambil. Akhirnya dengan terpaksa aku menerima permintaan atasanku.

”baiklah, pak! Saya akan ambil resiko ini.”
”bagus, tk’s ya! Saya sudah menyiapkan tiket dan dokumen yang diperlukan, nanti saya akan suruh orang untuk mengirimnya ke rumahmu.”
”ok pak! Tk’s juga ya.... ”ucapku, sambil mengakhiri pembicaraan.

Malam itu juga aku menuju rumah sakit untuk menemui putriku.

”de, kamu udah lebih sehat kah?,” tanyaku kepada dinda
”masih agak pusing, yah!.” aku coba pegang dahinya dengan punggung tanganku, suhu badannya belum. Sepertinya, demamnya masih tinggi.
”de, ayah belum sempat belikan kamu boneka! Nanti aja ya, empat hari lagi...”
”gpp yah, tapi kenapa harus empat hari lagi, yah?.”
”anu...hhh.... ayah ada pekerjaan di luar kantor, tapi kamu jangan khawatir, cuma empat hari aja kok! Ayah janji, pulangnya pasti akan belikan kamu boneka.”

Terus terang aku agak berat untuk berpamitan dengannya, tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku tau, dinda sangat sedih mendengarnya, terlihat dari raut wajahnya yang masih lugu itu.

Tapi aku juga tidak boleh terlihat sedih di depannya, saat aku tidak bisa membendung perasaanku, aku keluar dari kamar dinda dirawat. Sambil meneteskan air mata, aku membatin, ”kenapa aku harus mengambil keputusan sulit ini, berat sekali aku meninggalkan putriku.”

Tetapi aku tidak boleh terlarut dengan kesedihan, mungkin ini adalah jalan terbaik yang harus aku tempuh. Aku menyeka air mataku, kemudian kembali menemui dinda, mengecup dahinya, dan meninggalkan dirinya yang masih terbaring lemas di ruangan itu.

Ketika aku di luar kota, hampir setiap 6 jam sekali aku menghubungi adik perempuanku, dengan maksud untuk mengetahui kondisi dinda, putriku.

Saat hari terakhir bertugas, aku sempatkan diriku untuk membeli oleh-oleh untuk adik dan putriku. Tidak lupa boneka pooh, sepesial untuk kado ulang tahun dinda.

Sore itu juga, dengan pesawat aku meninggalkan Kalimantan menuju Jakarta.

Sekitar pukul 6 sore aku tiba di Jakarta.

Tapi saat ingin turun dari pesawat, aku terjatuh. Untungnya, saat itu hanya tinggal beberapa anak tangga lagi, sehingga jatuhku tidak terlalu sakit. Entah kenapa, saat itu aku ceroboh sekali. Padahal aku sudah berusaha untuk hati-hati.

Dari Bandara aku melanjutkan perjalananku menuju rumah dengan taxi, rencananya setelah menaruh perlengkapan, aku akan ke rumah sakit, untuk menemui dinda.

Empat hari tidak bertemu putriku, rasanya rindu sekali. Setelah tugas ini, aku akan mengambil cuti panjang, sehingga bisa menemani dinda di rumah sakit.

Sekitar pukul tujuh malam, aku tiba di depan komplek perumahan rumahku. Tapi taxi yang aku tumpangi tidak bisa masuk ke perumahan, karena portal depannya ditutup.

”Ada apa ya, tumben-tumbenan portalnya di tutup,” pikirku.

Kemudian aku turun di depan perumahan, dan melanjutkan dengan berjalan kaki. Beberapa meter dari rumahku, aku melihat banyak orang berkerumun di depan rumahku. Hal itu membuat hatiku gelisah. Kupercepat langkahku untuk cepat sampai di rumah.

Sesampainya di depan rumah, salah satu tetanggaku, dengan wajah sedih, segera menghampiriku. Kemudian berkata, ”pak, yang sabar ya!.” Hatiku semakin tak menentu, pikiranku bertanya-tanya, ”sebenarnya ada apa.”

Dari depan rumah, aku melihat banyak orang sedang mengaji di dalam rumah. Kemudian aku langkahkan kakiku untuk segera masuk. Alangkah terkejutnya, setelah melihat putriku sedang berbaring kaku diantara orang-orang itu.

”tidak mungkin!.” Tidak terasa koper dan beberapa kantong plastik yang aku tenteng terlepas dari peganganku.

Mata dinda, sudah tidak terlihat karena tertutup kapas, dan badannya juga sudah terbungkus kain putih. Aku mendekati jasad yang sudah tidak bernyawa itu, jasad yang dulu sangat dekat sekali denganku, jasad yang menyemangatiku untuk tetap bertahan hidup, jasad putriku yang sangat aku sayangi.

Aku hanya bisa menatap wajah pucat putriku. Beberapa tetes air mata mengalir di sela-sela pipiku. Andai saja aku tidak mengingat Penciptaku, saat ini aku sudah menangis sejadi-jadinya.

Dengan lirih aku berkata,

”kenapa kamu meninggalkan ayah, de?,”
”kenapa gak pamitan dulu sama ayah?,”
”ayah, sudah membawakan boneka pooh nih!,”
”ini kado ulang tahun untuk kamu..........”

Bibirnya yang tersenyum membuatku menjadi sangat sedih sekali, entah berapa tetes, air keluar dari mataku ini. Saat itu aku menyesal sekali, andai saja aku tidak menyanggupi untuk tugas di luar kota, mungkin tidak akan terjadi hal seperti ini.

Tapi, aku tidak boleh menyesali diri, mungkin ini sudah menjadi takdir-Nya. Tidak ada satupun makhluk yang bisa menentang-Nya. Aku harus mengikhlaskan kepergian putriku, aku yakin saat ini ia sedang bersua dengan ibunya di Surga.

Jam enam lebih sepuluh menit tadi, dinda menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit, bertepatan dengan tibanya pesawatku di Jakarta. Sungguh, hal itu sangat membuatku terpukul, aku telah menyia-nyiakan satu-satunya anugerah Tuhan yang kumiliki saat ini. Semoga kejadian ini, dapat membuat mataku terbuka lebar, betapa berharganya waktu yang kumiliki.

Ayahku Menikah Lagi?

Written by Sachdar Gunawan | Monday, April 02, 2007 | | 0 Comment »

Bagaimana perasaan kita jika ternyata ayah kita menikah lagi, bagaimana jika ayah kita menikah tanpa sepengetahuan keluarga, bagaimana jika ada wanita yang mengaku sebagai istri ayah kita, menghubungi kita dengan maksud meneror, bagaimana jika ayah kita tiba-tiba jarang pulang, dengan alasan sibuk bekerja di kantor, bagaimana jika tiba-tiba sikap ayah kita menjadi baik dan perhatian kepada kita, walaupun dengan kompensasi harus rela ia tidak pulang ke rumah. Bagaimana jika pertanyaan-pertanyaan itu terjadi pada diri kita?

Aku berharap pertanyaan itu tidak pernah ada dalam benak ini, tapi pada kenyataannya, temanku memiliki pertanyaan itu semua. Saat ini ia cemas dengan keutuhan keluarganya. Ia cemas karena kondisi keluarganya saat ini tidak seharmonis dulu, ia cemas dengan kondisi ibunya yang seringkali terlihat termenung seorang diri, ia cemas bila nanti, kedua adiknya mengetahui kalau ayahnya menikah lagi. Hal lain yang membuat ia cemas adalah mengenai sikap yang harus ia ambil. Sebagai kakak, ia memang memiliki tanggung jawab yang lebih dibanding adik-adiknya, dan hal itu yang membuat ia selalu berpikir dengan dampak terburuk yang mungkin terjadi pada keluarganya nanti.

Ia bimbang harus melakukan apa, apakah ia harus menanyakan secara langsung perihal rumor bahwa ayahnya menikah lagi, atau pura-pura tidak tahu mengenai hal itu, dengan alasan, yang penting saat ini ia dan adik-adiknya bisa terus melanjutkan sekolah. Dilain hal, ia harus berusaha menutupi rumor itu terhadap adik-adiknya. Tapi, saat ini adiknya yang kedua sudah mengetahui hal itu, nasi sudah menjadi bubur, ia hanya bisa menjelaskan kepada adiknya, bahwa semua itu belum tentu benar, karena memang belum ada bukti yang kuat. Kalaupun nantinya terbukti bahwa ayahnya menikah lagi, ia mengatakan bahwa kita [keluarganya] harus ikhlas menerimanya.

Lingkungan keluarganya tidak seakrab dulu, anggota keluarga mulai tersenyum, tapi senyuman hambar, senyuman terpaksa yang hanya dilakukan untuk menghibur hati. Semuanya serba kaku, seperti halnya lukisan yang dulu berwarna-warni, kini menjadi pudar hanya karena ada noda yang membekas di permukaan kanvas. Ia berusaha untuk membuat suasana menjadi nyaman, tapi menurutnya semua itu sia-sia, karena noda yang membekas terlalu kuat dan dalam menutupi pesona warna di kanvas itu. Saat kondisinya seperti itu, terdengar suara dari ponselku, tanda sms masuk……. Rupanya ia mengeluh terhadap keadaan keluarganya, ia memohon kepadaku untuk memberinya semangat.

Beberapa detik kemudian, aku sms balik ke nonya. Aku kirim pesan yang isinya “SEMANGAT….100x” …. Hahahah….. aku tahu jawaban itu konyol, dan mungkin malahan membuat dirinya semakin sedih, atau sebaliknya, akan muncul senyuman lebar dari wajahnya. Ternyata perkiraanku yang kedua benar, ia merasa terhibur sejenak.

Sebagai seorang anak, sudah sepantasnya ia berbakti kepada kedua orangtuanya, termasuk ayahnya. Ia tidak perlu menanyakan langsung kepada ayahnya, mengenai rumor yang ia dengar, karena bisa jadi, justru akan memperkeruh keadaan. Biarlah ibu dan ayahnya yang menyelesaikan itu semua. Tidak cukup sampai disitu, ia harus menghibur ibunya ketika sedih, ia juga harus selalu mendampingi adik-adiknya agar tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan, hanya karena kecewa dengan sikap orangtuanya [ayah] yang kurang baik. Ia harus menjadi penggembira suasana, ia harus menjadi penyemarak keceriaan.

Semoga dengan sikapnya yang seperti itu, adik-adiknya bisa tetap menghargai dan mengormati ayah mereka, ibunya juga tetap setia mendampingi suaminya, sehingga membuat sang ayah menjadi sadar, bahwa anak dan istrinya sangat menyayanginya, dengan harapan, keakraban dan keharmonisan dalam keluarganya, dapat kembali seperti dulu lagi. Amin.