Lelaki Pojok Teras

Written by Sachdar Gunawan | Wednesday, January 31, 2007 | , , | 0 Comment »

Serumpulan kata-kata telah muncrat dari mulutnya yang bau, Tapi tidak ada satupun siratan yang bermakna, semua hanyalah sumpah serapah serta nama-nama penghuni kebun binatang yang pernah ia singgahi. Racauannya yang semakin tidak jelas, membuat bising para penghidup yang berada disekitarnya, kucing sampahanpun ikut bergumam tanda protesnya, bahkan penghuni atap rumahnya memaki kesal, sampai-sampai ia relakan air minumnya ditumpahkan ke luar jendela hanya untuk menyiram lelaki itu.

Tidak tergubris sama sekali, ia malahan melanjutkan lagi tegakkan dari botol minuman yang ia cekik batang lehernya. Setegak cairan itu, memerahkan matanya yang templon, dan menundukkan lagi kepalanya yang pitak sebesar telinga culunnya. Terkadang ia sesendirian menangis sedu, mungkin terkilas bayangan istri dan anaknya yang meninggalkannya ketika ia sedang mabuk dulu. Tapi juga ia suka tertawa geli ketika melihat kucing bertengkar. Sungguh memilukan, entah apa yang terpikirkan oleh lelaki itu.

Baju yang kini melindunginya dari sengatan matahari serta guyuran hujan, sudah tidak terlihat lagi warna aslinya, bahkan aromanya pun bak bunga pengkuburan, bahkan lebih parah dari itu, seperti bau sampahan yang ada di samping dirinya. terakhir ia kenakan itu satu hari selepas istri dan anaknya meninggal. Mungkin baju itu mengandung kenangan yang amat dalam ketika keluarganya masih utuh.

Pandangannya menatap kosong ke arah depan, racauannya semakin pelan, mungkin karena kelelahan atau memang urat di lehernya sudah hampir putus. Akhirnya tidak ada seperah kata pun keluar dari mulutnya. Ia membisu sebisu jiwanya yang membeku, mungkin saat itu ada malaikat yang menatapnya. Tiba-tiba tubuhnya menggigil pelan dan semakin lama bergetar keras dan kencang, bahkan sampahan yang ada disebelahnya tumpah dan mengeluarkan isinya yang membau, kini ia tidak duduk lagi tapi telentang, badannya mengejang, mulutnya menutup pilu, dan pandangannya tertuju ke atap langit-langit halaman rumahnya, semakin lama matanya meredup dan akhirnya menutup, bersamaan dengan berhentinya getaran tubuh. Kini ia terbujur kaku, seperti patung yang bisu. Tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi pada dirinya, lelaki tua itu mati di pojok teras rumahnya.

Patribu + Maribu = Sembilan Ribu

Written by Sachdar Gunawan | Monday, January 29, 2007 | | 0 Comment »

Hari Minggu kemarin, aku habiskan waktu bersama keluarga, sekalian refreshing dan menyiapkan diri untuk menghadapi ujian di kampus hari ini. Memang aku akui, belum maksimal betul aku belajar, lantaran ada teman lamaku berkunjung ke rumahku, jadi terlantar deh, padahal buku catatan untuk ujian hari ini sudah aku persiapkan.

Sekitar pukul 2 siang, Danar, teman seperjuanganku sewaktu bergabung dalam Pramuka Saka Dirgantara datang ke rumah, niatnya silaturahmi sekalian menawarkan bisnis kecil-kecilan, dia mempunyai kenalan untuk bagian pemasangan iklan di sepanjang Tol Cipularang, jadi bagi sahabat yang membaca ini, dan ada rencana untuk memasang iklan di situ, silahkan aja kontak saya! Hehe,… sekalian promosi.

Sampai maghrib ia di rumahku, dan banyak sekali cerita yang ia utarakan, mulai dari suka dukanya ia bekerja, dan kondisi emosionalnya yang sudah mulai membaik serta rencana-rencananya ke depan nanti. Aku salut dengan kondisinya sekarang, dia sudah mulai peduli dengan dirinya, padahal sewaktu dia masih menganggur, jauh sekali pikirannya untuk masa depan, Bagoooozz.

Ketika kami sedang asyik ngobrol, datang adik dan ibuku. Mereka ikut mengobrol bersama kami dan membicarakan kondisi cuaca saat ini. Di sela-sela itu, Danar sedikit mengeluh mengenai sulitnya mencari uang untuk sekedar makan, di tempatnya bekerja sekarang, tenaganya tidak sebanding dengan yang ia dapatkan, tapi aku bilang, ”kita harus bersyukur” banyak teman-teman kita yang tidak seberuntung kita, banyak teman-teman kita yang masih menganggur dan belum mempunyai penghasilan sendiri, dan jangan terlalu fokus pada uang bila kita ingin bekerja, minimal di tempat kerja, kita bisa belajar banyak tentang berbagai hal, dan kita harus sadar, bahwa pengetahuan yang kita dapatkan, mahal harganya”. Dalam keseriusan itu, ibuku mengomentari, ”iya, mending jadi tukang patri aja, kerjanya sedikit tapi uangnya bisa lumayan”, kami dibuat bingung olehnya, ”ko’ bisa?” tanyaku, ”ya bisalah, coba aja perhatiin klo tukang patri lagi lewat, ia pasti teriak... ’patribuuuu.... patribuuuu...patribuuuu...’, tuh belum kerja aja dia udah dapet empat ribu” lalu kami semua tertawa geli.... ”hahahah..... iya.. ya” ujar danar. Belum sampe situ aja kata ibuku, ”udah selesai matri, dia masih dapat bonus lagi ”maribu....maribu”,... hehe,,, dapet lima ribu deh, padahal Cuma pamit aja”, bayangin aja sekali ada objek bisa dapet sembilan ribu!, hehehe..,.. ”kontan itu membuat kami tertawa geli,... ”hahaha.... bisa aja nich!”

Usai itu aku dan danar pamit keluar, untuk mengunjungi temanku yang lain. Kebetulan ada seniorku yang telah menikah di awal Januari kemarin, tetapi mereka menikahnya di Kota Madiun, dan kami belum sempat bersilaturahmi. Mumpung lagi ada waktu luang, ya sudah, tuing,... kamipun ke rumahnya. Di sana sudah ada temanku yang lain, dan kami mengobrol buanyak sekali, karena memang sudah lama tidak bertemu.

Sekitar pukul 10 malam kami pamit, karena esoknya harus mulai bekerja lagi. Sesampainya di rumah, sebelum beranjak ke peraduan, aku sempatkan untuk membaca beberapa catatan untuk ujian hari ini, setelah dirasa cukup akhirnya aku memejamkan mata dan,.. zzzzz..zzzzz.

Ketika Cinta Berbuah Duka

Written by Sachdar Gunawan | Monday, January 29, 2007 | | 0 Comment »

Untuk sahabatku, yang sedang dipersimpangan jalan


Mana Senyum yang dulu terukir bersama lesungmu
Mana tawa renyah yang pernah menghiburku

Aku dengar ada kemurungan dibalik tetawamu
Aku lihat pandangan kosong dari mata lentikmu
Aku tanggap ada kekecewaan pada sikap lugumu
Sepertinya ada kesedihan yang sangat mendalam

Kaupun angkat bicara mengisahkan kepahitanmu
Semuanya mengenai kesetiaan yang menjadi kenangan
Keterlukaanmu meninggalkan bekas yang tak tersirat
Kesakitanmu memekik perih jauh di dalam lubuk hatimu

Kepolosanmu mengartikan sebuah kesederhanaan
Tapi bukanlah kebodohan yang bisa dipermainkan

Ketulusanmu pada cinta yang belum semestinya
Menorehkan aib yang berimbas pada kesucianmu
Walaupun ketidakberdayaanmu menghadapi nafsunya
Sadarlah, lelaki itu bukanlah yang terbaik untukmu

Ketika sayang berbuah cinta, dan cinta itu cinta buta
Maka mata hatimu akan ikut terbutakan olehnya

Keluarlah dari bingkai asmara derita itu
Kuburlah sedalam kau merasakan getirnya
Saatnya mencipta ruang baru untukmu
Saatnya membingkai indah kehidupanmu

Hidupmu bukan untuk kau sesali, tapi untuk kau lalui
Kesalahanmu bukanlah akhir dari kisah hidupmu
Saatnya kau pecahkan batu besar yang ada dihadapanmu
Saatnya kau bangkit dari keterpurukanmu itu

Berjuanglah wahai sahabatku!
Aku di sini mendukungmu!

Berdirilah teman baikku!
Aku akan mendampingimu!


Jadikanlah masalah sebagai sarana peningkatan diri

Written by Sachdar Gunawan | Friday, January 26, 2007 | | 0 Comment »

Suatu hari keledai milik seorang peternak jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis dengan memilukan selama berjam-jam, sementara si peternak memikirkan apa yang harus dilakukannya. Akhirnya, Ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun [ditutup - karena berbahaya], jadi tidak berguna untuk menolong si kambing. Ia mengajak para tetangganya untuk datang membantunya. Mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur.

Pada mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian. Tetapi kemudian, semua orang takjub, karena si keledaimenjadi diam. Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu.

Sementara para tetangga si peternak terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, si keledai terus juga menguncangkan badannya dan melangkah naik. Segera saja, semua orang terpesona ketika si keledai meloncati tepi sumur dan melarikan diri !

Kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran kepada kita, segala macam tanah dan kotoran. Cara untuk keluar dari 'sumur' adalah dengan mengguncangkan segala tanah dan kotoran dari diri kita dan melangkah naik dari 'sumur' dengan menggunakan tanah dan kotoran tersebut sebagai pijakan.

Dalam kehidupan ini masalah selalu menghampiri kita bertubi-tubi, bila kita lengah kita bisa terjatuh ke dalam sumur yang sangat dalam, dalam kondisi seperti ini, masalah tidak henti-hentinya datang kepada kita, sudah jatuh tertimpa tangga pula, dalam keadaan terjatuh, masalah masih terus berdatangan, mungkin awalnya kita sedih dan sering mengeluh, tapi kita harus sadar, kita perlu tau bahwa dari setiap masalah pasti akan terdapat hikmahnya, setiap masalah kita merupakan satu batu pijakan untuk melangkah. Kita dapat keluar dari 'sumur' yang terdalam dengan terus berjuang, jangan pernah menyerah!jadi, hadapi masalah-masalah itu, karena sesungguhnya masalah-masalah itulah yang membuat kita naik kepada puncak kesuksesan.

Lepaskan Topeng Itu

Written by Sachdar Gunawan | Thursday, January 25, 2007 | , | 0 Comment »

Saat Bangun tidur, saat bercermin, setelah melihat diri sendiri, kita kaget, karena kita telah berubah menjadi monster seribu mulut dan seribu tangan

Tidak lama kemudian, karena ketakutan, kita takut pada diri kita sendiri, kemudian kita bersembunyi dibalik tempat tidur untuk menghindari orang lain.

Dalam kegelapan dan kegelisahan, kita bingung kenapa kita berubah menjadi monster yang sangat menakutkan, apa arti semua ini?

Banyak diantara kita hidup dengan topeng seribu mulut dan seribu tangan seperti monster itu, mulut istilah untuk si banyak bicara, dan tangan si kemaruk [serakah]. Seringkali kita bicara apapun yang kita suka dan yang disukai orang lain walaupun hal itu sangat jauh dari kebenaran, kita sengaja membual untuk menjaga image kita agar tetap dipandang baik, berbohong sedikit hanya untuk sekedar menambah popularitas kita, walau kadang harus memfitnah seseorang yang kita anggap sebagai saingan kita. Seringkali juga tangan kita aktif bekerja, berusaha untuk bisa bertahan hidup, halal atau haram sudah tidak menjadi soal, asalkan kebutuhan terpenuhi, bisa menjadi kepuasan tersendiri walau apa yang kita lakukan, apa yang kita terima, apa yang kita ambil, adalah hak orang lain.

Ketika kita berada di tengah-tengah khalayak, kita merasa diri kita bangga dengan status kita, kedudukan kita, serta apa-apa saja yang telah kita raih, tapi saat kulit kita mulai terkelupas, terlihat diri kita yang sebenarnya, kelicikan kita, ke-aroganan kita, kita akan malu dan bersembunyi sejauh-jauhnya dari tempat itu.

Bila tidak ingin selama hidup bersembunyi di balik tempat tidur,. Lepas topeng kemunafikan itu, jadilah diri sendiri, hidup apa adanya, rasakan kehadiran Tuhan, berbagi dengan sesama, dan raih kebahagiaan.

Rawatlah Harimau Itu

Written by Sachdar Gunawan | Wednesday, January 24, 2007 | , | 0 Comment »

Suatu pagi di halaman rumah, terlihat seorang anak dan paman sedang bersantai, sang paman asyik membaca koran, dan si anak membaca komik detektif conan kesukaannya. Suasana begitu tenang, hingga terdengar sebuah percakapan.

”Ayah”
”Hmm... ya!” jawab sang paman pelan, sambil meneruskan bacaannya

”beberapa malam ini, aku bermimpi aneh, dalam mimpiku, ada dua ekor harimau yang terlihat sedang berkelahi dalam hatiku, gigi mereka tampak runcing dan tajam, keduanya sibuk mencakar dan menggeram, seperti saling ingin menerkam. Mereka tampak saling ingin menjatuhkan” ia diam sejenak, sambil menutup bacaan komiknya, lalu melanjutkan ceritanya,”harimau yang pertama terlihat baik dan tenang, geraknya perlahan namun pasti, badannya pun kokoh dan bulunya teratur, walaupun suaranya keras, tapi terdengar menenangkan buatku”

sang paman mulai serius mendengarkan, perhatiannya kini tertuju kepada keponakannya itu, dengan koran masih terbuka di hadapannya.

”tapi, paman, harimau yang satu lagi tampak menakutkan buatku, geraknya tak beraturan, sibuk menerjang tak karuan, ia seperti terbakar emosi, punggungnya kotor dan bulu yang koyak, suaranya parau dan sangat tidak mengenakan di telinga”

”aku bingung, apakah maksud dari mimpi ini, apakah harimau-harimau itu adalah gambaran dari sifat-sifat baik dan buruk yang ada dalam diriku? Lalu, harimau yang mana yang akan memenangkan pertarungan itu, karena sepertinya mereka sama-sama kuat!”

melihat keponakannya yang mulai beranjak remaja itu sedang bingung, sang paman meletakkan korannya, lalu mulai angkat bicara ”pemenangnya adalah, yang paling sering kamu beri makan!” paman tersenyum, dan kembali membaca korannya.
Sahabat, begitulah. Setiap diri kita, punya dua ekor "harimau" yang selalu bersaing. Keduanya, memang selalu saling menjatuhkan. Mereka berusaha untuk menjadi pemimpin bagi yang lainnya. Pertarungan diantara mereka, tak pernah tuntas, karena bisa jadi sering terjadi pergantian pemenang bagi keduanya. Kalah-menang, dalam persaingan macam ini, layaknya mata koin yang selalu berganti-ganti. Dan kita sering dibuat bingung, sebab kedua kekuatan baik-buruk ini terlihat sama kuatnya.Tapi, siapakah pemenangnya saat ini dalam diri Kita? Harimau yang kokoh, dengan bulu-bulu yang teratur, dan gerakan yang mantap serta pasti, ataukah harimau yang sibuk menerjang kesana kemari, dengan bulu-bulu yang koyak, dan seringai yang menakutkan? Lalu, harimau macam apa yang kini sedang menguasai Kita, "harimau" yang optimis, pantang menyerah, tekun, sabar, damai, rendah hati, dan toleran, ataukah "harimau" yang pesimis, tertekan, mudah menyerah, sombong dan penuh dengki?Aku percaya, kita sendirilah yang menentukan kemenangan bagi kedua harimau-harimau itu. Jika kita sering memberi "makan" pada harimau yang damai tadi, maka imbalan kebaikanlah yang akan kita dapatkan. Jika kita terbiasa untuk memupuk optimis dan pantang menyerah, maka "harimau" keberhasilanlah yang akan kita peroleh. Namun sebaliknya, jika setiap saat kita memendam marah, menebar prasangka dan dengki, bersikap tak sabar dan mudah menyerah, maka, akan jelaslah "harimau" macam apa yang jadi pemenangnya.
Teman, biarkan "harimau-harimau" penuh semangat hadir dalam jiwa Kita. Rawatlah harimau-harimau itu dengan keluhuran budi, dan kebersihan nurani. Susunlah bulu-bulu kedamaiannya, cermati terus rahang persahabatannya. Perkuat punggung optimisnya, dan pertajam selalu kuku-kuku kesabaran miliknya. Biarkan harimau ini yang jadi pemenang.
Namun, jangan biarkan "harimau-harimau" pemarah menguasai pikiran Kita. Jangan pernah berikan kesempatan bagi kedengkian itu untuk membesar, dan menjadi penghalang keberhasilan. Jangan biarkan rasa pesimis, jiwa yang gundah, tak sabar dan rendah diri menjadi pemimpin bagi Kita.

Sudahkah kita merawat harimau kita?

Pecahkan telur itu!

Written by Sachdar Gunawan | Monday, January 22, 2007 | , | 1 Comment »

Tiga kata ini terinspirasi dari kejadian sederhana di kantor tempatku bekerja, hampir setiap hari Jum’at, selepas jam kerja, kami menyempatkan diri untuk berolahraga, walaupun hanya olahraga ringan [badminton] tapi itu cukup membuat kami merasa lebih fresh setelah seharian bekerja, juga membuat fisik kami sehat serta lebih mengakrabkan hubungan emosional kami, sebagai partner kerja. Dalam satu pertandingan, group A dan B bertanding, dilihat dari kemampuan group B lebih unggul. Dan terbukti saat akhir set pertama group A hanya diberi angka “0” [nol]. Tapi itu tidak menurunkan semangat mereka, pada set kedua mereka yakin bisa mengejar ketinggalan. Memasuki set kedua, pemain pertama group A berdiri agak kedepan untuk melakukan servent, dan pemain kedua berdiri tepat beberapa langkah di belakangnya, sebelum melakukan servent, pemain kedua menyemangatinya dengan berkata “Pecahin telurnya!” mungkin penonton yang lain tidak memperhatikan apa yang baru saja diucapkan, tapi kata-kata itu membuatku terdiam sejenak mencoba memutar otak untuk mengerti maksudnya. bagiku kata-kata itu sederhana tapi memiliki makna yang tidak sederhana. Bila kita menggali maknanya lebih dalam, tidak hanya sebagai ucapan penyemangat, tapi merupakan ucapan perenungan. Pada akhir set kedua group A berhasil mengejar ketinggalan dengan skor terakhir 28-30, dan dimenangkan oleh group B. bukan masalah sudah berapa kali kita bertanding, atau sudah berapa lama kita bertanding tapi apakah kita sudah berusaha merubah nilai kita, apakah kita ingin selalu mendapatkan point seperti telur [baca:nol], apakah kita sudah memecahkan telur itu!

Bila kita refleksikan dalam kehidupan nyata, mungkin saat ini kondisi kita telah sampai pada satu titik puncak kejenuhan, dan sudah hukum alam bila kita telah sampai pada titik itu, kita akan kembali pada posisi ”0” [nol]. berapa lama lagi kita memposisikan diri kita pada titik itu? Dalam ilmu matematika angka nol tidak ada nilainya, begitupun dalam kehidupan, tidak peduli sudah berapa lama kita hidup atau sudah berapa umur kita sekarang, yang terpenting adalah sudahkah kita melangkah untuk memperoleh nilai. ”Pecahkan Telur Itu!” bila dimaknai lebih dalam, setelah telur pecah, akan ada kehidupan baru lagi, anak ayam itu akan lahir, bayi ular itu telah muncul dan bebek mungil itu telah terlahir. Sanggupkah kita hidup dengan kondisi yang stag [baca:terhenti], tanpa ada peningkatan sedikitpun, apakah kita mau dalam hidup ini hanya mendapatkan nilai seperti telur [baca:nol], sudah saatnya memecahkan telur itu, sudah saatnya kita mengambil keputusan untuk melangkah, naik, berkembang dan hijrah kepada kehidupan yang lebih baik, kehidupan yang lebih berwarna, kehidupan yang lebih cerah.

Kita akan berada di mana 15 tahun mendatang?

Written by Sachdar Gunawan | Friday, January 19, 2007 | , | 3 Comment »

Ketika kesendirian menghampiriku, hanya pikir yang menemaniku, terbesit beberapa hal yang terjadi hari ini, mulai dari bangun tidur, aktivitas di kantor, di kampus hingga saat ini, ku biarkan lamunanku mengembara, hingga sampai pada satu titik yaitu ”penyesalan”, aku menyesal hari-hari ku yang lalu, aktivitasku yang lalu, hanya sedikit yang berkualitas, sebagian besar hanya kegiatan yang menyita banyak waktuku, kegiatan yang hanya membuat senang nafsuku. Dulu, sedikit sekali aku belajar mengenai hidup. Tapi aku tidak boleh menyalahkan diriku seperti ini, karena itu tidak menyelesaikan masalah, justru seharusnya aku bangkit dari kediaman ini, dan hari ini, saat ini, detik ini, adalah waktu yang tidak boleh dilewatkan untuk mereformasi diri.

Beberapa tahun ke depan, mungkin kita akan sampai pada kondisi tertentu, bisa jadi kita menjadi orang gagal, atau bahkan orang yang sukses, atau dalam prespektif lain, mungkin kita sudah sampai pada suatu tempat, tapi apakah itu benar-benar tempat yang baik buat kita, apakah itu memang tujuan yang ingin kita capai.

Kondisi kita saat ini, adalah berkat usaha kita yang kemarin, kondisi kita di depan nanti adalah berkat usaha kita saat ini, apa yang terjadi kapanpun, adalah berkat usaha kita sendiri. Tidak masalah jika kondisi sekarang kita sedang jatuh atau terpuruk, karena bila kita ingin masa depan kita cerah, kita bisa bangun dari keterpurukan.Yang perlu diperhatikan adalah kondisi kita di depan nanti. bila kita ingin sukses, buat perencanaan yang matang, buat daftar point-point penting yang perlu kita lakukan untuk mencapai semua itu, lakukan secara bertahap dan berkesinambungan, tetaplah fokus pada tujuan yang ingin kita capai.

Bila saat ini kita hanya menghabiskan waktu dengan aktifitas yang tidak bermanfaat, sia-sia, membuang banyak waktu, tunggulah masa kejatuhan kita. Kalau saat ini kita mempunyai target-target yang harus dicapai, mengisi hari-hari kita demi peningkatan diri, berusaha keras, menganggap masalah yang ada sebagai tantangan yang harus dihadapi, mau hidup susah karena yakin di depan nanti akan ada masanya untuk berbahagia, selalu optimis dalam menyikapi hidup, insya Allah nantinya kita mendapatkan kehidupan yang kita damba, seperti biji mangga yang kita tanam, lalu dengan sabar kita menyiramnya setiap hari, memberi pupuk, merawatnya, melindunginya dari parasit atau benalu, hingga saatnya tiba, kita akan panen dengan buah yang sangat manis dan lezat.

Banyak orang yang tidak menyadari, bahwa sukses besar adalah hasil yang dicapai dari sukses-sukses kecil. Dan telah melewati periode yang sangat panjang. Orang yang benar-benar sukses adalah pemikir jangka panjang. Mereka tahu harus mencapai prestasi demi prestasi dan terus menerus belajar cara baru dan cara yang lebih baik dalam melakukan sesuatu. Tinjauan secara teratur tentang kemajuan kita merupakan bagian yang mendasar dalam menentukan tujuan. Sebuah tujuan tak lebih dari hasrat yang lebih besar jika mempunyai jadwal penyelesaian. Usahakan agar rencana hidup kita terdiri dari tujuan jangka pendek, menengah dan panjang. Revisi tujuan kita sesuai tuntutan keadaan. Periksa lagi jika sudah diselesaikan, sesudah itu tentukan tujuan baru dan lebih besar sejalan dengan perkembangan kita. Sering luangkan waktu untuk merenung, untuk meyakinkan diri sendiri bahwa kita berada di jalur yang tepat

Sudahkah kita berterimakasih?

Written by Sachdar Gunawan | Thursday, January 18, 2007 | , | 0 Comment »

Ups! Hari Minggu kemarin aku pulang larut sekali dan tidak sempat menyiapkan pakaian kerjaku, kebetulan hari itu aku baru pulang dari Bandung menghadiri pernikahan sobatku, karena hari libur, aku pulang ke tempat ibu. Setelah shalat subuh karena terlalu lelah, aku lanjutkan lagi tidurku, dan baru bangun sekitar pukul setengah delapan pagi! Waduh… sudah pasti aku akan telat sampai kantor, mana pakaianku belum diseterika lagi!! sebelum mandi aku minta tolong ibuku untuk menyeterika pakaianku, setelah selesai aku berpakaian, menyiapkan perlengkapan kerja, dan pamitan. Dalam perjalanan aku seperti lupa akan sesuatu,… hmmm! Ohya.,. aku lupa bilang terimakasih kepada ibuku, padahal tadi aku sudah minta tolong, apa jadinya jika pagi itu aku menyeterika sendiri, bisa-bisa sampai kantor jam sepuluh-an. Maaf ya bu!

Mungkin diantara kita ada yang berpikir bahwasanya apa yang kita raih selama ini adalah berkat usaha sendiri, tidak ada satu orangpun yang berperan dalam kesuksesan kita, jabatan yang kita sandang di tempat kita bekerja, promosi atas prestasi yang kita raih, atau perusahaan besar yang kita kelola, rumah yang besar dan selalu bersih, makanan yang selalu tersedia ketika kita lapar, mobil yang mewah, istri yang cantik dan penyayang serta anak-anak yang lucu.

Apakah kita yakin semua berkat usaha sendiri? siapa yang melahirkan kita? Yang menyusui kita? Yang merawat kita sewaktu kita masih kecil? Siapa yang menghidangkan makan kita ketika kita belum bisa berjalan? Yang mengajari kita membaca dan menulis? Siapa yang mensupport kita ketika kita sedang jatuh? Yang mau menemani kita ketika sedang bermasalah? Siapa yang meminjamkan modal pertama kita, sewaktu ingin membuka usaha? Siapa petugas pemerintah yang telah memberikan izin kepada kita untuk membuka usaha? Siapa sekretaris kita yang selalu membantu kita, dan mengingatkan kita akan jadwal rapat yang harus dihadiri? Siapa yang membersihkan toilet di kantor ataupun di rumah? Siapa yang telah menyiapkan air minum kita di meja kerja ketika kita ingin minum? Siapa yang mengantar jemput kita ke kantor dan ke rumah? Siapa yang merawat rumah kita? Siapa yang membersihkan kebun kecil kita? Siapa satpam yang telah menjaga rumah kita? Siapa yang telah mempertemukan kita dengan wanita cantik yang kini menjadi istri kita? Siapa yang telah mengasuh gadis manis hingga menjadi wanita dewasa yang cantik yang kini telah mengasuh anak-anak kita? Bila kita masih bersikeras bahwa tidak ada satu orangpun yang berperan, pertanyaan yang terakhir ialah, siapa yang telah membutakan mata kita dan memberi kita hati yang bodoh, angkuh dan tak tahu terimakasih.

Evaluasi untuk Keseimbangan Hidup [2]

Written by Sachdar Gunawan | Thursday, January 18, 2007 | , | 0 Comment »

Dari pengalamanku tersebut, aku coba merumuskan point-point yang perlu diperhatikan untuk menyeimbangkan hidup kita, sedikit penjelasan dari gambar di atas, kehidupan kita seperti kurva yang ada pada gambar tersebut, kehidupan yang seimbang akan membentuk kurva yang memiliki nilai sudut hampir sama, katakanlah kehidupan ekonomi kita lebih dari cukup, tapi kehidupan spiritual kita tidak pernah diperhatikan, ini berarti kehidupan kita tidak seimbang, sehingga kurva yang dihasilkan juga tidak simetris, atau contoh lain, kehidupan spiritual kita sudah baik, tapi hubungan kita dengan keluarga dan orang lain terbengkalai, ini juga tidak baik, kurva yang baik, memiliki simetri yang hampir sama, ini menggambarkan kehidupan yang seimbang, kehidupan yang kita harapkan, kehidupan yang penuh kebahagiaan.

Mari kita luangkan waktu untuk mengevaluasi diri kita, orang bijak mengatakan sebelum kita melihat orang lain, lihatlah diri kita dulu, sebelum menilai orang, nilailah diri kita telebih dahulu. Beberapa pertanyaan berikut bisa menjadi barometer mengenai kondisi kita saat ini, dengan begitu, kita mengetahui bagian hidup mana dari kita yang tidak seimbang, sehingga kita akan mempertahankan bagian yang sudah cukup seimbang dan memperbaiki bagian yang tidak seimbang, entah itu terlalu rendah atau terlalu tinggi.

Bagaimana kehidupan spiritual kita? Apakah kita sudah melakukan kewajiban kita sebagai manusia kepada penciptanya? Apakah kita sudah cukup dekat dengan Allah? apakah kita menjalankan ibadah sesuai dengan syariat yang sudah ditentukan? Apakah kita shalat tepat waktu? Apakah kita sudah bersikap baik terhadap sesama? Apakah kita sering melakukan kemaksiatan?

Bagaimana keadaan emosi kita? Apakah kita mudah stress? Apakah kita mudah marah? Apakah emosi kita sudah stabil? Apakah kita bisa menyikapi persoalan hidup dengan bijaksana?

Bagaimana kondisi fisik kita? Apakah kita sering sakit? Apakah kita cukup berolahraga? Apakah makan kita teratur? Apakah istirahat kita cukup?

Bagaimana kondisi keuangan kita? Apakah kita bebas dari hutang? Apakah kita sudah menabung? Apakah pengeluaran kita lebih besar dari pemasukkan? Apakah kita sudah bisa mengontrol keuangan kita?

Bagaimana hubungan kita dengan keluarga? Apakah hubungan kita dengan orangtua, adik, kakak, suami/istri, atau anak sudah cukup baik? Apakah kita bermasalah dengan mereka? Apakah kita sudah meluangkan waktu untuk mereka? Apakah mereka menghargai kita? Apakah kita menghargai dan menghormati mereka? Apakah kita menyayangi mereka?

Bagaimana hubungan kita dengan orang lain? Teman-teman, tetangga, sahabat, atasan, dosen, dan relasi lain. Apakah kita cukup akrab dengan mereka? Apakah kita bermasalah dengan mereka? Apakah kita sudah cukup meluangkan waktu untuk mereka?

Bagaiman pengetahuan kita sekarang? Apakah kita cukup menguasai bidang pekerjaan kita? Apakah kita bisa mengikuti pelajaran di kampus? Apakah kita mengikuti perkembangan informasi terbaru [teknologi, sosial, ekonomi, dll]? Apakah kita cukup peka terhadap kejadian yang terjadi di sekitar kita?

Jika kita sudah mengevaluasi diri kita, tentukan nilainya, lalu buatlah kurva seperti yang dicontohkan, apakah kurva kita cukup simetris? Apakah kehidupan kita sudah seimbang? Apakah kita sudah bahagia?


Evaluasi untuk Keseimbangan Hidup

Written by Sachdar Gunawan | Wednesday, January 17, 2007 | , | 0 Comment »

Dalam setiap kesempatan, entah itu saat luang di kantor, sebelum beranjak tidur, saat istirahat, aku selalu menyempatkan diri untuk mereview ulang aktivitasku, aku membiasakan hal ini karena merupakan hal penting yang harus aku lakukan untuk menyeimbangkan kehidupanku. Aku tidak mau statis, tapi dinamis, karena manusia yang baik ialah manusia yang senantiasa melakukan perubahan kearah kebaikan, dan bermanfaat untuk manusia lain.

Point pertama yang selalu menjadi awal diriku bercermin ialah kehidupan spiritualku, aku merasa diri ini masih fana sekali, shalatku terkadang telat, dan saat shalat pikiranku suka melayang entah kemana, tahajudku juga sering absent, tilawahku hanya kulakukan ketika aku ingat, dan do’a-do’aku terucap tanpa ada keyakinan dari diriku sendiri, terkadang juga ucapanku tanpa sengaja keluar dari mulutku dengan kata-kata yang tidak terpuji, sehingga seringkali aku memilih diam daripada banyak bicara, sikapku belum pantas dijadikan teladan adik-adikku, prestasiku tidak pantas dijadikan sebagai kebanggaan bagi orangtuaku, banyak sekali ibadah yang harus aku benahi.

Yang kedua adalah kondisi emosiku, dulu aku mudah sekali stress, saat banyak masalah menimpaku, makanku menjadi tidak teratur, hidupku tidak tenang, ibadahku seringkali terlupakan, aku berubah menjadi pemarah, prestasiku menurun drastis, tidak ada gairah untuk beraktivitas, tapi sekarang aku berusaha untuk mengendalikan emosiku, ada saatnya kita tertawa, ada saatnya kita bersedih, ada saatnya kita berbagi, ada saatnya kita menyendiri.

Yang ketiga adalah kondisi fisikku, aku merasa diriku kurang darah, karena saat aku merasa fit, tapi justru terlihat oleh orang, lemas! memang olahragaku tidak teratur, kalaupun iya hanya olahraga biasa seperti bulutangkis dan olahraga ringan [push-up, sit-up dan angkat beban”barbel”], ditambah lagi dengan alergi air es! Setiap kali aku meminum air dingin, entah itu soft drink, atau juice dingin yang terlalu berlebih, radang tenggorokanku akan kambuh, dampaknya, sakit! saat menelan, dan bila sudah parah bisa menjadi batuk dan demam.

Aku juga harus mengevaluasi kondisi keuanganku, sebagai mahasiswa dan karyawan swasta, yang gajinya tidak seberapa, aku harus membagi penghasilanku dengan yang lain, biaya kuliah, biaya kos dan sebagian untuk keluarga, belum lagi dengan hutang-hutangku, kalau aku tidak pandai mengatur uang, bisa lebih besar pasak dari pada tiang.

Hubunganku dengan keluarga juga harus aku perhatikan, terutama dengan orangtua, adik dan kakakku, mungkin kalau aku sudah berkeluarga, istri dan anak-anakku harus lebih aku perhatikan. keluarga sebagai awal pembentukkan karakterku, menjadi tanggung jawabku terhadap kelangsungannya, karena dari situlah aku dibesarkan dan dibentuk hingga menjadi diriku yang seperti sekarang. Hanya saja waktuku terhadap mereka aga berkurang, setelah 3 tahun lalu aku memutuskan untuk kos ditempat lain, lantaran aku melanjutkan studyku di sekolah tinggi, jadi wajar saja bila setiap libur aku ingin segera mengunjungi mereka.

Selain itu, aku juga harus meriview hubunganku dengan orang lain, tetangga di rumah, di tempat kos, teman-temanku di rumah, di tempat kerja, di kampus, atau para relasiku yang lain, atasanku di tempat kerja, dosenku di kampus beserta staffnya, dan yang terpenting para sahabatku yang menjadi tempat sharing dan selalu setia berbagi denganku. Tapi karena kondisiku yang sekarang aku aga kurang berhubungan dengan teman-temanku di rumah, tapi walaupun hanya seminggu sekali pulang, aku berusaha untuk menyempatkan diri bertemu mereka. Memang hal tersulit ialah mempertahankan suatu hubungan, mencari teman tidak semudah mencari musuh.

Dan point yang terakhir ialah mengenai pengetahuanku, tentunya aku harus menguasai bidang kerjaku, keahlianku dan berbagai disiplin ilmu yang menunjang kepribadianku, termasuk mata kuliah yang aku ambil di kampus, serta informasi-informasi penting yang sedang terjadi, untuk mencapai itu semua inderaku harus aku kerahkan, membaca berbagai media sebagai sumber informasi, melihat kondisi yang sedang terjadi, memperhatikan peristiwa terbaru dan mencoba menela’ah setiap kejadian yang terjadi.

Bersambung….

Rindu Yang Tertahan [2]

Written by Sachdar Gunawan | Wednesday, January 17, 2007 | | 0 Comment »

Sejak 2 tahun lalu, sudah menjadi kebiasaanku untuk memindahkan sms-sms berkesan yang ada di ponselku ke dalam komputer. isinya beraneka ragam, pesan-pesan yang berkesan, puisi-puisi bagus, tausiyah, nasehat, pecakapan dengan seseorang yang aku anggap teman baik, ucapan selamat Milad [hari lahir], Idul Fitri, dan Idul Adha serta pesan-pesan lucu yang menurutku perlu didokumentasikan. Di saat luangku, seringkali aku membuka kembali file itu, dan terkadang aku tersenyum membacanya, bahkan senyumku mengembang dikala mengingat historynya. Hmmm…. J

Saat ini aku sengaja membuka kembali file-file itu, beberapa menit lalu aku membaca sms yang isinya percakapanku dengan salah satu sobatku, aku kenal ia dari temanku di Bandung yang merupakan adiknya sendiri, sudah 1 tahun lebih aku mengenalnya sejak Juni 2005 lalu, tapi belum berjumpa dengannya, di awal-awal perkenalan, kami cukup akrab, tapi hanya sebatas sharing pengalaman saja, pernah beberapa kali kami berencana untuk bertemu, tapi tidak pernah jadi, ya mungkin memang belum diberi kesempatan oleh Allah, dalam satu bulan aku sempatkan diri untuk menghubunginya, atau kadang sebaliknya ia yang menghubungiku, walau sekedar sms tapi itu cukup membuatku senang bisa tau kabarnya. Mungkin aku salah satu orang yang sangat menghargai persahabatan, ibarat tanaman, bila kita ingin tanaman kita tumbuh dengan baik, maka harus rutin disiram dan dipupuk dengan baik. Seperti halnya persahabatan, komunikasi rutin yang baik adalah air dan pupuknya.

Hanya saja 5 bulan terakhir aku hilang komunikasi dengannya, entah kenapa, tiba-tiba ia menghilang tanpa memberikan informasi apapun kepadaku, sejujurnya, saat ini aku rindu dengannya, aku rindu kesederhanaannya, kedewasaannya, keibuannya, dan aku rindu saat aku berselisih paham dengannya!haha.. tapi aku berusaha untuk tetap menomorsatukan kerinduanku kepada-Nya.

Aku berharap akan ada titik terang tentang keberadaannya, aku berharap bisa bersua kembali dengannya, aku masih ingat kesepakatan yang pernah kita buat, aku masih ingat suatu saat kita akan bertemu, aku yakin pada saatnya nanti, pertemuan itu akan menjadi sesuatu yang indah, dan menjadi kenangan manis yang paling berkesan.

Ya Allah jagalah hatiku dari penyakit hati, jagalah diriku dari hal-hal yang bisa menjauhkanku dengan-Mu, jangan sampai rasa rinduku kepada hamba-Mu yang lain, melebihi rinduku kepada-Mu.

Bandung Euy..!!

Written by Sachdar Gunawan | Tuesday, January 16, 2007 | | 0 Comment »

Minggu Pagi itu, 14 januari, sekitar pukul 6.30 WIB, aku tiba di rumah, mengganti pakaianku, men-set alarm untuk jam 9 nanti, lalu beranjak ke-peraduan. Saat itu aku ngantuk sekali, karena sabtu kemarin dari pukul 10 pagi hingga sore aku mengikuti acara yang diadakan blogfam [blogger family] setelah itu, ba’da maghrib mendapatkan undangan untuk mabid di Masjid kampus Jayabaya, Pulo mas, dan acara baru selesai ba’da subuh tadi. Setelah itu aku langsung pulang. Sengaja aku set ponselku jam 9, karena pada hari itu aku mendapat undangan pernikahan dari sobatku di Bandung, tapi karena terlalu lelap, saat alarm berbunyi, aku bangun sebentar, mematikan alarm, dan tidur lagi! Hehehe… maklum aja karena kemarin seharian beraktifitas dan malamnya belum cukup istirahat

Sekitar pukul sebelas aku bangun, karena tersadar akan rencanaku ke Bandung. Setelah bersih-bersih diri, menyiapkan pakaian, ba’da dzuhur aku pamit kepada orangtuaku untuk pergi ke Bandung. Aku sengaja mengambil jalur UKI daripada Kp. Rambutan, karena lebih dekat dari rumahku [kramatjati], baru kali ini aku ke Bandung via Uki, karena setahuku Patas dari Kp. Rambutan, Pulo Gadung atau Lebak Bulus yang menuju Bandung pasti melewati Uki sebagai pintu Tol Cikampek. Karena hari minggu aku tidak kesulitan menemukan Patas AC yang menuju Bandung, apalagi Patas yang aku naiki memang sepi, sekitar 10 orang penumpang. Sekitar 15 menit Patas Ngetem [singgah] untuk menunggu penumpang lain, setelah itu supir langsung menginjak pedal gas memasuki tol.

Saat itu kondisiku masih aga lelah, karena tidurku sepertinya kurang cukup, aku coba rebahkan badanku ke kursi, sambil memejamkan mata, dan coba merelax-kan diri, tapi bersamaan dengan itu kondektur menyalakan VCD yang menampilkan artis-artis dangdut lokal! Waduh.. pusing aku... bukan karena aku tidak suka musik itu, tapi karena penampilan para penyanyinya itu. Terus terang saat itu aku sangat risih, mau tidur tapi bising, akhirnya aku santaikan diri ini dengan melihat pemandangan sepanjang jalan, sampai akhirnya mataku lelah, dan tertidur sebentar.

Ketika memasuki tol cipularang aku terbangun, aku coba nikmati pemandangan di sepanjang jalan, kulihat di tepian sawah seorang petani sedang beristirahat, sungai kecil mengalir dengan tenangnya, dan ini mengingatkanku dengan suasana tempat nenek-ku di Bogor, waktu berumur 4 tahun aku sempat tinggal beberapa tahun di sana, biasanya menjelang siang aku dan temanku bermain di pinggir sawah yang baru saja ditanam, untuk mencari kepiting! Dan seringkali kami terlihat oleh pemiliknya, wajar saja klo pemiliknya marah-marah lantaran sawahnya kami injak-injak!hehe...tapi kami ulangi itu hampir setiap hari,...hehe.. dilain waktu aku dan temanku juga suka berenang di sungai, bermain air, dan iseng menangkap ikan kecil, serta kepiting yang bersembunyi di lubang-lubang, suatu ketika aku berhasil menangkap se-ekor kepiting besar, lalu aku bawa ke rumah, di rumah aku main-mainkan kepiting itu, sampai-sampai karena cerobohnya aku, posisi ibu jariku mendekati jepitnya, dan akhirnya aku teriak ”huaaaaaaaaa...” ibu jariku terjepit oleh kepiting besar! Spontan orang-orang disekitar kaget, ibu jariku terasa sakit sekali, 2 menitan dijepit kepiting itu, dan baru terlepas setelah aku hempaskan lenganku ke udara. Aku sempat menangis dibuatnya! Walah,... kapok! Capitannya membekas di ibu jariku, tapi untungnya tidak beracun, dan 3 hari kemudian kondisi jariku normal kembali. Halah.... jadi cerita masa kecil, melanjutkan perjalananku ke Bandung, Patas AC yang aku naiki sudah sampai di Padalarang, pemandangannya memang sungguh indah, kali ini aku melihat kebun teh yang sangat luas, dan ini mengingatkanku saat mengikuti latihan survival [bertahan hidup] bersama TNI AU, dan beberapa MENWA [resimen mahasiswa], kebetulan saat itu aku perwakilan dari Pramuka Saka Dirgantara [pramuka udara], survival diadakan di Parakan Salak, Sukabumi, yang sebagian besar adalah kebun teh, saat makan siang kami membuat sayur daun teh! Hehe... baru kali itu aku mencoba daun teh yang disayur, aga pahit, tapi cukup menyegarkan, karena kami hanya dibekali dengan ½ liter beras, garam, dan kecap, dan itu adalah makanan kami selama 2 malam. Tidak terasa perjalananku sudah sampai Pasir Koja, dan sebentar lagi sudah mendekati ”terminal leuwi panjang”. Tepat 2 jam perjalanan dari Jakarta ke terminal ini, dan aku pikir ini waktu tercepat yang pernah aku lewati, mungkin karena hari itu hari Minggu dan melewati Tol baru Cipularang.

Seingatku ada Patas AC dari terminal menuju rumah sohibku yang bertempat tinggal di Ujung Berung, entah kenapa dinamakan itu [aku menebak, karena memang lokasinya di ujung Bandung]. Setelah aku tanyakan kepada salah satu petugas, ternyata memang ada Patas yang langsung menuju Ujung Berung [trayek leuwi panjang-cibiru] dan orang-orang mengenalnya dengan ”cibiru”. Sebenarnya memang ada alternatif lain, aku bisa menggunakan DAMRI sampai Cicaheum, dan meneruskan dengan angkot kecil menuju Ujung berung, tapi aku pikir lebih nyaman bila sekali jalan aja! Hehe.. ga mau cape’. Hmm... cukup menyenangkan karena jalur yang dilalui adalah jalur-jalur yang aku kenal, keluar dari leuwi panjang patas melewati kebon kalapa, alun-alun, braga, dan ternyata melewati veteran juga [aku pernah menginap di daerah ini], selanjutnya keluar di Jl. Achmad Yani, Cicaheum, lalu melewati jl. Sindang laya, dan Ujung Berung. Patokanku saat itu adalah POM Bensin, berseberangan dengan Perumahan Ujung Berung Indah. Sesampainya di sana dan untuk menghemat waktu, aku naik ojek. Ternyata jaraknya tidak terlalu jauh, tapi setidaknya mempermudah aku mencari alamat sohibku, karena terakhir informasi yang aku terima sohibku itu pindah rumah, tapi tetap satu kompleks.

Setelah sampai di dekat rumahnya, aku kaget karena acaranya sudah selesai, waduh! Aku pikir acaranya sampai malam, tapi ternyata tradisi orang situ, acara biasanya hanya sampai menjelang ashar, baru tau aku! Tapi bukan masalah besar sih, toh, aku bisa bersilaturahmi lebih lama dengan sohibku dan suaminya. Ohya, sohibku bernama Linda Yunita, aku memanggilnya Teh Lin, karena memang usianya diatasku, dan aku menganggapnya seperti kakakku sendiri. Awalnya rencanaku selain datang ke tempat teh lin, juga ingin silaturahmi dengan teman-temanku yang lain, tapi sayangnya waktu yang terbatas, karena aku terlalu siang berangkat dari Jakarta, dan esok hari aku harus kerja, akhirnya selang waktu 2 jam, sekitar pukul 17.30 aku pamit dan langsung menuju Jakarta.

Hari itu aku cukup senang, karena bisa bersilaturahmi dengan sohibku yang sudah lama tidak berjumpa, selain itu aku bisa sedikit refreshing dengan perjalanannya. Ya, walaupun aku hanya sebentar menginjakkan kakiku di kota itu, tapi perasaanku lega, semoga saja ada kesempatan berikutnya, sehingga aku bisa memanfaatkannya dengan berkunjung ke tempat teman-temanku.

Kerentanan Jiwa Berjiwa

Written by Sachdar Gunawan | Monday, January 15, 2007 | , , | 0 Comment »

Ketika kita memutuskan untuk berdunia,
Ibarat berlayar ke awan penuh pekat,
Seperti kain putih yang tercoreng kotornya moral,

Saat batin kita terhimpit,
Dilema dalam mengambil pikir,
Gerak-gerik terkunci nafsu,
Saat itulah syetan tertawa menang.

Tapi itu hanyalah obyek tertantang,
Jikalau dalam hati kita hanya Allah SWT.

Kerentanan jiwa berjiwa,
Membuat insan menjadi nestapa,
Nafsu hanyalah yang berkuasa
Tapi bila sudah tergores pedang suci,
Tertera pena kebenaran,
Harapan akan terpangpang jelas mengokoh,
Mencairkan hati yang beku.
Menerangi gelapnya jiwa

Disiplin sebagai penahan diri

Written by Sachdar Gunawan | Sunday, January 14, 2007 | | 2 Comment »

Sabtu kemarin aku sempatkan diri untuk menghadiri acara yang berjudul “Blog, Buku dan Pergaulan Virtual”, acara ini diadakan dalam rangka Milad Blogfam yang ke-3, sekaligus Re-Launching buku yang berjudul "Flash! Flash! Flash!--Kumpulan Cerita Sekilas", "Biarkan Aku mencintaimu Dalam Sunyi: Email Terbuka SeorangSelingkuhan"--Kumpulan Cerpen Blogfam. Info tentang acara ini aku dapatkan dari milist FLP [forum lingkar pena]. Aga canggung juga sih, karena aku sama sekali baru mendengar ada group yang isinya para blogger dengan nama blogfam, alamat situsnya di http://www.blogfam.com. Tapi karena rasa penasaranku dan keingintahuanku, akhirnya aku paksakan diriku untuk datang.

Sepengetahuanku buku-buku di atas adalah hasil karya para anggota blogfam yang tanpa sengaja dilirik oleh penerbit buku, saat acara itupun para penulisnya hadir. Aku tertarik ketika ada salah satu editor dari penerbit bicara tentang kepenulisan, sudah saatnya para penerbit terjung langsung untuk menjemput bola, ia membuktikannya dengan mencari hasil-hasil karya para blogger dan ia menemukannya di blogfam. Sudah tidak zaman lagi bila penerbit hanya duduk manis di ruang ber-AC menunggu para penulis mengirimkan hasil karyanya. Dan ternyata menulis bisa jadi salah satu alternatif profesi, tentunya jika dilakukan dengan serius dan tekun bisa menjadi profit.

Untuk mencapai sesuatu yang di-inginkan, butuh perjuangan besar, penulis ternama sekalipun akan melakukan itu, tentunya ini berbanding lurus dengan pengorbanan kita, entah itu waktu, tenaga atau pikiran. Untuk menghasilkan satu karya, dibutuhkan waktu yang tidak sebentar, tenaga yang tidak sedikit, dan perhatian penuh dengan berpikir, mancari inspirasi, dan sebagainya. Jangan berharap menjadi penulis handal, jika kita jarang sekali memegang pena, keyboard, atau menulis sesuatu, semuanya butuh proses yang tidak sebentar. Tentunya untuk mencapai itu kita harus disiplin.

Bicara tentang disiplin, aku teringat dengan satu artikel yang aku baca di suatu tabloid, ”alkisah seorang anak dan ayah sedang asyik bermain layang-layang, si anak bertanya kepada ayahnya, ’kenapa layang-layang bisa terbang’, si ayah menjawab ’karena tali” si anak bingung, kenapa bukan angin yah? Lalu si ayah mengambil gunting dan meminta si anak untuk memotong talinya, setelah dipotong si ayah bertanya ’kenapa layang-layang jatuh?’, si anak menjawab ’karena talinya putus’”. Dari cerita di atas pointnya ialah, bahwa sesuatu yang menahan kita, sebenarnya adalah sesuatu yang membuat kita bisa berhasil, seperti layang-layang tersebut, tali berfungsi untuk menahan layang-layang dari terpaan angin, sekaligus yang membuat layang-layang bisa terbang, tapi bila tali itu diputus, layang –layang akan jatuh.

Terkadang kita sulit sekali untuk membiasakan diri kita belajar, menulis setiap hari, membaca buku satu jam sehari, menyisihkan uang untuk ditabung, menahan keinginan untuk membeli sesuatu yang tidak terlalu dibutuhkan, menyisihkan waktu untuk sekedar olahraga, mengeluarkan keringat, menyapa teman-teman yang kebetulan bertemu dengan kita, atau menghubungi saudara yang lama tidak terdengar kabarnya. Tapi kalau saja kita membiasakan diri melakukan hal tersebut, disiplin dalam melakukannya, kita akan merasakan manfaat yang luar biasa kedepannya nanti, entah itu 1 bulan, 1 tahun, 2 tahun, atau beberapa tahun kedepan, tergantung dari usaha kita.

Ruhiyah yang terisi kembali

Written by Sachdar Gunawan | Friday, January 12, 2007 | | 0 Comment »

Seminggu kebelakang hari-hariku sangat membosankan, apa yang aku lakukan tidak jelas juntrungannya[tujuan] dan luntang-lantung tak karuan, karena satu permasalahan membuatku terkena sindrom M [baca;malas] kalau sudah terkena ini, apapun yang dilakukan seperti membosankan, sehingga tidak ada semangat, bahkan untuk berpikir seriuspun sulit. Aku seperti kelaparan akan sesuatu, tetapi aku belum tau apa?

Saat suntuk mengisi sore hari, ponselku berbunyi [ting..tong!] tanda sms masuk, yang isinya “Ass. Pertemuan Liqo kita kali malam ini jam 19.30. tolong infokan ke yang lain. Jazakallah” aku teringat, minggu lalu aku sempat menghubungi akh Reza untuk menanyakan waktu kajian, karena 3 minggu terakhir kami tidak bertemu dengan alasan aktivitasnya yang padat dan ia baru ada waktu kamis kemarin, ohya, akh Reza adalah guru spiritualku, biasanya aku dan beberapa teman kampus mengadakan kajian bersama dengan bimbingan beliau setiap kamis malam.

Ada satu materi yang menurutku menarik dan ini berkaitan sekali dengan kelaparanku akan sesuatu! Pada dasarnya manusia memiliki tiga unsur, Jasadiyah, intelektual dan Spiritual [ruhiyah] , masing-masing unsur butuh makanan yang berbeda, Jasad kita butuh asupan makanan & minuman yang halal, intelektual kita butuh ilmu yang bermanfaat, dan spiritual kita butuh Dzikrullah. Jika ke tiga unsur ini tidak mendapatkan makanan, maka dampaknya akan ada, jika jasad kita tidak diberi asupan, maka kita akan lemas, haus, sakit bahkan bisa mati. Jika Intelektual kita tidak mendapatkan ilmu, dampaknya adalah kebodohan bahkan kemiskinan. Dan dampaknya jika kebutuhan Spiritual kita tidak terpenuhi ialah kebobrokan moral. Jadi ketiga unsur ini memiliki kebutuhan yang masing-masing harus dipenuhi,

Seringkali kita mendengar di sekitar kita, ada pertanyaan ”kita bekerja untuk apa?” dan jawabannya ”untuk sesuap nasi”, atau ada istilah ”makan tidak makan, asalkan kumpul”, ”hidup untuk makan”, tapi jarang sekali kita mendengar istilah ”kita bekerja untuk mendapatkan ridho Allah”, ”ngaji ga ngaji asal kumpul”, atau ”hidup untuk ibadah”.

Dari contoh di atas jelas sekali, kita selalu memprioritaskan kebutuhan jasadiyah kita, padahal justru yang seharusnya paling diprioritaskan adalah kebuhan spiritual kita, jika tidak terpenuhi bukan hanya berdampak kepada diri kita sendiri, tapi orang lain, bukan hanya kebobrokan moral saja, tapi lebih fatal lagi bisa merubah moral kemanusiaan kita menjadi moral kebinatangan, ungkapan hari ini makan apa? akan berubah menjadi hari ini makan siapa?

Bila kondisinya seperti itu, segala macam cara akan dihalalkan, apapun akan kita lakukan hanya untuk sekedar memuaskan nafsu kita atau mengenyangkan perut kita, dan inilah salah satu penghancur fitrah kehidupan.

Dengan materi tersebut aku telah menemukan kelaparan yang aku rasakan, kelaparan ruhiyahku, dan semalam aku menemukan makananku.

Jangan hanya terfokus pada satu masalah

Written by Sachdar Gunawan | Thursday, January 11, 2007 | , | 0 Comment »

Sejak senin kemarin, aku merasa banyak waktuku yang terlewati begitu saja, tanpa hal-hal yang menurutku berkesan, padahal kalau saja aku mau, banyak aktivitas positif yang bisa aku lakukan, contoh saja mentutaskan buku bacaan, menambah vocubulary bahasa inggrisku, atau menambah hafalanku, aku coba berpikir apa penyebab diriku menjadi stag seperti ini, hmm.. ohya memang ada satu hal yang akhir-akhir ini mengganggu pikiranku, satu hal itu menyangkut aktivitas, dan masa depanku, sebenarnya mengenai suatu kewajiban yang harus aku selesaikan! hmm… pasti sahabat yang membaca bingung! Yang pasti, karena masalah itu pikiranku jadi fokus ke sana, sehingga masalahku yang lain jadi terbengkalai, selain itu rutinitas harian yang menjadi kewajibanku hanya beberapa saja yang terlaksana. Waduh! Klo dibiarkan saja, bisa menghancurkan diriku.

Ketika kita mendapat satu masalah, mungkin kita dapat mengatasinya dengan mudah, ketika dua masalah datang kepada diri kita, kita juga mungkin dapat mengatasinya , tapi bila masalah yang datang lebih dari dua, mungkin kita akan mengalami kesulitan dalam mengatasinya. Misalkan saat ini kita sedang mendapatkan beberapa masalah, dan kita sedang berusaha mengatasinya, kemudian datang lagi masalah yang lainnya, dan terkadang kita terlena dengan salah satu masalah itu, hingga seluruh gerak dan pikiran kita hanya tertuju ke situ, kita lupa dengan masalah kita yang lain, dengan sikap yang seperti ini, masalah yang lain terbengkalai, dan dimungkinkan bisa menjadi masalah baru yang lebih serius lagi.

Saat kita dihadapkan pada beberapa permasalahan, jangan hanya terfokus pada satu titik, jangan terlena dengan rumitnya satu permasalahan, semua masalah butuh perhatian yang serius, semua masalah harus diselesaikan.

Launching dan Bedah Buku ”Never Ending Success”

Written by Sachdar Gunawan | Sunday, January 07, 2007 | , | 0 Comment »

Hari ini aku bangun agak pagi, setelah shalat subuh, dan mandi, aku persiapkan diri untuk segera berangkat ke kampus, rencananya hari ini aku akan menghadiri acara launching dan bedah buku “Never Ending Success”, sengaja aku datang ke kampus dulu karena sudah janji dengan teman LDK Kampus yang bernama Hidayat. Sekitar pukul 7 pagi aku berangkat dari rumah, dan sesampainya di kampus, aku sempatkan diri untuk sarapan bubur ayam sambil menunggu temanku datang.

Pukul 8.20 aku dan temanku berangkat dari kampus menuju tempat pelaksanaan acara, yaitu di Aula Universitas Negeri Islam Syarif Hidayatullah Ciputat, ini pertama kalinya aku ke kampus itu, dengan menggunakan Patas AC 76, dan dengan waktu kira-kira 45 menit kami sudah sampai tepat di depan kampus. kata pertamakali yang keluar dari mulutku adalah “subhanallah”, karena kampus ini cukup besar, selain itu lingkungannya juga cukup rapih dan bersih, memang ada beberapa fasilitas yang sedang direnovasi, tapi itu tidak mengurangi ketertiban lingkungan kampus. dengan sedikit tergesa-gesa kami mulai mencari aula tempat acara bedah buku dilaksanakan, karena dalam undangan tertera acara dimulai pada pukl 8.30, sedangkan saat itu sudah pukul 9 lebih 5 menit. Telat euy! Kami sama sekali tidak mengenal daerah itu, tapi kami lihat ada beberapa orang, yang sedang berjalan menuju kesuatu tempat, aku pikir tujuan mereka sama denganku, ternyata benar mereka menuju ke aula.

Sesampainya di sana kami mengisi buku tamu, lalu mengambil posisi tempat duduk 3 baris dari depan, karena aku lihat ada beberapa kursi yang masih kosong. Sepertinya acara belum dimulai karena masih menunggu moderator yang belum tiba, walah! Biasanya acara ditunda karena pembicara belum tiba, tapi kali ini beda, moderatornya yang belum tiba, hehehe.... akhirnya MC acara terpaksa bercuap-cuap untuk mengisi waktu, lucu juga sich… 2 MC ini berkelakar dengan kejayusan mereka, tapi itu membuat penonton tertawa, termasuk kami, hahaha…

Karena moderator belum tiba juga, dan waktu semakin siang, acara akhirnya dimulai, dan dimoderatori oleh MC, walah doble job nih, doble honornya juga dunk!hehe… setahuku acara ini diselenggarakan oleh Al-Banna Event Organizer yang bekerja sama dengan LDK Kampus STIS dan LDK Syahid UIN. Sesi pertama adalah bedah buku yang disampaikan oleh penulis sendiri, Budi Hartono, seorang penulis muda [kelahiran 1984], saat ini ia masih kuliah di STIS [Sekolah Tinggi Ilmu Statistik] tingkat III semester 5. Never Ending Success adalah buku keduanya setelah 1001 kekuatan cinta. Dan acara ini adalah pertama kalinya ia bicara di depan public untuk membahas buku hasil tulisannya sendiri, jadi wajar saja bila penyampaiannya masih agak kaku, tapi hari ini sepertinya ia sudah berusaha maksimal, dengan bahasa yang sederhana ia memaparkan secara global isi dari buku itu. Pohon adalah sumber inspirasinya, dan ini menjawab pertanyaanku kenapa di halaman depan buku itu bergambar pohon. Akar yang kokoh, tumbuh tiada henti, memberi tanpa batas, memaksimalkan diri, dan meninggalkan warisan yang berarti, itulah kurang lebih hikmah yang di ambil akh budi dari sebatang pohon. "Perumpamaan seorang muslim ialah seperti sebatang pohon kurma, apa yang kamu ambil darinya akan memberikan manfaat kepadamu."(HR. Ath-Tabrani dari Ibnu Umar ra.). Inspirasi dari sebatang pohon dan dengan referensi beberapa buku, akh Budi berhasil menciptakan satu buku yang sangat bernilai, Salut untukmu sahabat!

Sebelum memasuki sesi kedua, ada hiburan Nasyid yang dibawakan oleh Tim Nasyid dari LDK Syahid UIN bernama ah masa ups,.. maaf, maksudnya “HAMASYA” cukup menarik juga such sebagai penyegar mata dan jiwa, serta penghilang kantuk, karena sesi awal tadi sedikit hambar, dikarenakan penyampaian materi yang kurang greget, dan terlalu serius, hehehe… Tapi bisa dimaklumi lah….

Beralih ke sesi yang kedua, kali ini dibawakan oleh Ustadz Aris, aku pikir materinya sama dengan yang pertama, tetapi perkiraanku salah, materinya adalah Training Motivasi menuju sukses. Mata ini lebih membuka kelopaknya, telinga ini lebih teliti mendengarkan, dan otak ini lebih berkonsentrasi lagi, karena pembawaannya penuh semangat sekali, aku jadi teringat ketika mengikuti seminar leadership beberapa waktu lalu. Dengan lantang dan penuh percaya diri, trainer menyampaikan pemikirannya yang digambarkan slide-slide power point melalui laptop pribadinya, sungguh menarik sekali! Dengan beberapa simulasi sederhana, trainer berhasil memancing semangat penonton, tidak ada kantuk ketika ia bicara, isinya berbobot, bahasanya tegas dan mudah dimengerti, dan sangat mengena sekali. Terkadang ia mengeluarkan joke-joke [canda’an] ringan sebagai penyegar, sungguh kami seperti terhipnotis saat itu. Bahkan pada sesi tanya jawab, ada yang berkomentar, “Sungguh Dahsyat..!!”.

Sukses adalah perjalanan, bukanlah tujuan akhir. Niat, Yakin, Optimis, Antusias adalah beberapa point yang diperlukan menuju sukses. Diawali dengan niat yang baik, insya allah akan menjadi suatu hasil yang baik. Yakin berbeda dengan percaya, mungkin kita percaya kalau rekan kita bisa naik jabatan, kita juga percaya kalau diri kita dapat naik jabatan, tapi kita belum tentu yakin akan mencapai itu. Orang-orang sukses harus yakin terhadap apa yang ingin ia capai. Optimis berbeda dengan semangat, Optimis adalah semangat melakukan sesuatu dengan di imbangi oleh keyakinan yang kuat, dan hasil kolaborasi niat, yakin dan optimis ialah antusias, kita akan dengan senang hati melakukan prosedur atau tahap-tahap menuju kepada tujuan yang ingin kita capai. satu hal yang menarik saat trainer menutup materinya ialah ketika ia berkata “sampai jumpa di puncak kesuksesan”, dan sungguh menyentuh diri ini, membuatku lebih optimis dalam menjalani kehidupan.

Hari ini aku belajar banyak sekali, mulai dari teori sukses, hikmah sebatang pohon kehidupan, teori GEMA, apa yang kita pikirkan akan sama dengan apa yang kita dapatkan. Lalu belajar dari babi, yang anak-anaknya selalu menyusu pada tempat yang sama, di mana putting [maaf] induk yang terdekat dengan kepalanya adalah yang paling banyak mengandung air susu, serta banyak hal menarik lainnya. Aku sangat berterimakasih sekali terhadap panitia acara yang sudah mengundang, juga para pemateri yang hasil karyanya membuatku terinspirasi, apalagi gratis! Wuih… siapa yang nolak jadi pinter tapi gratis. Hehe…

Sampai jumpa di Puncak Kesuksesan!

[7 januari 2007]

Ngisi Waktu, belajar Blog ah..!

Written by Sachdar Gunawan | Saturday, January 06, 2007 | | 1 Comment »

Hari Sabtu ini aku habiskan waktu dengan bersantai di rumah, karena sepertinya fisik ini ingin di-istirahatkan, bila bersantai biasanya aku lewati dengan bersih-bersih, nonton televisi, membaca buku, menata hati, dan belajar sesuatu. Kebetulan di akhir desember tahun 2006 kemarin, aku membeli satu buku mengenai pengembangan diri, yang menurutku sangat bagus, judulnya Life Excelent menuju kepada hidup yang lebih baik. yang ditulis oleh Reza M. Syarief, seorang trainer motivasi dan leadership yang cukup terkenal. Untuk membaca buku ini tentunya butuh pemahaman yang dalam, karena aku membaca sambil memahami dan mengoreksi diri, jadi wajarlah bila baru 1 bab [sekitar 25 halaman] aku membacanya. Oleh karena itu Sabtu ini merupakan kesempatan yang baik untuk melanjutkan bacaanku tersebut. Inginnya sich menceritakan secara global mengenai buku itu, tapi karena aku belum tuntas membacanya, insya allah lain waktu aku akan membahasnya.

Dilain kesempatan aku sedang belajar sesuatu, saat ini aku tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang dibalik pembuatan blog. Mungkin diantara sahabat yang lain, aku bisa dibilang newbie [pemula], bukan karena baru tau blog, tapi baru memulai membuat blog, hehehe…! Sebenarnya sih sudah lama tau informasi tentang blog, tapi saat itu kurang tertarik, aku justru lebih tertarik dengan pembuatan website portal. Suatu ketika pernah muncul keinginan untuk menulis dan mempublishnya ke internet, jadilah menjelajah dunia maya lagi untuk mencari tutorialnya, hingga akhirnya menemukan satu blog milik seorang penulis yang membuatku jatuh hati kepada blog.

Berangkat dari niat yang tulus dan semangat ’45! walah.., aku mulai belajar setahap demi setahap mengenai blog, diantara blog yang didalamnya terdapat Tips Ngeblog antara lain blog milik
Mas Mario, Mas Sahid, dan Mas Didats. Tk’s ya! Trio Mas yang tutorialnya sangat berguna buat banyak orang. Bicara blog, sama dengan bicara HTML, CSS, JavaScript, serta PHP. Bukan hal baru sih buat aku, karena sebelumnya hobi juga ngoprek itu semua. Jutru untuk blog yang gratisan seperti blogspot dan wordpress lebih simple, hanya saja se-simple apapun klo tidak dipelajari mana kita tau! Betul tidak? Bagoooozz! Heheh....

Aku sangat terkesan sekali dengan tutorial yang ditulis oleh
Mas Didats, seorang web designer yang seumuran denganku ini cukup mahir bermain dengan CSS dan HTML, beberapa tutorialnya mengenai pembuatan Template membantuku untuk memahami lebih dalam script template milik blogspot, tempat aku membuat blog. Mempelajari CSS dan HTML membuatku membuka kembali tutorial yang khusus membahas itu, oprek..oprek dan oprek!

Hmm... tidak terasa sudah jam 3 sore,.. apa? Jam 3! waduh! Belum dzuhur...tuing..tuing! [dengan wajah memerah malu, beranjak dari tempat duduk untuk segera mengambil wudlu]

[6 Januari 2007]

Belajar dari Kematian (2)

Written by Sachdar Gunawan | Friday, January 05, 2007 | | 0 Comment »

Dimulai saat kita menghembuskan napas untuk yang terakhir kalinya, lalu kita tidak ada apa-apanya lagi selain “sebongkah daging”, tubuh kita yang diam dan terbujur kaku, akan dibawa ke kamar mayat. Di sana tubuh kita akan dimandikan untuk yang terakhir kalinya, dengan dibungkus kain kafan, jenazah kita akan dibawa ke kuburan dalam sebuah usungan atau peti mati. Sesudah jenazah kita dimasukkan ke dalam liang lahat, maka tanah akan menutupi kita, ini adalah kesudahan cerita kita di dunia. Mulai saat ini, kita hanyalah seseorang yang namanya terukir pada batu nisan di kuburan.

Selama berbulan-bulan atau tahun-tahun pertama, kuburan kita sering dikunjungi, namun seiring dengan berlalunya waktu, hanya sedikit orang yang akan datang. Beberapa tahun kemudian, tidak seorangpun yang datang mengunjungi kuburan kita. Sementara itu, keluarga dekat kita akan mulai mengalami kehidupan yang berbeda, yang disebabkan oleh kematian kita.

Di rumah, ruang , kursi dan tempat tidur kita akan kosong, setelah pemakaman, sebagian barang-barang milik kita akan disimpan di rumah; baju, sepatu, dan lain-lain yang dulu menjadi milik kita akan diberikan kepada mereka yang memerlukannya, berkas-berkas kita di kantor akan dibuang atau diarsipkan.

Selama tahun-tahun pertama, beberapa orang masih berkabung akan kepergian anda. Namun waktu akan mempengaruhi ingatan-ingatan mereka terhadap masa lalu. Empat atau lima dasawarsa kemudian, hanya sedikit orang saja yang masih mengenang kita, tak lama lagi, generasi baru muncul dan tidak seorang pun dari generasi kita yang masih hidup di muka bumi ini. Apakah kita diingat orang atau tidak, hal tersebut tidak ada gunanya bagi kita.

Sementara semua hal itu terjadi di dunia, jenazah yang ditimbun tanah akan mengalami proses pembusukkan yang cepat, segera setelah kita dimakamkan, maka bakteri-bakteri dan serangga-serangga akan berkembang biak pada tubuh kita; hal tersebut terjadi dikarenakan ketiadaan oksigen. Gas yang dilepaskan oleh jasad renik ini mengakibatkan tubuh jenazah menggembung, mulai dari daerah perut, yang mengubah bentuk dan rupanya. Buih-buih darah akan meletup dari mulut dan hidung dikarenakan tekanan gas yang terjadi di sekitar diafragma paru-paru kita. Selagi proses ini berlangsung, rambut, kuku, tapak kaki, dan tangan akan terlepas dari tempatnya.

Seiring dengan terjadinya perubahan di tubuh bagian luar, organ tubuh bagian dalam seperti paru-paru, jantung dan hati juga mulai membusuk. Sementara itu pemandangan yang paling mengerikan terjadi di sekitar perut kita, yaitu ketika kulit tidak dapat lagi menahan tekanan gas dan tiba-tiba pecah, menyebarkan bau menjijikkan yang tak tertahankan. Mulai dari tengkorak, otot-otot akan terlepas dari tempatnya, kulit dan jaringan lembut lainnya akan tercerai belai, otak juga akan mulai membusuk dan tampak menjadi seperti tanah liat. Semua proses ini terus berlangsung sehingga seluruh tubuh yang kita banggakan saat ini akhirnya menjadi kerangka tulang-belulang.

Tidak ada kesempatan untuk kembali kepada kehidupan yang sebelumnya, berkumpul bersama keluarga di meja makan, bersosialisasi atau memiliki pekerjaan yang terhormat, semuanya tidak akan mungkin terjadi lagi, singkatnya, ”onggokan daging dan tulang” yang tadinya dapat dikenali; mengalami akhir yang menjijikkan, dilain pihak, kita atau lebih tepatnya, jiwa kita akan meninggalkan tubuh ini segera setelah nafas kita berakhir, sedangkan sisa dari kita, tubuh kita akan menjadi bagian dari tanah. Akhir kehidupan yang sangat dahsyat yang menunggu manusia, manusia seharusnya menyadarkan dirinya bahwa ia bukanlah hanya tubuh semata, melainkan jiwa yang ”dibungkus” dalam tubuh, dengan lain perkataan, manusia harus menyadari bahwa ia memiliki suatu eksistansi di luar tubuhnya, selain itu manusia harus paham akan kematian tubuhnya yang ia coba untuk miliki seakan-akan ia akan hidup selamanya di dunia yang sementara ini. Tubuh yang diaggapnya sangat penting ini, akan membusuk serta menjadi makanan cacing suatu hari nanti dan berakhir menjadi kerangka. Mungkin saja hal tersebut segera terjadi.

Manusia yang diciptkan seorang diri haruslah waspada bahwa ia juga akan mati seorang diri, namun selama hidupnya, ia hampir selalu hidup untuk memenuhi segala keinginannya. Tujuan utamanya dalam hidup, hanyalah untuk memenuhi hawa nafsunya. Namun tidak seorangpun dapat membawa harta bendanya ke dalam kuburan. Jenazah kita dikuburkan hanya dengan dibungkus kain kafan yang dibuat dari bahan yang murah.

Tubuh datang ke dunia ini seorang diri dan pergi darinya pun dengan cara yang sama, modal yang dapat dibawa seseorang ketika mati hanyalah amal-amalnya saja. Teman sejati hanyalah amal!

[5 Januari 2006]

Belajar dari Kematian (1)

Written by Sachdar Gunawan | Thursday, January 04, 2007 | | 0 Comment »

Hari ini aku dikejutkan dengan berita duka yang diumumkan melalui soundsystem mushola dekat rumah, Innalillahi wa inna ilaihi Roji’un artinya “Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali”. Kalimat ini dinamakan kalimat istirja’ (pernyataan kembali kepada Allah SWT), dan disunnatkan menyebutkannya ketika ditimpa musibah, baik besar maupun kecil. Petang itu sekitar pukul 15.45, ba’da ashar pengurus mushola memberitahukan bahwa ayahanda dari temanku telah meninggal dunia. Hal ini mengingatkanku akan kematian, sejenak aku merenung, mengingat kembali dosa-dosa yang telah kubuat selama ini.

Kemudian aku bersama ayahku pergi melayat, jarak rumahnya dengan rumahku tidak begitu jauh, 3 menit lari! Ups,.. kidding, klo jalan kaki sekitar 5 menitan, sesampainya di sana, sudah banyak orang yang berkabung, tadinya mau langsung masuk ,tetapi setelah dilihat, sepertinya almarhum sedang dimandikan, setelah itu dibawa ke masjid terdekat untuk disholatkan. Setelah selesai, jenazah langsung dibawa ke Pemakaman Umum terdekat, sekitar 4km dari masjid.

Peristiwa itu sungguh membuatku berpikir. Muncul banyak pertanyaan dibenak ini. Bagaimana perasaan keluarga yang ditinggalkannya? terutama istri yang telah menemani almarhum semasa hidup, tentunya sangat sedih sekali, sedih boleh saja asal jgn terlarut oleh kesedihan apalagi sampai meratapi almarhum. Bagaimana jika posisi almarhum adalah diri kita? Sungguh sedih sekali jika semasa hidup, kita hanya bersenang-senang saja, waktu terlewat dengan sia-sia, dan banyak melakukan kemaksiatan.

Aku kembali teringat dengan materi Muhasabah saat mengikuti I’tikaf, Ramadhan kemarin, sesungguhnya setiap kita akan mengalami kematian. “Katakanlah: Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu. Kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), dia yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. 62:8). Tiap hari kita menyaksikan kematian orang lain disekitar, tetapi tidak memikirkan tentang hari ketika orang lain menyaksikan kematian diri kita. Saat ini mungkin kita bisa melakukan banyak hal; mengedipkan mata, menggerakkan badan, berbicara, dan tertawa, Sekarang mari renungkan bagaimana keadaan dan bentuk tubuh kita setelah kita mati nanti! Bersambung ....

[4 Januari 2007]

Sukses dan Kembang Api

Written by Sachdar Gunawan | Wednesday, January 03, 2007 | | 0 Comment »

Malam yang gelap, layaknya kehidupan yang tidak berterang, letupan kembang api berhamburan di angkasa, menggambarkan kondisi tahun berikut yang penuh warna. Hidup, seperti kembang api yang dinyalakan, beresiko, karena dapat meledak saat dinyalakan, terkadang dapat terbang, tapi tak berbunyi, ketika terbang, pupus dipertengahan

Untuk menghasilkan percikan yang indah dibutuhkan kembang api yang baik, sukses saat dinyalakan, dapat terbang, dan meledak di udara sehingga memancarkan bunga api yang indah berwarna. Sudah pasti untuk menciptakan kembang api yang baik proses pembuatannya harus baik, bahan-bahan yang dibutuhkan juga harus baik. Bubuk mesiu harus pilihan dan melalui proses yang tidak sederhana, kertas pelindung juga harus yang baik, tidak lembab dan harus dalam keadaan kering, sumbu yang dipakai juga harus pilihan karena ialah penyulutnya, sumbu yang tidak baik menyebabkan kembang api tidak menyala. Untuk menghasilkan warna-warna indah dibutuhkan formula khusus yang baik, sehingga saat sumbu habis dan mengenai mesiu, ledakan akan terjadi dan formula itu akan terpancar secara acak ke segala arah dengan warna-warna yang indah.

Orang-orang sukses tidak meraih kesuksesan mereka dengan hanya membalikkan tangan, atau bertepuk tangan, atau mengedipkan mata, banyak hal yang telah mereka lewati, tentunya fisik yang prima, ilmu yang memadai dan strategi perlu dikuasai. Ada yang kalah sebelum berperang karena termakan kepesimisan, ada yang gagal dipertengahan, ada yang gagal satu kali, 2 kali, bahkan ribuan kali, seperti Thomas Alfa Edison, ia berhasil menciptakan lampu pijar setelah mengalami kegagalan sebanyak 10.000 kali. Tapi berkat usaha yang gigih dan daya survive yang tinggi pada akhirnya kesuksesan itu teraih, dan manfaatnya dapat dirasakan oleh banyak orang seperti warna-warni bunga api yang terpancar indah menerangi angkasa.

Setelah satu kembang api telah dinyalakan, terbang, dan meledak di angkasa, apakah itu cukup? Agar malam kelam bisa berubah terang, kita akan terus menyalakan kembang api, seperti hidup ini, apakah setelah satu hal terpenuhi [baca;sukses] kita cukup sampai disitu? Tidak sahabat, Masih banyak hal yang perlu dilakukan, seperti artikel yang sebelumnya saya tulis, sukses bukanlah tujuan akhir, tapi suatu perjalanan. Hiasi hari-hari kita dengan kebaikan, tinggalkan hal-hal positif di dunia ini sebagai bekal kita di akhirat.

[3 Januari 2007]

Maraknya Peramal

Written by Sachdar Gunawan | Tuesday, January 02, 2007 | , | 0 Comment »

Satu keprihatinan lain yang mengusik saya, sehingga menstimulir tangan untuk menggoreskan tinta ini, ialah ketika maraknya acara-acara di media seperti televisi yang menghadirkan peramal-peramal yang menganggap diri mereka dapat melihat masa depan, para peramal kerap kali diundang untuk mengisi acara-acara reality show.

Dengan berakhirnya tahun 2006, seolah-olah hal itu dijadikan sebagai investasi bagi mereka yang berbisnis di bidang infotainment, tanpa mempedulikan dampak moralnya, mereka semakin menggencarkan bisnis mereka dengan menjadikan prediksi-predeksi para peramal sebagai head line acara. Entah disadari atau tidak, akibat dari ulah mereka itu dapat mempengaruhi keimanan seseorang, ini berkaitan sekali dengan keyakinan seseorang, ketika kita percaya kepada sesuatu selain daripada Allah SWT, saat itu juga kita telah melakukan dosa besar, karena itu merupakan perbuatan syirik, yang sangat dibenci oleh Allah SWT.

Dari sudut pandang lain saya juga melihat maraknya peramal yang diundang, menunjukkan kekhawatiran masyarakat akan masa depan mereka, mereka khawatir kehidupan mereka ditahun berikutnya akan mengalami ketidakberuntungan, mereka khawatir akan nasib mereka, mereka lupa bahwa rezeki, jodoh dan kematian sudah diatur oleh Allah SWT, kalaupun mereka mendapat musibah, itu adalah ujian untuk menguji keimanan mereka. Allah SWT berfirman, “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan…” (QS. Al-Baqarah:155), seluruh makhluk yang hidup di atas muka bumi ini, pasti akan mengalami ujian dan cobaan. Dalam hadits qudsi disebutkan, “Saya tergantung dengan persangkaan hamba-Ku” hadits tersebut mengisyaratkan kepada kita agar tidak berburuk sangka kepada Allah SWT, sesungguhnya musibah itu pada hakikatnya adalah bukan untuk menyengsarakan, tetapi ungkapan kasih sayang Allah SWT kepada kita, Rasulullah saw menegaskan: “Sesungguhnya jika Allah Ta’ala mencintai suatu kaum, maka ia akan mengujinya”

Tidakkah kalian para pengobral kerusakan moral sadar, kalian telah meracuni akidah generasi penerus bangsa, kalian telah mengotori mental aset para pemuda, kalianlah penyebab kebobrokan moral bangsa. Sadarlah akan tindakan kalian, janganlah kalian penuhi kebutuhan perut kalian dengan mengorbankan aset terbesar bangsa ini.

Hai… para orangtua, sudah sepantasnyalah kalian lebih perketat lagi pergaulan anak-anak kalian, jangan biarkan mereka masuk dalam kubangan Lumpur kesesatan.

Wahai sahabat-sahabatku, jagalah diri kalian, tahanlah diri kalian, jangan sampai terjatuh, dan masuk perangkap setan, sesungguhnya Allah SWT mengetahui apa yang terbaik untuk hambaNya. Wallahua’lam bishshowab

[2 Januari 2007]

Perayaan Tahun Baru, peluang atau jebakan?

Written by Sachdar Gunawan | Monday, January 01, 2007 | | 0 Comment »

Dibalik moment menjelang tahun baru, beragam aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat, mulai dari pesta di club malam yang rawan dengan free sex dan Drugs, kumpul di lapangan terbuka, tempat hiburan, menyaksikan konser musik yang seringkali memakan korban jiwa, di saat yang lain ada juga yang hanya melewatinya dengan tidur, berdua’an dengan sang pacar, dll. Saya mencoba memahami apa tujuan orang-orang merayakannya, apakah hanya sekedar acara penyambutan datangnya tahun baru dan perpisahan dengan tahun sebelumnya, atau hanya sebagai alasan untuk melaksanakan aktivitas bersenang-senang, bagi kaum hedonisme mungkin sudah bisasa, karena memang itu dunia mereka, tapi bagi mereka yang bukan? Apakah ini menjadi sebuah kesempatan untuk mengikuti jejak, meniru gaya hidup dan cara hidup kaum hedonis?

Ketika waktu menunjukkan pukul 00.00 yang menandakan berakhirnya tahun dan permulaan tahun berikutnya, disebagian tempat terompet berbunyi nyaring saling bersautan, kembang api berhamburan di angkasa, suara tawa terdengar ramai, saling mengucapkan selamat tahun baru, berpelukan, bahkan dengan yang bukan muhrimnya, apakah tidak sebaiknya mereka mengevaluasi diri mereka, menghisab diri mereka sebelum dihisab oleh Sang Pencipta, mereka tertawa saat dosanya bergelimangan.

Tapi di tempat lain, di masjid, musholla, sebagian dari kita yang masih sadar, sadar akan siapa dirinya, sadar akan perannya di dunia, sadar akan dosanya yang berlimpah, sedang menangis dalam indahnya shalat malam, mereka sadar bahwa diri mereka bukan siapa-siapa, selain hambaNya, mereka sedih akan keburukan-keburukan yang telah dilakukan, mereka prihatin akan diri mereka yang belum berarti apa-apa untuk sesama, tapi mereka berdo’a kepada Allah SWT agar diberikan kekuatan untuk memperbaikinya dan dengan rasa antusias yang besar, hati mereka cerah, secerah keoptimisan mereka menghadapi tahun berikutnya.

Semua yang diciptakan Allah SWT berpasang-pasangan, di mana ada keburukan, maka ada kebaikan, sampai kapanpun kebaikan selalu ada, keburukan juga tak akan sirna, itu merupakan sunatullah, hanya Allah SWT yang tahu waktu penghabisannya. Hal itu adalah tantangan dan pilihan bagi kita, tentunya orang yang bijak akan selalu berusaha memposisikan diri mereka pada kebaikan.

Aktivitas yang bersifat sia-sia seperti yang dilakukan kaum hedonis akan selalu ada, dan tidak akan hilang seiring pergantian tahun, mungkin hanya modelnya yang berbeda, bisa jadi lebih parah dari yang terjadi tahun ini, tapi jangan lupa, di masjid-masjid, atau musholla, akan lebih banyak lagi acara rohani yang akan dilaksanakan. Acara seperti, mabit, tasqif, ta’lim, tabligh yang berisi tausiyah-tausiyah penyegar rukhiyah, dzikir, dan shalat lail sebagai imunitas takwa, serta muhasabah yang akan menambah keimanan kita, akan semakin bertambah keberbagai pelosok dari tahun ke tahun.

Hai para sahabat! Berhati-hatilah, jangan sampai terjebak pada kenikmatan dunia, jangan masuk perangkap gemerlapnya perayaan tahun baru. Masih banyak cara yang baik untuk mendekatkan diri kita kepadaNya, Masih banyak orang-orang baik yang akan menyamankan kita untuk menerima hidayahNya.

[1 Januari 2006]