Pal Kilometer

Written by Sachdar Gunawan | Monday, May 28, 2007 | | 0 Comment »

Ini menyangkut persoalan motivasi. Kadang-kadang kita begitu bergairah dalam menghadapi sesuatu, dan terkadang sebaliknya seolah-olah bio-ritme kita berada di titik nadir. Berbicara masalah motivasi, orang sering mengacu pada tangga kebutuhan manusia yang ditawarkan oleh Abraham Maslow berturut-turut dari yang rendah : Kebutuhan fisik dan biologis – Kebutuhan akan rasa aman – Kebutuhan untuk diterima – Kebutuhan pemenuhan ego dan, - Kebutuhan memperoleh kesempatan realisasi diri. Frederick Herzberg, murid Maslow menyempurnakan theori gurunya dengan mengatakan bahwa tidak semua pemenuhan dari kebutuhan tersebut dapat menyebabkan orang termotivasi. Orang boleh dipenuhi 3 (tiga) kebutuhannya yang paling bawah namun bila dalam kesempatan yang sama rasa egonya diabaikan ia dapat menjadi sebaliknya, atau bahkan memberontak. Jadi menurut Herzberg, hanya dua kebutuhan yang paling atas yakni kebutuhan pemenuhan ego (Ini dapat dipenuhi dengan teknik yang dijelaskan dalam topik Pasang Selembar Stiker Imajiner) dan realisasi diri yang dapat bertindak sebagai factor motivasi yang riil.

Di dalam kehidupan sehari-hari kapankah kira-kira kita menjadi sangat bergairah atai bermotivasi? Umumnya pada saat-saat mencapai sesuatu yang paling kita inginkan. Seseorang misalnya menginginkan sebuah sepeda motor yang baru, dan ia memang benar-benar menginginkannya. Tetapi kemampuan keuangannya tidak cukup longgar untuk dapat memperoleh motor idaman itu dengan mudah. Iapun mulai menabung dan berusaha meningkatkan penghasilan. Dari waktu ke waktu impian tersebut semakin dekat menjadi kenyataan. Pada moment dekat mencapai tujuan itulah ia menjadi bergairah dan puncaknya akan ia rasakan pada saat sepeda motor tersebut dibelinya. Kehadiran motor itu memang dinikmatinya, berhari-hari bahkan berminggu-minggu namun yang jelas gairah memiliki motor tersebut pasti menurun sejalan dengan perputaran hari, dan akhirnya motor itu tinggal menjadi sekedar alat transportasi. Untuk menjadi bergairah kembali berkenaan dengan alat transportasi, ia harus menginginkan yang lain yang berada sedikit lebih tinggi dari jangkauan kemampuannya, seperti mobil misalnya.

Jadi memasang dan mengejar sasaran yang sedikit berada di atas kemampuan dapat digunakan sebagai cara mengembangkan motivasi. Cara ini seringkali Anton [rekan saya] gunakan pada saat mengendarai mobil di malam hari, dalam keadaan lelah atau kurang bergairah dan sedikit mengantuk. Pertama-tama ia perkirakan jarak yang harus ditempuh dan kebiasaan rata-rata, berapa lama biasanya ia bisa tiba di tujuan. Kalau jarak itu biasa ditempuh dalam waktu 90 menit maka ia pasang target untuk mencapainya dalam 75 atau 80 menit, lalu ia melihat dan memperkirakan waktu tiba di tujuan. Kemudian dipasang semacam “pal kilometer” (milestones) untuk melihat pencapaian sasaran dan kemajuannya pada lokasi-lokasi tertentu, misalnya digunakan kota-kota kecamatan. Setiap kali ia mencapai sasaran atau bahkan melebihinya, ia memperoleh gairah yang meningkat. Jadi kalau ditanya bagaimana caranya mencegah kantuk bila berkendaraan di malam hari, jawabannya sejujurnya memang : “Sedikit ngebut !”.

Pal kilometer juga dapat digunakan untuk merancang perjalanan hidup yang diinginkan. Di dalam kehidupan ini jauh lebih banyak orang yang menyesali waktu atau umur mereka yang telah berlalu. Mereka berandai-andai pada masalah yang telah berlalu : “Kalau saja saya dulu…..bla, bla, bla; tentu saya telah……..bla, bla, bla”. Penyesalan ini akan jauh berkurang apabila mereka menetapkan dengan jelas apa yang menjadi sasaran di dalam menjalani kehidupannya. Dari pada hidup seperti sebutir kelapa di tengah lautan yang tidak tentu kemana nantinya terdampar, tentu jauh lebih baik hidup seperti sebuah perahu yang jelas kemana arah yang ingin dituju. Perjalanan hidup ini dapat dirancang dengan membuat “pal kilometer” selang tiga atau lima tahunan dengan merumuskan hal-hal yang ingin dicapai di setiap palnya, dengan merumuskan berbagai aspek kehidupan seperti: pendidikan dan keterampilan, pekerjaan dan kehidupan profesional, keadaan ekonomi dan keuangan termasuk harta milik, kehidupan rumah tangga bersama suami/istri dan anak-anak, kehidupan sosial, kehidupan spiritual dan lain-lain. Apabila “pal kilometer” kehidupan ini jelas, selain membangkitkan gairah, ia juga akan bertindak selaku piranti pilot otomatis (Baca topik Berani Bermimpi dan Mengembangkan Imajinasi,) Peter M. Senge dalam bukunya The Fifth Discipline mengatakan bahwa dengan cara ini kita selalu punya creative tension.

Cobalah terapkan kiat ini secara iseng dan santai namun konsisten. Anda akan merasakan suatu perubahan yang cukup bermakna pada diri Anda.

Pengembaraan Jiwa

Written by Sachdar Gunawan | Friday, May 25, 2007 | , | 0 Comment »

Kecupan hangat mentari pagi, pada hari ini, menyemangatiku untuk melanjutkan perjalanan hidup. Mungkin itu merupakan kekuatan yang diberikanNya kepada diriku. Mungkin Yang Maha Kuasa, mengetahui bahwa memang saat ini aku membutuhkan kekuatan itu.

Aku merasakan kembali kekuatan itu seperti saat pertama kali bekerja di tempat ini.

”Inisiatif, jiwa visioner, orientasi masa depan, serta kritis.”

Memang sudah seharusnya aku bangun dari tidur panjangku [baca:stag] dan sudah semestinya aku menunjukkan jati diriku yang sesungguhnya. Bukan kepada siapa-siapa, tapi kepada diriku sendiri, kepada diri yang tidak akan pernah lelah untuk bergumul melawan pribadi negatifku.

Aku yakin pergumulan ini tidak akan pernah selesai, tapi aku harus tetap bertahan, aku tidak boleh lengah dari musuh abadiku.

Pengembaraan ini aku lanjutkan kembali dengan niat suci beribadah kepadaMu, semoga tidak menjadi ria bagi diriku. Karena harapanku hanya untuk mendapatkan ridhoMu.

Tinta hitam yang tertoreh dalam kertas putih, telah mencoreng reputasi hidupku. Ingin rasanya menghapus semua kurva buruk yang ada di kertas itu, tapi semua sudah terlambat.

Aku sadar aku telah terlambat, Tapi, buatku belum terlambat untuk membuka lembaran baru, dan mulai mengisi kertas itu dengan content yang baik, susunan yang rapih, dan dihiasi dengan warna cerah nan menarik.

Aku teringat dengan ucapan sahabat rasul :

”Cobaan terbesar bagi seseorang adalah, jika ia merasa dirinya tidak sedang mendapatkan cobaan, terlebih jika ia sangat gembira dengan cobaan itu. Mereka yang seperti itu, tidak akan terselamatkan oleh ketaatannya.” (Ibnul Jauzi Rahimahullah)

Percikan Permenungan

Written by Sachdar Gunawan | Wednesday, May 23, 2007 | , | 0 Comment »

Saat ini adalah titik permulaan hari baru. Hari ini diberikan kepadaku untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya menurut keinginanku. Apa yang kulakukan hari ini adalah sangat penting, oleh karena aku memulai suatu hari baru di dalam hidupku.

Bila hari esok tiba, hari ini akan lenyap untuk selama-lamanya, dan akan meninggalkan sesuatu sebagai hasil usaha itu. Aku berjanji kepada diriku bahwa apa yang ditukarkan itu adalah untuk kebaikan, kemajuan dan suksesku, agar aku tidak akan menyesali harga yang kubayarkan untuk hari ini.

Pikiran dan tingkah lakuku tenang dan segar. Aku menunjukkan keramahan kepada orang lain. Aku tolerans terhadap orang lain; terhadap kekurangan-kekurangan dan kesalahan-kesalahan mereka. Aku memandang sikap mereka dengan hati yang lapang.Aku berlaku dan bertindak seakan-akan apa yang kujadikan sasaranku pasti akan kucapai. Aku memang individu sesuai dengan idamanku, dan gambaran individualitas terpantul dalam setiap perbuatanku.

Aku tidak akan mengijinkan pertimbangan ataupun sikapku dipengaruhi hal-hal yang negatif atau pesimistis. Aku berusaha tersenyum sesering mungkin, sekurang-kurangnya beberapa kali dalam sehari.

Aku memberikan reaksi dengan cara yang tenang dan bijaksana dalam keadaan apapun. Kalaupun aku tidak dapat menguasai suatu keadaan, aku selalu akan berusaha memberikan reaksi dengan cara positif, terhadap fakta-fakta negatif sekalipun.

Akankah, refleksi perenunganku ini menjadi suatu nilai yang berguna untuk diriku? Tapi, yang terpenting adalah, bagaimana usahaku merealisasikan segala hal yang menjadi harapanku.

Seperti halnya, percikan air yang membangunkan masa tidurku [baca:stag], ketika butiran-butiran air itu memeluh wajah, mataku akan terbuka, dan mulai menyadari kondisiku saat itu, selanjutnya, apa yang harus aku lakukan, setelah percikan air itu membangunkanku?

Menumbuhkan Jiwa Yang Sehat

Written by Sachdar Gunawan | Monday, May 21, 2007 | | 0 Comment »

Masing-masing dari kita punya kesempatan hidup hanya sekali. Suatu saat entah kapan, kita akan meninggalkan dunia yang fana ini. Ketika berpulang, jasad kita dibaringkan sejenak di rumah duka. Orang-orang akan datang melayat, atau sebaliknya tidak datang melayat namun mereka yang pernah mengenal kita akan berkomentar tentang sumbangan yang telah kita berikan selama kita masih hidup. Sumbangan tersebut bisa positif, bisa juga negatif, semuanya tergantung dari, dan sekaligus terserah kepada diri kita masing-masing. Sekarang mari kita periksa dan renungkan sejenak, apa kira-kira komentar orang-orang ketika jasad kita berbaring di rumah duka sebelum dikebumikan. Mari kita renungkan juga kehidupan macam mana yang ingin kita jalani, yang bisa jadi akan dikenang oleh generasi penerus di masa yang akan datang.

Alih-alih berfokus pada kesadaran baru untuk menjalani hidup dengan cara berbeda, yang lebih sesuai dengan dorongan nurani kita yang paling dalam, mungkin sebagian dari kita kini terbelenggu oleh rasa bersalah, kenapa tidak dari dulu kita berpikir tentang keberadaan kita serta berpikir tentang pilihan-pilihan yang kita ambil dalam menjalani hidup ini. Rasa bersalah terkadang membuat sebagian dari kita merasa sesak, namun merasa sesak atau sebaliknya menjadi lapang sesungguhnya merupakan pilihan yang ada di tangan kita sendiri. Seperti halnya dengan dua orang tahanan yang sama-sama mendekam di dalam penjara. Di malam hari, dari balik jeruji besi yang seorang bersuka cita menikmati bintang-bintang di langit yang cerah, sementara yang lainnya bersedih menatap comberan berlumpur. Apakah kita merasa lapang dan bahagia atau sesak menderita, semua itu ada di dalam pikiran. Mereka yang arif memberi tahu kita bahwa sudah menjadi kodratnya bahwa manusia itu dapat berbuat salah. Iya juga ya, kita ini kan hanya mahluk ciptaanNya. Jadi, sepanjang kita bukan Tuhan – dan selamanya kita memang hanya ciptaanNya – maka kita tidak akan pernah luput dari kemungkinan berbuat salah. Lalu kenapa harus merasa sesak? Mari kita lupakan sembari mengambil pelajaran dari berbagai kesalahan yang pernah kita perbuat untuk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.

Ya, sesungguhnya di dalam diri kita terdapat jiwa-jiwa yang sehat yang selalu harus dipelihara agar tetap sehat. Mungkin kita telah melupakannya atau mungkin juga ia telah terdistorsi oleh berbagai bujuk rayu suara-suara yang berpusat pada kebendaan semata-mata. Hal-hal di seputar kebendaan itu sendiri bukanlah sesuatu yang tabu karena ia dapat memperluas jangkauan kita dalam berkontribusi. Orang yang lebih kaya sesungguhnya punya peluang yang lebih besar untuk berkontribusi.

Yang dapat menjadi masalah adalah jika kekayaan material tersebut digunakan untuk melindungi diri dari rasa tidak aman karena kita tidak yakin bahwa orang-orang masih dapat menerima keberadaan kita walaupun kita bukan orang yang kaya. Juga dapat menjadi masalah bila tanpa sadar kita menggunakan kekayaan material untuk menenangkan pikiran monyet yang gelisah dan selalu ingin menyuarakan lagu-lagu: “Punyaku lebih baik, dan lihat aku ini lebih kaya”.

Jiwa yang sehat akan tumbuh dalam keseimbangan, antara kehidupan material, sosial, emosional dan spiritual. Kita memang dapat menjadi kaya secara material dari apa yang kita hasilkan namun kita hanya dapat menjadi kaya secara batin dari apa yang telah kita berikan kepada orang-orang di sekeliling kita. Orang-orang bijak memberi kita petunjuk bahwa untuk menghasilkan sesuatu, mulailah dengan memberi. Barangkali istilah take and give sudah saatnya untuk diganti dengan give and get karena, konotasinya ada pada memulai dengan memberi.

Mungkin di antara kita bersikap skeptis: “Untuk diri sayapun masih kurang, mengapa pula saya harus memberikannya kepada orang lain?”. Anda tidak salah namun ada baiknya kalau kita mengubah cara berpikir dan mencoba mencari, apakah yang dapat kita berikan dan kalau kita selalu memberikannya kepada orang lain harta tersebut justru akan bertambah banyak? Jawabannya antara lain adalah: penghargaan dan rasa hormat, senyum yang tulus, pengetahuan yang kita miliki, dan lain sebagainya. Maka mulailah belajar mengembangkan lebih banyak senyum, senyum yang lebih tulus. Kita bisa mulai dengan tersenyum secara timbal balik kepada organ-organ di dalam tubuh seperti jantung, paru-paru, hati, ginjal dan lain sebagainya. Kita juga dapat mulai tersenyum secara timbal balik dengan pepohonan di sepanjang jalan yang kita lalui. Kita juga dapat tersenyum secara timbal balik kepada kupu-kupu yang bercanda-ria dengan bunga yang mekar mewangi. Dan akhirnya kitapun punya senyum dalam jumlah tanpa batas yang dapat kita berikan kepada siapa saja yang kita jumpai.

Memahami/Mengendalikan Ego & Menghargai Perbedaan

Written by Sachdar Gunawan | Tuesday, May 08, 2007 | | 1 Comment »

Seperti gurat-gurat sidik jari yang berbeda satu sama lain, demikian juga halnya dengan sifat-sifat, sikap dasar, karakter, bakat dan potensi yang ada pada setiap orang.

Sikap dasar, karakter dan pola pikir yang menjadi acuan utama dalam bertindak (yang disebut Mind-set) ini memberi kita semacam perintah-perintah di luar kesadaran: “Beginilah semestinya kita bertindak!”.

Tanpa sadar, seringkali kita melihat dengan kaca mata negatif perbedaan di antara kita dengan orang lain lalu kita bergumam di dalam hati: “Kok dia begitu? Mestinya begini dong!”. Dengan kaca mata negatif juga ego kita jadi terpancing ketika kita melihat kelebihan pada diri orang lain. Bagian Kanak-kanak pada diri kita merengek meminta dukungan dan pembenaran terhadap anggapan baku kita: “Punyaku lebih baik, aku lebih hebat dari dia”.
Begitulah “pikiran monyet” atau ego, tanpa kita sadari telah bersikap gelisah serta bertindak salah tingkah, dalam upaya melindungi harga diri sebagai “sosok pribadi yang bermartabat”. Dan tanpa sadar kita terobsesi mengubah orang lain, agar mereka punya cara pandang yang sama dengan kita.

Sekarang kita bisa melihat bahwa sejauh ini kita telah dicemari oleh “jiwa yang tidak sehat” atau ego yang tak terkendali karena tidak pernah diperiksa. Sekarang kita bisa melihat bahwa selama ini kita telah diganduli oleh “pikiran monyet” yang selalu meminta perhatian dan menuntut pembenaran.

Bila kita bisa melihatnya dengan jelas, tentu kita bisa memisahkannya dari diri kita. Dengan memandang dari jarak tertentu serta mengamati perbedaan antara diri kita yang sesungguhnya dengan “pikiran monyet’ yang selama ini kita gendong, sekarang kita bisa mempunyai kesadaran baru bahwa mulai sekarang kita bisa menjadi insan yang berbeda, yang tidak lagi terbelenggu oleh ego.

Kita tidak harus menghancurkan ego kita sendiri karena ia memang menjadi bagian yang tak terpisahkan dari diri kita. Kalau ia kita hancurkan maka kitapun akan ikut hancur bersamanya, melalui rasa bersalah dan rasa benci kepada diri kita sendiri. Yang perlu kita lakukan adalah berupaya menyadarinya serta menjinakkannya agar ia tidak lagi menjadi “monyet yang liar”. Kita dapat mengubahnya menjadi monyet yang baik dan jinak, sekaligus menjadi sahabat baik kita. Kepada monyet sahabat baik ini, kita bisa melakukan dialog dengan teknik suspending assumption, yang artinya “pikiran monyet” kita pisahkan, biarkan ia tergantung bebas di hadapan kita, lalu periksa dan amati secara berulang-ulang, mengapa ia seperti itu? Mungkin kita sampai pada kesimpulan bahwa ego tersebut tidak pernah atau tidak cukup mendapat nutrisi.
Mungkin kita dibesarkan dalam suasana yang kering akan pengakuan, penerimaan atau pujian. Berbagai prestasi telah kita raih, berbagai potensi telah kita kembangkan namun semua kejadian itu seolah-olah menjadi sesuatu yang sudah seharusnya terjadi, tanpa pengakuan atau pengukuhan. Maka jadilah monyet-monyet kita sebagai mahluk yang selalu lapar dan haus karena sesungguhnya iapun berhak mendapat pengakuan dan pengukuhan terhadap apa yang sudah ia hasilkan.

Apakah kita akan menunggu orang-orang di sekeliling kita memberi nutrisi kepada monyet sahabat kita? Mengapa kita harus menunggu? Mengapa tidak bertindak secara pro-aktif bahwa kita sendirilah yang harus memberi nutrisi kepada mereka? Sekaranglah waktunya untuk bertindak, tanpa harus menunggu orang lain. Mari kita cari berbagai potensi yang kita miliki. Mari kita cari berbagai kelebihan yang kita miliki sebagai pribadi yang memang unik dan berbeda. Mari kita jinakkan monyet yang gelisah: “Sini nyet, duduk manislah di dekatku. Mari kita periksa, apa saja potensi yang kita miliki. Mari kita periksa berbagai prestasi yang telah kita raih. Ya ampun, alangkah banyaknya hal-hal yang harus kita syukuri. Iya nggak nyet? Nah mari kita bersulang untuk semua itu, untuk kesejahteraan batin kita!”
Kalau Tuhan saja telah menciptakan hal-hal yang berbeda sebagai polaritas yang selalu hadir dalam alam dan kehidupan seperti laki-laki dan perempuan, siang dan malam, gunung dan lembah, dan lain sebagainya, mengapa pula kita berpretensi untuk memaksa sesuatu agar semuanya seragam atau tidak berbeda? Termasuk memaksakan kehendak agar orang-orang di sekeling kita punya pola pikir yang sama dengan kita. Dapatkah kita berpikir bahwa sebuah orkestra hanya terdiri dari biola saja, tanpa alat instrumen yang lain? Bukankah keindahan sebuah simfoni orkestra disebabkan oleh keberagaman instrumen yang digunakan, dalam harmoni kapan jenis instrumen tertentu harus bertindak semetara yang lain diam menunggu? Sebagai mahluk sosial kita tidak mungkin hidup tanpa menjadi pemain salah satu instrumen dalam orkestra kehidupan, baik dalam kehidupan professional, kehidupan keluarga maupun kehidupan bermasyarakat. Pertanyaan kita sekarang adalah, simfoni macam mana yang ingin kita mainkan?

Membina hubungan untuk sukses karier

Written by Sachdar Gunawan | Wednesday, May 02, 2007 | | 0 Comment »

Anda mungkin sering dengar anjuran yang mengatakan, untuk sukses dalam hidup, kita harus menjalin hubungan baik. Hubungan baik juga diperlukan untuk sukses karier. Langkah pertama menggunakan kontak untuk maju dalam karier adalah, mengumpulkan nomor telepon atau informasi, berikut beberapa cara mengumpulkan informasi, dalam acara bisnis ataupun pertemuan ramah tamah biasa.

Jujur dan jangan memaksa
Orang-orang tidak senang jika merasa dirinya diperalat atau dimanfaatkan. Saat memperkenalkan diri kepada orang lain, jangan memaksa dan jangan sombong. Coba bersikap terus terang dan tulus.

Percaya diri
Orang-orang senang berhubungan dengan orang yang percaya diri, yang bisa berjalan dengan kepala tegak. Mereka tak mau membuang waktu untuk orang yang tak punya tulang belakang

Selalu punya pendapat
Agar orang-orang percaya kepada anda, mereka terlebih dahulu harus respek kepada anda. Karena itu selalu lengkapi diri dengan informasi dan selalu tahu apa yang mereka bicarakan ketimbang pura-pura tahu atau menunjukkan sikap seakan anda tahu. Pendapat atau pandangan anda mungkin tidak sama dengan yang lain, tapi mereka akan menghargai anda karena punya pendapat atau pemikiran sendiri

Jangan Mematikan Percakapan
Jangan bicara terlalu banyak, jika anda sudah bicara selama beberapa saat dan sepertinya tak banyak lagi yang bisa dikatakan, tarik diri secara halus dan pindah ketempat lain. Anda pasti tak ingin membisu sambil memandangi orang yang baru anda kenal

Tinggalkan kesan baik
Pastikan untuk mengakhiri percakapan dengan membuat catatan yang baik. Misalnya no telepon yang bisa dihubungi atau informasi penting yang terkait dengan karir anda

Berbaur dan menyesuaikan diri
Dalam pertemuan ramah tamah, belajar berbaur dengan orang-orang di sekeliling anda dan menyesuaikan diri dengan mereka. Belajar berhubungan dengan orang lain sambil mempertahankan kepribadian anda. Anda pasti tak ingin menjadi bunglon yang mengubah dirinya sampai tidak dikenali

Jangan minta tolong
Kesalahan umum yang dilakukan orang-orang adalah terlalu cepat minta tolong. Anda akan dianggap lemah dan orang-orang tak akan buang waktu untuk jiwa yang rapuh tak berdaya. Mereka lebih menghargai orang yang percaya diri, yang mengandalkan kemampuan sendiri dan hanya minta informasi dan panduan. Tanya atau minta informasi atai tip akan membuat anda mendapatkan sesuatu yang lebih berarti ketimbang minta orang meletakkan sesuatu di piring anda

Selalu telepon balik

Minta informasi dan membantu. Bekerja dengan dua cara. Orang-orang senang membantu orang lain, tapi juga senang jika orang membalas dengan memberikan bantuan. Jika anda tidak menelepon balik, jangan harap mereka akan angkat telepon kali berikit ketika anda menelepon mereka.