Far orchid garden, fragrance perfume fragrance patch of land that only the area three times the grave, from the many stems that grow, only one menyumbulkan interest. Beside him, a small lotus furl dusk, menyumpil among the leaves, the colors are faded, revealing a red orchids ketidakberaniannya emulate it. Around the park, there are weeds and weeds creeping Setaman fence, including a black parasite, with a fierce mencaploki weak plants that hinder the roar towards orchids. Berduripun beautifully roses could not hold the foul parasite attacks.
Tourism struggle penjalar souls of creatures, a competition between grief and greed and freedom, bamboo setonggak broken, witness the history of wrestling in the park, silk war has started since the early decades ago, today is the culmination of ketragisan contemporary, eye each pendewa voiced soul park destroyer injustice, every soul horns represent the saboteur dissatisfaction claiming himself as ruler.
Until that evening, not one that penjalar him to the top mengangkasakan victory, they did not realize it later teraih victory was the beginning of the extinction of their civilization. Scapegoat who drove the situation to laugh with delight when the busy scrambling to penjalar littering the park that evening. Had been, the goats were pulled out of a perverse doctrine garden atmosphere into the hustle, just the soul penzina depravity carried away with the abstract, so that they become more and more insane with pride that only an ankle.
Milking menghiasai shedding tears of self-esteem self-centered actors, including some holding painful scream that memerih, cries spirit to hunt prey dominate the silence in the park. Is it a bullying, or just moral robbery, hmm .... apparently not, the situation was no more than a mere gratification of lust, lust is transformed into a big monster bearing hypocrisy. Monster has mastered every soul greedy perpetrators
Savage Garden
Written by Sachdar Gunawan | Friday, March 20, 2009 | Life Artikel, Puisi | 0 Comment »Sederhana itu Indah
Written by Sachdar Gunawan | Tuesday, March 27, 2007 | Life Artikel, Puisi | 0 Comment »Untuk merasakan kebahagiaan,
tidak harus dengan memiliki banyak
Lubang kecil dengan genangan air di tanah dan batu sebesar kepalan,
bisa dijadikan alat untuk menciptakan pemandangan kabur berkabut
Di dalam sekuntum bunga
terdapat alam semesta
Dalam sehelai daun,
bisa ditemukan keabadian
Dunia indah yang kita inginkan,
tidak jauh dari jangkauan
Bulan dan angin
mempunyai keheningan dan kedamaian
yang bernilai sama dari celah-celah dedaunan
atau pun dari balik gubuk bamboo.
Orang yang bisa menikmati kebahagiaan hidup
juga akan bisa memahami makna kehidupan
Sederhana itu,
bukan berarti tidak memiliki apa-apa
tidak berarti berada pada derajat yang rendah
bukan berarti tampil apa adanya
bukan karena rendahnya kualitas
Tapi,
Sederhana hanyalah sebuah pilihan,
Pilihan untuk menikmati kehidupan yang amat sangat singkat ini
Tentunya dengan cara yang tidak berlebihan
Ungkapan Hati Seorang Pecinta
Written by Sachdar Gunawan | Friday, March 23, 2007 | Curhat, Puisi | 0 Comment »Perbincangan malam itu,
akhirnya mengarah kepada hati.
Secara kiasan, telah terungkap isi hatiku,
harapanku untuk bersanding dengan dirinya,
keinginanku untuk membentuk keluarga dengannya.
tentunya dalam bahtera rumah tangga yang syar’i.
Secara istilah, terungkap juga isi hatinya,
harapan yang sama dengan yang ku punya.
Berat sekali mengungkapkan itu semua.
Suatu hal yang belum pasti itu, akhirnya tidak terbendung juga,
keluar dari mulutku dan dia.
Ada perasaan gembira,
tatkala misteri yang selama 7 tahun ini bisa terungkap.
Tapi,...
Hatiku sedikit gundah saat itu.
Aku belum siap berkomitmen,
Begitupun dirinya.
Lalu,...
Apakah kami harus melanjutkan hubungan ini,
dengan ikatan yang tidak semestinya?
Apakah kami harus mengambil resiko itu?
Uh...
Aku harus mengusir jauh-jauh pikiran seperti itu
Aku tidak boleh terpedaya oleh bisikan itu
Banyak PR yang harus aku selesaikan,
masih banyak persiapan yang harus aku lakukan.
Memang,...
sebelumnya kami saling berharap,
berharap dapat dipertemukan dalam mahligai rumah tangga.
Tapi,...
Kami sadar,
saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk mewujudkan itu semua.
Lalu kapan?
Tiga tahun ke depan adalah rencananya untuk melepaskan kesendirian.
Aku pun berencana menyempurnakan setengah dien ku, dalam rentang waktu itu.
Bukanlah suatu hal yang disengaja,
kami memiliki planning yang sama, walaupun alasan kami berbeda.
Ah...
Biar waktu saja yang menjawab,
Aku yakin Engkau telah menyiapkan yang terbaik untukku
Kalau memang ia adalah yang terbaik buatku,
Aku yakin harapan itu akan menjadi kenyataan.
Semuanya memang terungkap,
Tapi,..
Bukan berarti menjadikan hubungan kami semakin bebas.
Justru hal itu membuat resah hatiku.
aku khawatir hati ini tidak bisa kujaga.
aku khawatir penyakit ghurur menjangkiti jiwaku,
aku khawatir terlena karena senangnya hati ini,
aku khawatir ibadahku terkotori karena itu,
aku khawatir tidak bisa memprioritaskan hubunganku dengan-Mu.
Ya Allah,..
Kami hanyalah hamba-Mu yang biasa
Yang senantiasa berusaha menjaga hati,
Hati yang tidak pernah bersih dari kefanaan.
Kefanaan dunia yang hanya sementara ini.
Ya Allah,..
Jagalah hatiku
Jagalah juga hatinya
Jangan sampai perasaan diantara kami,
Melebihi rasa cinta kami kepada-Mu
Jangan sampai perasaan diantara kami,
Menjadikan kami lalai untuk beribadah kepada-Mu
Muhasabah.
Mtrmn, Maret 2007
Taman Angkara
Written by Sachdar Gunawan | Wednesday, February 21, 2007 | Life Artikel, Puisi | 0 Comment »Pergulatan wisata jiwa para makhluk penjalar, merupakan persaingan antara kedukaan dan keserakahan serta kebebasan, setonggak bambu patah, menjadi saksi sejarah pergumulan di taman itu, perang sutra telah dimulai sejak awal dasawarsa lalu, hari ini adalah puncak dari ketragisan semasa, mata jiwa tiap pendewa menyuarakan ketidakadilan perusak taman, setiap jiwa mewakili ketidakpuasan tanduk para penyabot yang mengaku dirinya sebagai penguasa.
Hingga petang itu, belum ada satupun penjalar yang mengangkasakan dirinya ke puncak kemenangan, mereka tidak menyadari kemenangan yang teraih nanti adalah awal dari kepunahan peradaban mereka. Kambing hitam yang mengemudikan situasi tertawa kegirangan tatkala para penjalar berebut ramai sampai mengotori taman senja itu. Sedari tadi, kambing-kambing itu mengeluarkan doktrin bejat yang membuat suasana taman itu menjadi hiruk, hanya saja para penzina jiwa terlena dengan kebejatan abstrak itu, sehingga, mereka menjadi semakin gila dengan keangkuhannya yang hanya semata kaki.
Perahan air mata menghiasai pertumpahan harga diri para pelaku angkara, diantaranya ada yang menjerit keras menahan pedih yang memerih, pekikan semangat untuk memburu mangsa mendominasi keheningan di taman itu. Apakah itu sebuah penindasan, ataukah hanya perampokan moral, hmm.... sepertinya bukan, situasi itu tidak lebih dari pemuasan nafsu belaka, nafsu yang menjelma menjadi monster besar berlambang kemunafikan. Monster itu telah menguasai tiap jiwa para pelaku angkara.
Perawan Senja
Written by Sachdar Gunawan | Monday, February 19, 2007 | Curhat, Life Artikel, Puisi | 0 Comment »Kesendirian yang menghampirinya tidak membuatnya gelisah, justru hal itu semakin menguatkan batinnya, sebenarnya ia tidak sepenuhnya sendiri, karena ia habiskan waktunya untuk beraktivitas, aktivitaslah yang menemaninya. ia selalu berbuat sesuatu yang bisa membuat hatinya bebas, bebas dari rasa kesepian, bebas dari kungkungan yang membingkai dirinya. Ia selalu berusaha melakukan sesuatu yang bisa berarti untuknya dan orang sekitarnya.
Ia adalah seorang yang egois, bahkan sangat egois, tapi egois dalam mempertahankan prinsipnya, prinsip untuk menjaga dirinya dari segala keangkaramungkaran dan kenistaan dunia, ia memayungi dirinya dengan iman, ia melindungi dirinya dari cinta picisan, yang hanya mempecundangi dirinya.
Sesuatu yang berharga yang terdapat pada dirinya masih utuh dan terjaga dengan baik, terbungkus dengan rapi, bak mawar yang terlindungi oleh durinya. Ia mempertahankan itu semua dengan menutup semua inderanya. Ia menutup matanya dari visual yang mengundang syahwat, ia menutup telinganya dari kebejatan nafsu manusia, ia menutup hatinya dari segala sesuatu yang mengundang birahi. Itu merupakan nilai lebih yang ada pada dirinya, dialah mutiara di dasar laut yang menjadi dambaan para pencari perhiasan dunia,
Sungguh tidak layak jika dirinya dibandingkan dengan wanita pasaran, yang mengobral diri mereka dengan gelimang harta atau tahta, sungguh dirinya tidak sebanding dengan para pengobral mahkota jiwa. Ia adalah sosok seorang kasih yang hanya memberikan cinta sejatinya kepada pasangan sejati. Ia hanya akan melepaskan mahkotanya kepada seorang adam yang sudah sah sebagai pasangan hidupnya di hadapan Tuhan.
Berapa banyak hawa yang sepertinya, berapa banyak hawa yang memiliki pesona sepertinya, mereka ada tapi tak nampak, mereka hanya terlihat jika kita menggunakan kacamata iman, dan tidak semua adam bisa memanfaatkan kacamata itu.
Benarkah dirinya menjadi minoritas di alam dunia ini? Bila seperti itu, alangkah sulitnya mencari insan sejati seperti dirinya. Tapi, tidak usah khawatir, wahai kaum adam! Kita harus yakin, jika kita berusaha menjadi yang terbaik, Tuhan akan memberikan kita yang terbaik juga.
Lelaki Pojok Teras
Written by Sachdar Gunawan | Wednesday, January 31, 2007 | Curhat, Life Artikel, Puisi | 0 Comment »Tidak tergubris sama sekali, ia malahan melanjutkan lagi tegakkan dari botol minuman yang ia cekik batang lehernya. Setegak cairan itu, memerahkan matanya yang templon, dan menundukkan lagi kepalanya yang pitak sebesar telinga culunnya. Terkadang ia sesendirian menangis sedu, mungkin terkilas bayangan istri dan anaknya yang meninggalkannya ketika ia sedang mabuk dulu. Tapi juga ia suka tertawa geli ketika melihat kucing bertengkar. Sungguh memilukan, entah apa yang terpikirkan oleh lelaki itu.
Baju yang kini melindunginya dari sengatan matahari serta guyuran hujan, sudah tidak terlihat lagi warna aslinya, bahkan aromanya pun bak bunga pengkuburan, bahkan lebih parah dari itu, seperti bau sampahan yang ada di samping dirinya. terakhir ia kenakan itu satu hari selepas istri dan anaknya meninggal. Mungkin baju itu mengandung kenangan yang amat dalam ketika keluarganya masih utuh.
Pandangannya menatap kosong ke arah depan, racauannya semakin pelan, mungkin karena kelelahan atau memang urat di lehernya sudah hampir putus. Akhirnya tidak ada seperah kata pun keluar dari mulutnya. Ia membisu sebisu jiwanya yang membeku, mungkin saat itu ada malaikat yang menatapnya. Tiba-tiba tubuhnya menggigil pelan dan semakin lama bergetar keras dan kencang, bahkan sampahan yang ada disebelahnya tumpah dan mengeluarkan isinya yang membau, kini ia tidak duduk lagi tapi telentang, badannya mengejang, mulutnya menutup pilu, dan pandangannya tertuju ke atap langit-langit halaman rumahnya, semakin lama matanya meredup dan akhirnya menutup, bersamaan dengan berhentinya getaran tubuh. Kini ia terbujur kaku, seperti patung yang bisu. Tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi pada dirinya, lelaki tua itu mati di pojok teras rumahnya.
Ketika Cinta Berbuah Duka
Written by Sachdar Gunawan | Monday, January 29, 2007 | Puisi | 0 Comment »Untuk sahabatku, yang sedang dipersimpangan jalan
Mana Senyum yang dulu terukir bersama lesungmu
Mana tawa renyah yang pernah menghiburku
Aku dengar ada kemurungan dibalik tetawamu
Aku lihat pandangan kosong dari mata lentikmu
Aku tanggap ada kekecewaan pada sikap lugumu
Sepertinya ada kesedihan yang sangat mendalam
Kaupun angkat bicara mengisahkan kepahitanmu
Semuanya mengenai kesetiaan yang menjadi kenangan
Keterlukaanmu meninggalkan bekas yang tak tersirat
Kesakitanmu memekik perih jauh di dalam lubuk hatimu
Kepolosanmu mengartikan sebuah kesederhanaan
Tapi bukanlah kebodohan yang bisa dipermainkan
Ketulusanmu pada cinta yang belum semestinya
Menorehkan aib yang berimbas pada kesucianmu
Walaupun ketidakberdayaanmu menghadapi nafsunya
Sadarlah, lelaki itu bukanlah yang terbaik untukmu
Ketika sayang berbuah cinta, dan cinta itu cinta buta
Maka mata hatimu akan ikut terbutakan olehnya
Keluarlah dari bingkai asmara derita itu
Kuburlah sedalam kau merasakan getirnya
Saatnya mencipta ruang baru untukmu
Saatnya membingkai indah kehidupanmu
Hidupmu bukan untuk kau sesali, tapi untuk kau lalui
Kesalahanmu bukanlah akhir dari kisah hidupmu
Saatnya kau pecahkan batu besar yang ada dihadapanmu
Saatnya kau bangkit dari keterpurukanmu itu
Berjuanglah wahai sahabatku!
Aku di sini mendukungmu!
Berdirilah teman baikku!
Aku akan mendampingimu!
Kerentanan Jiwa Berjiwa
Written by Sachdar Gunawan | Monday, January 15, 2007 | Curhat, Life Artikel, Puisi | 0 Comment »Ketika kita memutuskan untuk berdunia,
Ibarat berlayar ke awan penuh pekat,
Seperti kain putih yang tercoreng kotornya moral,
Saat batin kita terhimpit,
Dilema dalam mengambil pikir,
Gerak-gerik terkunci nafsu,
Saat itulah syetan tertawa menang.
Tapi itu hanyalah obyek tertantang,
Jikalau dalam hati kita hanya Allah SWT.
Kerentanan jiwa berjiwa,
Membuat insan menjadi nestapa,
Nafsu hanyalah yang berkuasa
Tapi bila sudah tergores pedang suci,
Tertera pena kebenaran,
Harapan akan terpangpang jelas mengokoh,
Mencairkan hati yang beku.
Menerangi gelapnya jiwa
Rindu yang tertahan
Written by Sachdar Gunawan | Thursday, December 28, 2006 | Curhat, Puisi | 0 Comment »[untuk sahabatku Bumi Maharani]
Saat kerinduan terendap berkarang
Kutermenung dalam kesendirianku
Tiada satupun pelipur lara
Hanya kenangan yang menemaniku
Walaupun kau bisu pada dirimu
sehingga burung2 tak lagi bernyanyi
tak akan mengubah rasa simpatikku
Aku tetap yakin, harapan itu masih ada
Ketika hasrat itu memuncak
Ku pejamkan mata hati
Berdo’a dengan batinku yang terdalam
Memohon kepadaNya
Tuk sampaikan rindu ini
[27 Desember 2006]
Pencarian diri yang tak berkesudahan
Written by Sachdar Gunawan | Thursday, December 28, 2006 | Curhat, Life Artikel, Puisi | 0 Comment »Di persimpangan terlihat seorang yang mencari diri,.
Perawakannya tidak gemuk, kuruspun tidak.
Tampak keangkuhannya saat ia berjalan
Tapi, Keramahannya pun terlihat saat ia berbicara
Citanya tinggi, melebihi kemampuannya
Keinginannya banyak dan terkadang melewati batas akalnya
Ia hanyalah Hamba yang penuh dengan keOptimisan
Tapi terkadang ia menjadi seorang yang pasif,
Tatkali dirinya menguasai jiwanya
Pergaulannya terbatas
Organisasi yang ia ikuti juga terhitung
Buku bacaannya sedikit yang bermutu
Padahal, sumber inspirasi banyak ia dapat dari itu
Ia selalu menuntut kesempurnaan
Tetapi berusaha untuk selalu proposional
Sikapnya itu nampak sekali dalam pekerjaan dan aktivitasnya
Bila beruntung sikapnya dapat mengangkat dirinya
Tapi saat sial, sikapnya menjadi cemo’ohan orang
Ia selalu memperbanyak teman
Dulu ia seringkali menjelajahi dunia maya untuk menambah relasi
Kini ia ikuti beberapa organisasi, dan group milist
Tapi sepertinya ia belum menemukan dirinya
Sampai kinipun ia terus mencari dirinya
Memang semua yang terjadi padanya tidak sia-sia
Mungkin tanpa disadari ia sudah menemukan dirinya
Hanya saja ke’egoisan dirinya lebih besar
Sehingga kepuasan tidak pernah ia dapatkan
[31 Oktober 2006]
September Kemarin
Written by Sachdar Gunawan | Thursday, December 28, 2006 | Curhat, Puisi | 0 Comment »Ku awali hari itu dengan galau hati
Penuh angan dan hayal yang tiada bertempuh
Dalam keriangan kuampikkan kepenatan
Berharap dapat meremajakan buah otakku
Dipertengahan, fisikku mengeluh lesuh
Tapi jiwaku berlari semangat
Hingga akhirnya kugapai puncak itu
Puas,,, Bangga...
Tapi perjalananku belum berakhir
Masih banyak yang harus diperjuangkan
Masih ada yang dikorbankan
Aku rindu saat-saat itu
Aku rindu saat kau lukis langit fajar
Aku rindu saat kau tundukkan mentari sore
Hingga nanti kunikmati lagi
Aku bersyukur padamu, Tuhanku
In Memorian...
September Kemarin...
Gunung Putri-Gede
8 – 10 September 2006
Anggi Chou Vs Sachdar
Written by Sachdar Gunawan | Thursday, December 28, 2006 | Life Artikel, Puisi | 0 Comment »Anggi chou say :
Jika perjalanan telah membuatmu merasa asing dan sepi. dan airmata telah kering, hingga duka hanya jadi salak anjing. maka biarkan matamu terpejam untuk sejenak, menutup pandangan akan peristiwa yang selalu ada dan menyakitkan. biarkan pikiranmu tertidur, melupakan masa lalu yang senantiasa menghantui dan ingin kau kubur di malam paling kelam.
biarkan semuanya mengalir pada sungai waktu, melewati labirin mimpi, melewati kefanaan penuh luka. biarkan.
tapi jika kelak kita kembali bertemu di persimpangan jalan itu, engkau harus jawab satu pertanyaanku: "dimana telah kau buang kisah itu?"
sachdar answer :
hidupku adalah proses yang sedang kujalani saat ini,. Perjalanannya bagiku sangat indah,. Seindah kumenikmatinya,. Walau kadang ranting,. Karang, kerap kali membuatku tersandung,.. tapi aku belajar dari itu,… sesuatu yang menyakitkanpun bisa menjadi ruang belajar yg efektif,. Untuk memperbaiki kealfaan diri.
Aku takkan bisa tidur jika pikiranku selalu melayang mencari kedamaian diri yang didamba,.. dan hingga akhirnya aku menemukan sendiri kedamaian yang hanya sebuah hayalan maya,. Tapi saat ini itu cukup bagiku.
Aku yakin dan percaya akan kekuatan dibalik suatu pertemuan,…. Aku rindu cerita itu,. Aku rindu tawa itu,.aku merindukan saat kau Tanya aku hidup untuk Siapa .,…
[8 Agustus 2006]
# kata-kata di atas tersusun ketika seorang temanku dengan id ”anggi chou” mencoba mengingatkanku untuk beristirahat atas keadaanku yang menurutnya penuh dengan keterasingan #
Jangan Katakan Sepi
Written by Sachdar Gunawan | Thursday, December 28, 2006 | Curhat, Puisi | 0 Comment »[untuk sahabat]
Jika Kau Sunyi Seorang diri
Jangan Bilang aku sepi sendiri
Namun Ucapkan Olehmu
Dirimu tetap bersamaku
Kuharap Engkau selalu manis
Walau Kehidupan ini Begitu Pahit
Kuharap Engkau Ridla
Walau seringkali, Kubuat Kau Membenciku,
Memarahiku, serta Mengecewakanmu
Moga Kau dan Aku selalu Mesra
Dalam Indahnya Persahabatan
[10 November 2005]
Dimanakah aku berada,..
Di suatu puing yang tak berbentuk
Di atas hayalan tanpa batas
Kebodohan itu muncul seiring hilangnya akal sehatku
Atau mungkin juga karna hasrat yang tak tertanding
Awal dewasa hingga saat ini, itu terjadi
Rasa sesalpun tiada terkira
Hatiku tunduh karenanya
Jiwaku rapuh tanpa satupun penopang
Siapakah penolongku ..?
Haruskah ku andalkan luar diriku,
Haruskah kutegas akan diriku sendiri
Yaa,… hanya diriku yang bisa
Sudah saatnya menentukan pilihan
Sudah waktunya membuat keputusan
Ya Allah…
Berikan aku kemudahan
Untuk meluruskan ketidakbenaran ini
[23 April 2004]
Message for Arum
Written by Sachdar Gunawan | Thursday, December 28, 2006 | Curhat, Puisi | 0 Comment »17 lilinmu kini telah menyala
menyalalah terang, menyinari hidupmu
akankah esokmu ada?
Jangan terlarut senang, ingatlah sedih
Karena esok bisa jadi kan lebih gelap
Jadikan hikmah hidup sebagai cermin
Kembangkan pribadi mandiri
Sebagai langkah kedepan
Menggapai angan, menuju cita
Met Milad....
Message For my Friend,
Arum
[2 Apri 2004]
Kugapai dasar sukma
Di mana kejujuran terendap berkarang
Ku tak memaki kesal
Ketika di sana tak kutemui ukiran namaku
Kumafhum, kumaklum siapa diriku
Rohku buruk termaham binar
Jasadkupun nelangsa pesona
Sungguh.. amat tak layak
Menyanding elok anggun jiwamu
Terasa tak pantas
Bertahta di singgasana emas cintamu
Karena itu..
Kubungkam rapat bibir relung ini
Agar bisik galau kalbuku
Tak terlantun menghampirimu
Kini cukuplah ku menjadi pemujamu
Ku kan jadi sang surya
Yang bersama rintik hujan
Kan melukis kepingan cantikmu
Di kanvas lekuk indah pelangi
[2 april 2004]
# ini adalah salah satu puisi favoritku, bahasanya sangat dalam, sungguh sang penulis menampakkan jiwa besarnya sebagai seorang yang tulus untuk merelakan apa yang dicintainya. Puisi ini aku kutip dari salah satu tabloid, hanya saja aku lupa tabloid apa dan siapa penulisnya, maka dari itu aku memohon maaf bila ada pihak yang tidak berkenan, dan kepada penulis aku meminta izin untuk menampilkan hasil karyamu di blogku. #
Saat kebisuan bicara
Terkaparku dalam sudut riangmu
Sunyi, senyap…
Ketika kerinduan merayap jauh
Ketika luluh hati berlabuh
Dalam satu pangkuan indah asaku
Di mana hati kita?
Kuharap jangan ada beda untuk satu indahnya
..cinta..
Roda terus berputar… melaju
Sedang hati kita tetap diam, tak bergeming
Miliki aku untuk indah, asa, cita dan cintamu
Tak muluk kuberharap
Tuk dapat mendengar gema hatimu
Tapi satu yang pasti
Hanya indahnya yang ada saat kau bersamaku
[2 April 2004]
Sobat,…
Kau datang saat kuduka
Mendengarkan keluh kesah hati
Kecewaku jika meninggalkanmu
Sesalku jika mencampakkanmu
Rasa Nyaman saat bersamamu
Bersenda gurau ciptakan opini
Bukan karena fisikmu
Bukan karena materimu
Tapi ketulusanmu itu
Yang membuatku menyayangimu
Janjiku untuk menjaga tali ini
Hingga kita beranak cucu
Sampai kita menjadi buyut
Semoga menjadi do’a yang didengarNya
[2 Apri 2004]
Anen’ [Kangen]
Written by Sachdar Gunawan | Thursday, December 28, 2006 | Curhat, Puisi | 1 Comment »Cukup lama kita tidak bertemu
Bertatap muka mengekspresikan diri
Hampa terasa tanpa hadirmu
Sepi sekali..... karena tawamu tak terdengar
Aku rindu candamu
Aku tak bisa melupakan senyuman itu
Sejak pertemuan terakhir itu
Terasa sesuatu yang hilang
Sesuatu yang penting dari hidupku
Aku tau itu sementara
Aku mengerti kau tak harus selalu ada
Tapi terkadang hati tak bisa tertutupi
Garis yang kutulis terasa putus tanpamu
Jalan yang kudaki terasa pupus dipertengahan
Memang itu hanya perasaan
Hanya istilah bahwa kau bergitu berarti
Suaramu saja tak bisa mengobati rindu ini
Hahahaha.... banyak sekali ceritaku untukmu
Dan akupun berharap ceritamu
Hingga nanti bertemu lagi
Saling berbagi, perasaan manis maupun pahit
Aku meyakini arti penting dari pertemuan
Dan kekuatan dibalik pertemuan
Tak bosan aku mengucap
Aku rindu kau,,..Sobat
[18 Maret 2004]
Message for Nia
Written by Sachdar Gunawan | Thursday, December 28, 2006 | Curhat, Puisi | 0 Comment »Dulu mungkin kau kecil dan lucu
Tingkahmu juga sangat lugu
Sampai-sampai hatiku tertawa dibuatmu
Sekarang mungkin kau masih lucu seperti dulu
Hanya saja, lugumu tertepis dewasamu
Pakaianmupun sudah tidak sekecil dulu
Hari ini mungkin bahagiamu
Tentunya jika kau merasa begitu
Karena semua tergantung pikirmu
Saat ini 21 Lilinmu telah menyala
Maaf, jika aku tak bisa beri apa-apa
Tapi satu yang pasti untukmu
“Met Milad..”
Message for my Best Friend
NIA QUR’ATUL ‘AIN
[10 Maret 2004]
