Pagi itu, di Danau Cibubur

Written by Sachdar Gunawan | Monday, March 26, 2007 | , | 0 Comment »



Suasana pagi di danau itu tenang sekali, di bagian utara pesisirnya, nampak segerumpulan anggrek taman dengan bunga yang merekah indah, di sekitarnya juga ada sekelompok eceng gondok yang turut meramaikan habitat tanaman air di pinggir danau itu. Angin yang berhembus di atas permukaan danau, menimbulkan gemirik air, seperti lantunan nada-nada alam yang sangat merdu, menghipnotis setiap jiwa yang haus akan ketenangan dan kedamaian hati.

Terlihat berbagai aktivitas di pesisir danau itu, ada yang sedang asyik bercengkerama dengan anak dan istrinya, ada yang sendirian berlari santai, ada juga yang hanya duduk termenung dengan pandangan jauh ke tengah danau itu. Di beberapa titik yang cukup nyaman, terlihat juga beberapa pasang muda-mudi yang duduk berduaan. Mereka hanya terdiam, sambil sesekali tersenyum ketika pandangan mereka bertemu, mungkin itu yang dikatakan bahasa asmara. Mereka membisu, tapi hati mereka saling berpagutan satu sama lain. Andaikan hubungan mereka itu telah diridhoi oleh-Nya [baca: nikah], mungkin asmara yang melambungkan hati mereka itu bisa menjadi lebih indah.

Aku sendiri serta beberapa orang kawan, asyik duduk di rerumputan hijau yang ada di pinggirnya. Dari tempatku duduk, terlihat riak gelombang air danau itu bergerak ke arahku karena tertiup angin dari arah yang berlawanan. Hal itu membuat dahan-dahan pohon yang mengambang di atas permukaannya terlempar ke pinggir danau. Sepertinya cara itu yang dilakukan danau untuk membersihkan sampah yang berada di atas permukaannya.

Bila dilihat disekitarnya, kondisi danau itu memang cukup bersih, dan terawat dengan baik, beda dengan kondisi danau sunter yang kotor dengan sampah-sampah yang tidak bisa terurai oleh lingkungan. Mungkin karena alasan itu, banyak pengunjung yang datang ke danau itu.

Semakin matahari meninggikan dirinya, semakin banyak orang yang datang ke pinggir danau itu. Memang suasananya tidak setenang pagi tadi, tapi berubah menjadi suasana ramai yang penuh dengan keakraban. Sepertinya, antusias para pengunjung yang ada, mengisyaratkan kegembiraan yang sangat. Mungkin pagi itu adalah waktu yang tepat untuk melepaskan penat selepas lelah beraktivitas selama 5-6 hari ke belakang. dan bisa jadi, pagi ini adalah saat yang tepat untuk melepaskan rindu bersama orang-orang yang kita sayangi.

Beberapa menit kemudian juga tampak puluhan perahu bebek tak bermesin, menjelajah pesisir danau bagian barat danau itu. Perahu itu digerakkan dengan putaran kipas, yang digenjot melalu pedal yang ada di bagian tengahnya. Setiap tiga puluh menit hingga satu jam, penumpang yang berada di dalamnya berganti, entah berapa rupiah uang yang dikeluarkan untuk mengganti jasa pengurus perahu itu, tapi aku memperkirakan sekitar lima hingga sepuluh ribu, sama seperti dengan tarif perahu bebek yang berada di danau Museum Minyak dan Gas Bumi, Taman Mini Indonesia Indah.

Sambil menikmati pemandangan alam sekitar, aku dan empat kawan sekolahku, bernostalgia, mengenang kembali kekonyolan-kekonyolan yang dulu pernah terjadi di tempat itu. Ketika kami sama-sama mengikuti Latihan Dasar Kepemimpinan OSIS, kental sekali masih teringat kejadian-kejadian yang menurut kami sangat berkesan. Saat aku salah menerima perintah dari kakak senior, sehingga aku harus merendam diri selama beberapa menit di pinggir danau itu. Serta saat temanku melanggar aturan, sehingga membuat dia harus menerima hukuman push-up di pinggir danau itu. Dan saat akhir acara, aku dan teman-temanku berhasil menceburkan ke danau itu, salah satu senior yang seringkali menghukum kami, untung saja tidak terjadi pertumpahan darah. Hahaha..... akhirnya kami tertawa bersama, andai saja, saat ini semua peserta kegiatan itu hadir di tempat ini, tentunya akan menambah keceriaan diantara kami.


0 Comment