Kebijakan seorang tabib

Written by Sachdar Gunawan | Monday, June 04, 2007 | | 0 Comment »

Alkisah, zaman dahulu, hidup seorang wanita muda bernama “lien” yang baru saja dipersunting oleh pemuda tampan. Ia tinggal serumah dengan orangtua si pemuda. Minggu-minggu awal, ia merasa nyaman tinggal di sana, tapi semakin hari, ia menjadi gusar, lantaran perbedaan paham antara ia dan ibu suaminya. Hampir setiap hari, ketika suaminya pergi bekerja, ia dan mertuanya berselisih, walaupun hanya dengan ucapan, tapi sungguh hal itu tidak mengenakan hatinya.

Bahkan suaminya, yang telah mengetahui hal itu, menjadi stress dibuatnya. Segala cara ia lakukan untuk mendamaikan istri dan orangtuanya, tetapi hasilnya nihil. Ego mereka sama-sama besar, sifat mereka sama-sama keras.

Pada puncak kekesalannya, lien berusaha untuk menyelesaikan masalahnya di rumah, ia teringat dengan seorang tabib, sahabat almarhum ayahnya. Hari itu ia segera ke tempat tabib itu.

Sesampainya di sana, ia menceritakan segala permasalahannya di rumah, dan ia meyakini bahwa jalan keluar satu-satunya, adalah menghilangkan nyawa ibu mertuanya.

Tabib, yang terkenal cukup bijak ini, memahami betul masalah yang dialami lien, ia menangkap bahwa, kedatangan lien kepadanya hanya untuk meminta racun untuk membunuh ibu mertuanya.

“hmm… bila kmu mau meracuninya, jangan dengan racun yang efeknya cepat, sehingga oranglain tidak ada yang curiga.” Ujar sang tabib.

“lalu, racun seperti apa, yang efeknya tidak cepat.” Ujar lien.

“tunggu sebentar,,,” kemudian sang tabib, masuk ke kamarnya dan mengambil sesuatu yang dikemas dalam botol kecil.

”kamu masak, masakan yang paling ibu mertuamu sukai, lalu taburkan ini” ujar tabib sambil memberikan botol kecil itu.

”dan satu hal lagi,.. agar tidak ada yang mencurigai bahwa kamu telah meracuninya, kamu harus bersikap baik terhadapnya”

Setelah menerima botol dan beberapa nasehat dari tabib, lien kembali ke rumahnya. Ia kembali dengan hati senang, karena tidak lama lagi, masalahnya di rumah akan segera selesai.

Sejak itu, sikap lien terhadap ibu mertuanya sangat baik. Kali ini lien tidak pernah menyanggah setiap perkataan ibu mertuanya, ia terlihat sangat sabar sekali. Ia juga seringkali membuat masakan kesukaan ibu mertuanya, dan itu membuat sikap ibu mertua terhadapnya juga berubah. Ibu mertuanya, tidak bawel seperti dulu, ia sangat menyayangi menantunya [lien] seperti anaknya sendiri.

Sejak itu, suasana kehidupan di rumah sangat nyaman, dan penuh kebahagiaan, karena satu sama lain sudah bisa saling menghargai dan menghormati. Lien pun merasa senang sekali, karena ibu mertuanya sudah tidak seperti dulu, kini iapun sangat menyayanginya. Tapi..... tapi ada satu hal yang membuat lien khawatir, ia akan merasa sangat bersalah sekali jika, racun yang setiap hari ia berikan kepada ibu mertuanya akan berdampak kepada kematian. Saat ini, ia tidak ingin ibu mertuanya meninggal. Kemudian ia segera mendatangi tabib yang dulu telah memberinya racun.

Lien menceritakan kondisi rumahnya saat ini, ia tidak ingin ibu mertuanya meninggal, karena saat ini ia sangat sayang sekali kepadanya. Ia ingin agar sang tabib memberikan obat penawar racun.

Tetapi, tabib hanya tersenyum, dan itu membuat lien merasa heran.

Sang tabib mengatakan bahwa, botol kecil yang dulu pernah ia berikan kepada lien, isinya bukan racun, tetapi hanya obat reumatik untuk manula. Ia sengaja melakukan itu, agar lien mau membuka mata hatinya, bahwa masih ada cara yang lebih mulia untuk menyelesaikan masalahnya di rumah.

Setelah itu, lien berterimakasih kepada sang tabib. Ia mendapatkan pelajaran yang sangat berharga sekali dari lelaki tua itu.


0 Comment